Aug 25, 2026
entertainment

Jejak Emosi di Balik Syuting Berbagi Suami 2.0

Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, seorang aktris duduk mematung. Tangannya menggenggam naskah yang sudah lusuh, halaman-halamannya dipenuhi coretan stabilo warna-warni. Matanya berkaca-kaca, b...

Jejak Emosi di Balik Syuting Berbagi Suami 2.0

Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, seorang aktris duduk mematung. Tangannya menggenggam naskah yang sudah lusuh, halaman-halamannya dipenuhi coretan stabilo warna-warni. Matanya berkaca-kaca, bukan karena arahan sutradara, melainkan lantaran dialog yang baru saja ia baca begitu terasa nyata di dadanya. Sebuah keheningan panjang menyelimuti ruangan sebelum kru kamera akhirnya memecahnya dengan aba-aba lembut, “Siap, ya, Mbak. Kita ambil dari sini pelan-pelan.”

Begitulah sepenggal momen yang mewarnai proses syuting Berbagi Suami 2.0, sekuel dari film yang dua dekade silam sempat mengguncang percakapan publik tentang poligami. Kini, sutradara Nia Dinata kembali menyelami tema yang sama, namun dengan pendekatan yang lebih dewasa, lebih intim, dan—menurut sejumlah kru yang terlibat—jauh lebih personal.

Lebih dari Sekadar Adegan

Proses pengambilan gambar kali ini bukan hanya soal teknis. Bagi banyak pemain, membaca ulang naskah yang ditulis oleh Nia dan tim penulisnya adalah seperti berkaca pada luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Salah satu aktris utama, yang berperan sebagai istri pertama, mengisahkan bagaimana dirinya perlu menarik napas panjang setiap kali harus melakoni adegan konfrontasi. “Saya seperti mendengar suara ibu saya sendiri di dialog itu,” ujarnya di sela-sela jeda syuting, suaranya hampir tak terdengar. “Bukan marah, tapi ada rasa pasrah yang menyakitkan.”

Lokasi syuting yang dipilih pun jauh dari kesan glamor. Sebuah rumah sederhana di pinggiran Jakarta menjadi saksi bisu bagaimana para aktor dan kru bahu-membahu menciptakan dunia yang terasa akrab, lengkap dengan aroma dapur dan suara knalpot motor yang sesekali bocor ke dalam pengambilan suara. Justru ketidaksempurnaan itulah yang membuat setiap bingkai terasa hidup. “Kita nggak mau menciptakan ilusi yang terlalu bersih. Hidup itu berantakan, dan poligami seringkali menyimpan kekacauan yang bisu,” tutur sang sutradara di balik monitor.

Membangun Empati Tanpa Menghakimi

Yang membuat Berbagi Suami 2.0 menonjol dari pendahulunya adalah komitmen untuk tidak menyajikan hitam-putih. Para pemain diajak mendiskusikan latar belakang karakter mereka hingga ke detail paling remeh: bagaimana cara mereka menyeduh kopi untuk suami, apa warna kesukaan anak-anak mereka, dan lagu apa yang sering mereka putar saat merasa kesepian. Pendekatan ini melahirkan pemahaman bahwa tidak ada pihak yang sepenuhnya benar atau salah dalam konstruksi rumah tangga poligami.

Seorang konsultan psikologi keluarga bahkan dihadirkan di lokasi syuting. Bukan untuk mengoreksi akting, melainkan untuk menjadi teman bicara bagi para aktor yang kerap terbawa emosi. “Ada hari di mana kami harus berhenti syuting karena satu pemain tiba-tiba menangis tersedu-sedu setelah adegan selesai. Itu bukan akting lagi. Itu pelepasan,” ungkap asisten sutradara sambil mengingat momen mengharukan tersebut.

Di balik layar, Nia Dinata tampak lebih tenang dan reflektif dibandingkan saat menggarap film pertamanya. Ia sering terlihat duduk bersama sinematografer, mendiskusikan bagaimana cahaya matahari sore yang masuk melalui jendela bisa menyimbolkan harapan yang mulai redup. Setiap detail visual dirancang untuk memperkuat narasi tanpa perlu banyak kata. Perjalanan ini bukan hanya tentang pembuatan film, melainkan juga tentang bagaimana seni bisa menjadi medium untuk menyentuh luka-luka yang selama ini terpendam.

Ruang bagi Suara yang Tersembunyi

Salah satu aspek paling menantang selama syuting adalah pengambilan adegan yang melibatkan anak-anak dalam keluarga poligami. Tim produksi sengaja melibatkan anak-anak aktor sungguhan untuk menghadirkan dinamika yang lebih natural. “Mereka enggak pura-pura. Ketika mereka berebut mainan atau saling berbisik, itu benar-benar spontan,” kenang seorang kru. Momen-momen kecil semacam ini menjadi pengingat bahwa di balik segala kompleksitas, selalu ada hati yang harus dijaga—terutama hati anak-anak yang sering kali menjadi korban paling sunyi.

Syuting berakhir setelah berbulan-bulan, namun kesan yang ditinggalkan jauh melampaui hitungan hari produksi. Ada semacam kelegaan sekaligus kehilangan yang dirasakan banyak orang. Seorang penata artistik berkata sambil tersenyum getir, “Saya merasa seperti baru saja keluar dari rumah seseorang yang telah saya kenal seumur hidup.” Itulah barangkali kekuatan terbesar dari Berbagi Suami 2.0: ia tidak sekadar menceritakan, melainkan mengajak penonton untuk berdiam bersama perasaan-perasaan yang jarang berani diakui.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User