Oct 15, 2026
entertainment

Jalan Berliku Nur Rohmah dan Gugatan Rp1 M yang Tak Menemukan Titik Terang

Di sebuah ruang mediasi yang pengap, di lantai sekian sebuah kantor pengadilan, Nur Rohmah duduk dengan tangan terlipat di pangkuan. Matanya lurus menatap meja kayu panjang yang memisahkan dirinya dar...

Jalan Berliku Nur Rohmah dan Gugatan Rp1 M yang Tak Menemukan Titik Terang

Di sebuah ruang mediasi yang pengap, di lantai sekian sebuah kantor pengadilan, Nur Rohmah duduk dengan tangan terlipat di pangkuan. Matanya lurus menatap meja kayu panjang yang memisahkan dirinya dari perempuan yang dulu pernah ia layani setiap hari. Di seberang, Rien Wartia Trigina — yang lebih dikenal publik sebagai Erin — tampak tenang, ditemani kuasa hukumnya. Tak ada senyum, tak ada sapa. Hanya keheningan yang kian menebal ketika mediator membuka pertemuan itu dengan satu pertanyaan sederhana: masih adakah ruang untuk berdamai?

Jawabannya, seperti yang kemudian mengapung ke permukaan, adalah tidak. Perundingan yang digelar untuk mencari titik temu atas gugatan senilai Rp1 miliar itu berakhir tanpa kesepakatan. Nur Rohmah, mantan asisten rumah tangga yang pernah mengabdikan tenaganya di rumah tangga Erin, harus menelan kenyataan bahwa jalur damai yang ia harapkan tak kunjung membuahkan hasil. Ia keluar dari ruangan dengan langkah berat, ditemani seorang kerabat yang sejak awal setia mendampingi.

Ketika Pengabdian Berujung Sengketa

Kisah ini bermula dari hal-hal yang terasa sepele bagi banyak orang: perintah harian, jam kerja yang panjang, hingga kepercayaan yang perlahan retak. Nur Rohmah mengisahkan bahwa selama bekerja, ia sering kali menjalani rutinitas yang jauh melampaui kesepakatan awal. Ada hari-hari ketika ia harus bangun sebelum fajar dan baru bisa berbaring jauh setelah tengah malam. Ada pula masa ketika ia merasa diperlakukan bukan sebagai pekerja, melainkan sebagai sosok yang serba salah.

“Saya hanya ingin keadilan. Bukan untuk balas dendam, tapi supaya apa yang saya alami tidak terulang pada orang lain,” ujarnya lirih, seperti dikutip dari keterangannya kepada awak media.

Kalimat itu sederhana, namun menyimpan beban panjang. Di balik gugatan Rp1 miliar yang angka-angkanya terkesan mencengangkan, tersimpan perjalanan batin seorang perempuan yang merasa telah menyerahkan sebagian hidupnya untuk orang lain, lalu kehilangan martabatnya di tengah jalan. Angka itu bukan sekadar nominal, melainkan cara Nur Rohmah menghitung luka: upah yang ia rasa belum tuntas, waktu yang tak bisa dikembalikan, dan harga diri yang harus ia perjuangkan kembali.

Mediasi yang Tak Menemukan Jalan Tengah

Mediasi sejatinya dirancang sebagai ruang paling manusiawi dalam proses hukum — tempat dua pihak bisa berbicara dari hati ke hati tanpa harus saling menyerang. Namun dalam perkara ini, ruang itu justru menjadi dinding yang memisahkan. Menurut pihak Nur Rohmah, tak ada tawaran yang dianggap cukup memadai. Dari sisi Erin, melalui pernyataan kuasa hukumnya, disebutkan bahwa tidak ada dasar yang cukup untuk memenuhi tuntutan tersebut.

Seorang penasihat hukum yang mendampingi Nur Rohmah mengungkapkan bahwa sejak awal proses, pihaknya telah berupaya menempuh jalan damai. “Kami sudah membuka pintu selebar-lebarnya. Tapi kalau pintu itu tidak pernah dijawab, kami harus melanjutkan langkah hukum,” katanya dalam konferensi pers usai mediasi.

Buntu — satu kata yang mungkin paling tepat menggambarkan situasi ini. Bagi Nur Rohmah, kegagalan mediasi berarti perjuangannya belum usai. Perkara ini akan bergulir ke ranah persidangan, tempat argumen dan bukti akan diuji, dan tempat kisah pribadinya akan menjadi bagian dari catatan resmi.

Merawat Mimpi Kecil di Tengah Badai

Di balik hiruk-pikuk sorotan kamera dan sorotan publik, ada hal yang jarang disorot: bagaimana Nur Rohmah menjalani hari-harinya setelah gugatan itu mencuat. Ia mengaku sempat kehilangan arah. Ada malam-malam ketika ia hanya bisa menangis, mempertanyakan apakah perjuangannya sepadan. Namun dari situ ia bangkit, perlahan tapi pasti.

Ia kembali menerima pekerjaan serabutan, mencari nafkah sambil sesekali menghadiri panggilan pengadilan. Di sela-sela kesibukannya, ia bercerita tentang mimpinya yang sederhana — membangun rumah kecil untuk keluarganya, serta memastikan anak-anaknya tak perlu merasakan getir hidup seperti yang ia alami.

“Saya ingin anak saya tahu bahwa ibunya berjuang. Kalau nanti dia besar, dia akan mengerti kenapa saya tidak pernah diam,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Kisah Nur Rohmah dan Erin menjadi potret kecil dari persoalan besar di negeri ini: bagaimana relasi kuasa antara majikan dan pekerja rumah tangga kerap tak seimbang, dan bagaimana suara pekerja sering kali baru terdengar ketika sudah mengecil. Bagi banyak orang, apa yang dilakukan Nur Rohmah bukanlah hal mudah. Ia harus melawan rasa takut, stigma, serta kekhawatiran akan masa depan.

Apa pun hasil akhir dari perkara ini, satu hal yang tampaknya tak akan pupus: bahwa sebuah perjuangan kecil untuk keadilan, sekecil apa pun, adalah bentuk keberanian yang layak dihormati. Di sudut pengadilan itu, Nur Rohmah mungkin kalah dalam mediasi. Namun ia telah menang atas satu hal yang jauh lebih pribadi — keberanian untuk bersuara.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User