Aug 25, 2026
entertainment

Jeritan Diam Sang Multitasker

Di sudut kafe yang remang, pukul tujuh malam, seorang perempuan duduk termangu di hadapan laptop yang masih menyala. Cangkir kopi di sampingnya sudah dingin sejak dua jam lalu. Jari-jemarinya berhenti...

Jeritan Diam Sang Multitasker

Di sudut kafe yang remang, pukul tujuh malam, seorang perempuan duduk termangu di hadapan laptop yang masih menyala. Cangkir kopi di sampingnya sudah dingin sejak dua jam lalu. Jari-jemarinya berhenti di atas kibor, seperti kehilangan arah. Matanya menatap layar, namun pikirannya melayang entah ke mana. Ia bukan sedang malas. Ia hanya lelah—bukan lelah fisik yang bisa diobati dengan tidur, melainkan lelah yang menggerogoti dari dalam, yang tak kasat mata, yang lahir dari tuntutan untuk melakukan segalanya sekaligus.

Perangkap Zaman yang Memaksa

Kita hidup di era yang memuja efisiensi. Notifikasi berloncatan dari berbagai arah: pesan masuk dari grup kerja, email yang menuntut balasan segera, panggilan telepon yang tak bisa ditunda, dan tenggat waktu yang menghimpit. Semuanya terasa mendesak. Masyarakat modern mengajarkan kita untuk bangga menjadi multitasker—seakan kemampuan mengerjakan banyak hal dalam satu waktu adalah lencana kehormatan. Namun, di balik layar gemerlap produktivitas, tersimpan kisah-kisah sunyi tentang orang-orang yang perlahan kehilangan diri mereka sendiri, termakan oleh ilusi bahwa mereka bisa melakukan segalanya tanpa konsekuensi.

Nayla, 32 tahun, seorang manajer pemasaran di perusahaan rintisan, mengisahkan kesehariannya yang bagai komidi putar yang tak pernah berhenti. "Dulu saya bangga bisa sambil menyusun presentasi sambil menjawab chat klien, sambil makan siang, sambil mendengarkan keluhan tim," kenangnya dengan senyum getir. "Tapi lama-lama, saya lupa bagaimana rasanya fokus pada satu hal saja. Saya lupa bagaimana rasanya hadir sepenuhnya untuk diri sendiri."

Otak yang Dipaksa Berlari di Banyak Jalur

Apa yang sering disebut sebagai multitasking sejatinya hanyalah peralihan perhatian yang cepat. Otak manusia tidak dirancang untuk memproses banyak tugas kognitif berat secara bersamaan. Setiap kali kita melompat dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, ada "biaya peralihan" yang harus dibayar: waktu, energi, dan kejernihan mental yang terkuras. Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan ini justru menurunkan kualitas kerja, meningkatkan tingkat kesalahan, dan yang paling mengkhawatirkan, mengikis kemampuan kita untuk berpikir mendalam.

Bagi Mia, konsultan keuangan berusia 28 tahun, dampaknya jauh lebih personal. "Saya mulai menangis tanpa alasan yang jelas. Di tengah rapat, tiba-tiba saja dada saya sesak dan saya harus izin ke toilet hanya untuk bersembunyi," tuturnya lirih. "Dokter bilang saya tidak sakit apa-apa secara fisik. Tapi saya tahu jiwa saya yang sedang merintih. Saya kelelahan karena terus-menerus merasa harus tersedia untuk semua orang, setiap saat."

Kembali ke Satu Jalur, Menemukan Ruang Bernapas

Kisah-kisah seperti Nayla dan Mia bukanlah anomali. Mereka adalah potret dari jutaan orang yang terjebak dalam pusaran ekspektasi tentang serba-bisa dan serba-cepat. Namun, di tengah gelapnya kelelahan, selalu ada celah untuk bangkit. Jalan keluarnya bukan pada teknologi yang lebih canggih atau aplikasi manajemen waktu yang lebih rumit, melainkan pada keberanian untuk memilih: untuk berkata tidak, untuk memprioritaskan, dan untuk memberikan perhatian penuh pada satu hal di satu waktu.

Monotasking—fokus pada satu tugas hingga tuntas—mungkin terdengar seperti kemewahan di dunia yang serba cepat. Namun bagi mereka yang telah mencoba, langkah sederhana ini adalah penyelamat. "Saya mulai mematikan notifikasi saat mengerjakan satu proyek penting. Awalnya sulit, rasanya seperti ketinggalan kereta," aku Nayla. "Tapi setelah seminggu, saya merasa lebih tenang. Pikiran saya tidak lagi berlompatan ke sana kemari. Saya bisa mendengar isi kepala saya sendiri lagi."

Momen-momen mengharukan sering kali datang dari hal-hal yang paling sederhana. Ketika Mia memutuskan untuk meninggalkan ponselnya saat makan malam bersama keluarga, ia menemukan kembali rasa yang sudah lama hilang. "Saya bisa benar-benar mencicipi makanan. Saya bisa mendengar tawa anak saya tanpa distraksi. Saya merasa hadir kembali," ungkapnya dengan mata berkaca-kaca. "Itu adalah momen paling membahagiakan yang tidak bisa dibeli dengan jabatan atau bonus apa pun."

Sebuah Ajakan Lembut untuk Berhenti Sejenak

Multitasking mungkin akan tetap menjadi mantra di banyak tempat kerja. Namun, penting untuk diingat bahwa manusia bukanlah mesin. Kita memiliki batas, dan melampaui batas itu bukanlah bukti kehebatan, melainkan jalan pintas menuju kehancuran. Di balik setiap notifikasi yang berbunyi, di balik setiap tenggat yang mengejar, ada napas yang perlu dihela, ada denyut jantung yang perlu dijaga ritmenya.

Kisah ini adalah undangan untuk berhenti sejenak. Untuk melihat ke dalam diri dan bertanya: apa yang benar-benar penting saat ini? Mungkin jawabannya bukan terletak pada seberapa banyak yang bisa kita lakukan, melainkan pada seberapa dalam kita bisa merasakan setiap pengalaman yang kita jalani. Perempuan di sudut kafe itu akhirnya menutup laptopnya. Ia memutuskan untuk berjalan kaki pulang malam itu, tanpa headphone, hanya ditemani suara langkah kakinya sendiri. Sebuah langkah kecil menuju satu hal yang ia lakukan dengan sepenuh hati: hadir bagi dirinya sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User