Kalahkan Keresahan dengan Cinta: Kisah di Balik Layar Hiburan
Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, lima pria paruh baya duduk melingkar, gitar akustik berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya. Udjo memejamkan mata, Yosi mengangguk pelan, sementara Tika,...
Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, lima pria paruh baya duduk melingkar, gitar akustik berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya. Udjo memejamkan mata, Yosi mengangguk pelan, sementara Tika, Gugum, dan Odie larut dalam alunan nada yang baru setengah jadi. Setelah lebih dari lima tahun tak melahirkan karya, Project Pop—grup vokal yang sempat mewarnai industri musik Indonesia dengan lirik jenaka namun penuh makna—kembali menyalakan api kreativitas. Mereka tidak kembali dengan lelucon segar, melainkan satu pengakuan jujur: keresahan. Single terbaru mereka, 'Kalahkan dengan Cinta', lahir dari kegelisahan menyaksikan dunia yang kian bising oleh kebencian.
'Kami merasa sudah terlalu banyak suara yang saling menghakimi. Musik adalah cara kami untuk mengingatkan, bahwa cinta bisa jadi jawaban,' ujar Yosi, mewakili rekan-rekannya, dalam sebuah wawancara usai rekaman. Bagi Project Pop, vakum panjang bukanlah akhir, melainkan jeda untuk meresapi apa yang sebenarnya ingin mereka suarakan. Dan ketika suara itu akhirnya keluar, bentuknya adalah sebuah lagu yang sederhana namun menusuk hati: jadikan cinta sebagai perlawanan paling elegan.
Menerjemahkan Keresahan Menjadi Melodi
Proses kreatif 'Kalahkan dengan Cinta' bukanlah perjalanan yang instan. Dimulai dari obrolan ringan di grup WhatsApp yang tiba-tiba berubah serius, Udjo mengirimkan potongan lirik yang ia tulis setelah membaca berita tentang intoleransi. 'Awalnya saya hanya ingin curhat. Eh, teman-teman malah bilang, ini bagus, lanjutkan,' kenang Udjo sambil tertawa kecil. Dari sana, benang merah mulai terajut. Mereka bertemu di studio kecil milik Tika, menghidupkan kembali mesin roland tua, dan membiarkan ide-ide mengalir tanpa tekanan tenggat waktu atau target komersial.
Yang menarik, Project Pop tetap mempertahankan ciri khas mereka: aransemen yang ceria, vokal yang bersahaja, dan lirik yang seolah menepuk pundak pendengar. Namun kali ini, ada lapisan emosi yang lebih dalam. Jika dulu mereka mengkritik dengan satire, kini mereka memilih merangkul dengan pesan kasih. Bagi para penggemar yang telah menunggu bertahun-tahun, kehadiran single ini bagaikan reuni yang menghangatkan dada. 'Kami tidak ingin menggurui. Kami hanya ingin berbagi rasa, bahwa sebagai manusia biasa, kami juga lelah dengan segala keributan,' tambah Tika.
Menerima Tantangan, Memerankan Sejarah
Di belahan lain dunia seni peran, Dinda Kanya Dewi tengah berdiri di persimpangan karier yang tak terduga. Dikenal publik lewat perannya di sinetron 'Cinta Fitri', Dinda terbiasa dengan karakter-karakter modern yang dekat dengan keseharian. Maka ketika Happy Salma—seorang seniman teater dan sastra yang disegani—menawarinya peran sebagai Nyai Ontosoroh, tokoh ikonik dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, Dinda sontak terkejut. 'Jujur, di awal saya kaget. Saya bahkan bertanya ke Happy, apakah kamu yakin?' cerita Dinda saat ditemui di Galeri Indonesia Kaya.
Keraguan itu wajar adanya. Memerankan Nyai Ontosoroh bukan sekadar menghafal dialog atau menangis sesuai adegan. Ia adalah simbol perlawanan perempuan pribumi terhadap kolonialisme, sosok yang cerdas, berani, dan menyimpan luka yang mendalam. Namun justru dari rasa kaget itulah Dinda menemukan gairah baru. Ia mulai membaca ulang novelnya, mendiskusikan subteks dengan Happy, dan menggali pengalaman pribadinya sebagai seorang perempuan. 'Saya merasa, setiap perempuan Indonesia sebenarnya memiliki serpihan Nyai di dalam dirinya. Tinggal bagaimana kita menemukannya,' kata Dinda, matanya berbinar. Proses ini membawanya pada pemahaman bahwa seni peran bukan hanya tentang menjadi orang lain, tetapi tentang menemukan diri sendiri melalui tokoh yang dimainkan.
Catatan Manis dari Panggung dan Kehidupan Nyata
Sementara itu, di layar kaca, Indosiar terus menyuguhkan Kisah Nyata Spesial, sebuah sinetron yang mengangkat cerita berdasarkan kejadian nyata. Setiap episodenya bukan hanya hiburan, melainkan cermin kehidupan: tentang perjuangan melawan kemiskinan, pengkhianatan yang memilukan, hingga keajaiban yang muncul dari keteguhan hati. Di sinilah titik temu antara fiksi dan realita—para penulis naskah, sutradara, dan aktor berusaha menghidupkan kembali kisah-kisah yang mungkin terlupakan, namun menyimpan pelajaran berharga. Banyak penonton mengaku, setelah menonton sinetron tersebut, mereka merasa tidak sendirian dalam menghadapi cobaan.
Di sisi lain, media sosial diramaikan oleh unggahan Ria Ricis yang tengah menikmati waktu bersama putri kecilnya, Moana, di Dubai. Potret liburan itu menyebar hangat: Moana yang tertawa lebar di atas perosotan, Ria Ricis yang mengecup pipi putrinya dengan latar gedung-gedung tinggi. Bukan soal kemewahan destinasi, melainkan tentang momen keibuan yang sederhana namun begitu jujur. Di tengah jadwalnya yang padat sebagai kreator konten, Ricis memilih menghentikan sejenak laju kehidupannya untuk memberi ruang bagi kebersamaan yang tak ternilai. 'Buat saya, liburan ini bukan soal pamer, tapi tentang menyimpan kenangan dengan anak sebelum dia besar,' tulisnya di Instagram.
Baik Project Pop yang menuangkan keresahan lewat lagu, Dinda yang menaklukkan rasa kaget demi sebuah peran, maupun Ricis yang merekam tawa anaknya di negeri orang, semuanya mengajarkan satu hal: bahwa seni dan kehidupan adalah dua sisi yang saling membentuk. Dari studio musik, panggung teater, lokasi syuting, hingga lensa ponsel seorang ibu—di sanalah cerita-cerita manusia lahir, bertumbuh, dan akhirnya, menginspirasi.
Comments (0)