Aug 26, 2026
entertainment

Kenangan Hangat dalam Semangkuk Telur Ceplok Santan Pedas

Pagi itu, suara percikan minyak dan telur yang mendarat di wajan besi memecah sunyi dapur kecil berukuran 2x3 meter. Aroma santan yang mulai mengental bercampur dengan wangi cabai merah yang ditumis p...

Kenangan Hangat dalam Semangkuk Telur Ceplok Santan Pedas

Pagi itu, suara percikan minyak dan telur yang mendarat di wajan besi memecah sunyi dapur kecil berukuran 2x3 meter. Aroma santan yang mulai mengental bercampur dengan wangi cabai merah yang ditumis perlahan menjalar ke seluruh sudut rumah. Di balik balutan asap tipis, seorang perempuan berusia lima puluhan tahun tersenyum tipis. Tangannya yang mulai keriput dengan cekatan membalik telur ceplok yang sudah berkulit kecokelatan, lalu menuangkan santan kental dan irisan cabai. Bagi banyak orang, ini mungkin sekadar telur ceplok masak santan pedas. Namun bagi Lastri, ini adalah mesin waktu yang membawanya pulang ke puluhan tahun silam.

Aroma Dapur Kecil yang Tak Pernah Pudar

Lastri lahir dan besar di sebuah dusun kecil di kaki gunung, tempat dapur masih berlantai tanah dan penerangan hanya mengandalkan lampu teplok. Ibunya adalah seorang buruh tani yang setiap hari bertarung dengan kerasnya hidup. Di tengah keterbatasan, sang ibu punya satu sihir kecil: telur ceplok masak santan pedas. Dengan bahan yang murah dan mudah didapat—telur dari ayam kampung tetangga, santan dari kelapa parut sisa, dan cabai dari kebun sendiri—ibunya menyulap penderitaan menjadi kehangatan.

“Saya masih ingat betul bagaimana Ibu menyusun satu per satu telur ceplok di atas piring seng, lalu menyiramnya dengan kuah santan yang masih mendidih,” kenang Lastri, matanya menerawang. “Kami empat bersaudara akan duduk melingkar, menyeruput kuah pedas itu dengan nasi hangat. Tak ada lauk lain, tapi rasanya seperti pesta.” Momen-momen itu mengajarkan Lastri bahwa kebahagiaan tak selalu lahir dari kemewahan. Cukup dari cinta yang diracik dalam panci kecil.

“Bau santan dan cabai yang menguap itu selalu jadi penanda bahwa meski hari sedang sulit, Ibu masih punya cara untuk membuat kami tersenyum.”

Perjalanan dan Rindu yang Menggumpal

Ketika beranjak remaja, Lastri nekat merantau ke kota besar. Ia bekerja sebagai asisten rumah tangga, lalu menjadi buruh pabrik. Di perantauan, ia mencicipi aneka makanan modern. Namun tak satu pun mampu menyamai rasa telur ceplok santan pedas buatan ibunya. Berkali-kali ia mencoba membuatnya sendiri di kamar kos sempit. Ia membeli telur, santan instan, dan cabai. Namun sesederhana apa pun caranya, hasilnya selalu terasa hambar. Ada yang hilang.

Setelah lima tahun tak pulang, kerinduan itu memuncak. Ia memutuskan kembali ke kampung. Ketika ia melangkah masuk ke dapur lamanya, ia melihat sang ibu yang sudah mulai membungkuk masih berdiri di depan tungku yang sama. Tanpa banyak bicara, ibunya menggoreng telur, memeras santan, dan mengiris cabai dengan gerakan yang begitu familier. Air mata Lastri jatuh saat sesendok kuah santan pedas itu menyentuh lidahnya. Semua kenangan masa kecil mengalir deras. Ternyata, yang selama ini hilang dari racikannya adalah tangan yang berdoa, hati yang mengasihi, dan kesabaran yang tak terbatas.

Meneruskan Rasa untuk Generasi Berikutnya

Kini, Lastri telah menjadi seorang ibu dan nenek. Dapur kecilnya di pinggiran kota selalu penuh dengan wanginya rempah. Menu telur ceplok masak santan pedas menjadi warisan tak tertulis yang ia turunkan pada anak dan cucunya. Setiap akhir pekan, ia akan memasak menu ini dan memanggil seluruh anggota keluarga. Di meja makan yang sederhana, cerita tentang buyut mereka—sang perempuan tangguh di dapur berdinding gedek—mengalir tanpa henti.

“Saya ingin cucu-cucu saya tahu bahwa makanan bukan sekadar pengisi perut. Dia adalah cerita, dia adalah pelukan yang tertunda,” ujar Lastri sambil menyuapi cucu bungsunya. “Dalam setiap suapan telur ceplok santan pedas ini, ada doa dan perjuangan buyut mereka. Saya ingin mereka tumbuh dengan ingatan rasa yang penuh cinta.”

Di tengah gempuran makanan cepat saji dan tren kuliner yang silih berganti, sepiring telur ceplok masak santan pedas tetap berdiri tegar. Bukan karena ia lezat semata, melainkan karena di baliknya tersimpan sejarah keluarga yang berharga. Bagi Lastri, setiap kali ia memasak, ia bukan hanya meracik bumbu dapur—ia sedang merangkai ulang benang-benang kenangan yang mungkin kelak akan menjadi pegangan anak cucunya saat menghadapi dinginnya dunia. Sebuah sajian sederhana yang ternyata mampu menghangatkan jiwa lintas generasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User