Jurnalis Indonesia Meliput Piala Dunia 2026 dengan Perasaan Campur Aduk

JAKARTA — Meliput Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menjadi mimpi banyak jurnalis olahraga. Namun, bagi Hery Kurniawan, wartawan dar

Jul 18, 2026 - 03:02
0 0
Jurnalis Indonesia Meliput Piala Dunia 2026 dengan Perasaan Campur Aduk

JAKARTA — Meliput Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menjadi mimpi banyak jurnalis olahraga. Namun, bagi Hery Kurniawan, wartawan dari KLY Sports, pengalaman itu terasa pahit manis. Pasalnya, Indonesia hanya menjadi penonton di turnamen sepak bola terbesar dunia itu. Hery bergabung dengan puluhan jurnalis dari negara-negara non-peserta yang harus menahan rasa iri saat meliput laga-laga spektakuler tanpa warna tim nasional mereka.

Dalam perbincangan dengan sejumlah rekan sesama jurnalis, Hery mengungkapkan bahwa perasaan campur aduk itu justru menjadi motivasi tersendiri. "Kami tetap bekerja profesional, tapi ada getir saat melihat bendera negara lain berkibar. Ini jadi pengingat bahwa sepak bola kita masih perlu banyak perbaikan," ujarnya saat dihubungi dari Washington DC.

Kronologi Liputan: Dari Keberangkatan hingga Final

Berikut adalah rangkaian pengalaman Hery dan rekan-rekannya selama meliput Piala Dunia 2026, yang dirangkum dalam urutan waktu:

  1. Juni 2026 – Persiapan dan Keberangkatan: Hery dan tim tiba di New York tiga hari sebelum upacara pembukaan. Mereka harus beradaptasi dengan perbedaan zona waktu dan logistik berat, termasuk mengurus akreditasi khusus untuk 80 laga.
  2. 14 Juni 2026 – Laga Pembuka: Pada hari pertama, Hery meliput laga Amerika Serikat vs Argentina di MetLife Stadium. "Saya di tribun media, di sekeliling saya jurnalis dari 50 negara. Suasananya listrik, tapi saya sadar Indonesia absen," kenangnya.
  3. Juli 2026 – Babak Gugur: Saat tim-tim besar seperti Brasil dan Jerman tersingkir, euforia di media center meledak. Namun, Hery mengaku sempat menulis feature tentang kekecewaan suporter Indonesia yang hanya bisa nonton di kafe. Artikel itu mendapat respons viral.
  4. 18 Juli 2026 – Final di Stadion SoFi, Los Angeles: Puncak emosional terjadi saat final antara Prancis dan Maroko. "Saya duduk di samping jurnalis Maroko. Dia menangis saat negaranya kalah. Saya hanya bisa tepuk pundaknya. Di atas lapangan tim terbaik bertanding, di hati saya terus bertanya: kapan giliran Indonesia?" ujar Hery.
"Meliput Piala Dunia tanpa tim nasional sendiri seperti menonton pesta dari jendela. Anda bisa melihat semua kemeriahan, tapi tidak bisa ikut berdansa." — Hery Kurniawan, jurnalis KLY Sports

Data Penting: Jurnalis dari Negara Non-Peserta

Menurut catatan FIFA, sekitar 15% jurnalis terakreditasi untuk Piala Dunia 2026 berasal dari negara yang tidak lolos kualifikasi. Angka ini naik 5% dibanding edisi 2022. Indonesia sendiri mengirimkan 12 jurnalis dari berbagai media. Mereka harus bekerja ekstra untuk membuat konten relevan bagi audiens di tanah air. Tidak hanya melaporkan skor, mereka harus meramu sudut pandang yang membuat pembaca tetap terhubung meski tim nasional absen.

Hery menambahkan bahwa tantangan terbesar adalah menjaga objektivitas. "Saya harus menahan diri untuk tidak terlalu sering menyebut Indonesia. Tapi editor saya minta angle 'Andai Indonesia ada di sini'. Itu pekerjaan berat secara emosional," jelasnya.

Duka di Balik Layar: Tekanan Mental Jurnalis

Dalam forum diskusi informal di media center, beberapa jurnalis dari India, Filipina, dan negara non-peserta lainnya mengaku mengalami apa yang disebut "World Cup Loneliness Syndrome". Gejalanya meliputi rasa cemburu profesional dan kerinduan untuk merayakan kemenangan bersama sesama fans dari negara sendiri. Seorang jurnalis wanita dari India bahkan menangis saat meliput kemenangan Pakistan atas Bangladesh — sesuatu yang tidak mungkin terjadi di pertandingan negaranya.

Hery menutup perbincangan dengan pesan optimis. "Piala Dunia 2026 adalah kaca pembesar untuk kelemahan sepak bola kita. Tapi juga bisa jadi pemicu semangat kerja keras. Saya pulang dengan banyak catatan untuk perkembangan sepak bola Indonesia," pungkasnya.

[SOCIAL_TWEET]: Jurnalis Indonesia meliput Piala Dunia 2026 dengan haru—negara kita hanya penonton, tapi semangat tetap membara. Simak kisah lengkapnya di artikel ini. #PialaDunia2026 #JurnalisIndonesia #SepakBolaIndonesia[SOCIAL_TG]: 🏆 Meliput Piala Dunia tanpa tim sendiri? Hery Kurniawan cerita suka duka jadi jurnalis Indonesia di Piala Dunia 2026. Penuh haru dan motivasi! Baca sekarang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User