Halo pembaca Beritaseputar.com! Di tengah derasnya arus modernisasi, globalisasi, serta pesatnya transformasi digital yang tak terbendung, isu ketahanan keluarga kini menjadi perhatian utama di kawasan regional. Menjawab tantangan besar tersebut, Pusat Belajar Keluarga Madani (PBKM) secara resmi menggelar forum internasional bertajuk "Konferensi Keluarga Asia Pasifik" di Jakarta pada Sabtu, 12 September 2026.
Perhelatan bergengsi tingkat regional ini mengusung tema besar "Resiliensi Keluarga dan Kemajuan Negara-Negara di Kawasan: Penguatan Peran Perempuan dan Pengokohan Keluarga di Asia Pasifik". Acara yang berlangsung selama satu hari penuh ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor demi merumuskan langkah konkret membangun fondasi sosial yang kokoh bagi peradaban masa depan.
Menghubungkan 6 Negara dalam Visi Ketahanan Sosial
Konferensi ini dihadiri lebih dari 200 peserta dari 6 negara di kawasan Asia Pasifik. Kehadiran para utusan ini mempertegas betapa krusialnya kolaborasi antarnegara untuk menangani pergeseran norma sosial dan mengantisipasi dampak negatif modernisasi terhadap ketahanan keluarga.
Berikut adalah rincian profil perwakilan dan fokus pembahasan dari negara-negara peserta konferensi:
| Negara Peserta | Elemen Perwakilan | Fokus Isu Utama |
|---|---|---|
| Indonesia | Akademisi, Ormas Perempuan, Psikolog | Ketahanan keluarga digital & pemberdayaan perempuan |
| Malaysia | Pembuat Kebijakan & Praktisi Sosial | Penguatan hukum keluarga & kesejahteraan sosial |
| Brunei Darussalam | Tokoh Agama & Komunitas Keluarga | Pendidikan moral & fondasi nilai agama |
| Thailand | Akademisi & Aktivis Keluarga | Peran ibu dalam kesehatan & pendidikan anak |
| Singapura | Praktisi Psikologi & Pengamat Sosial | Keseimbangan kerja-keluarga di kota modern |
| Sri Lanka | Perwakilan Komunitas & Pegiat Perempuan | Resiliensi ekonomi keluarga berbasis komunitas |
Fokus Utama: Perempuan Sebagai Pembentuk Peradaban
Dalam pengantar dan pembukaan konferensi, Ketua PBKM, Dr. Aan Rohanah, menegaskan bahwa keluarga merupakan unit terkecil sekaligus fondasi utama dalam sistem sosial masyarakat. Menurutnya, menyiapkan generasi masa depan yang kuat harus dimulai dari pembenahan internal keluarga.
"Keluarga memerlukan pembinaan dalam rangka menyiapkan generasi berintegritas. Semua anggota keluarga adalah komunitas yang perlu ditumbuhkan dan dikembangkan," tegas Dr. Aan Rohanah di hadapan para delegasi.
Konferensi ini juga menyoroti data statistik global penting dari Bank Dunia tahun 2023. Data tersebut mengungkap fakta bahwa setiap tambahan satu tahun pendidikan bagi seorang ibu mampu menurunkan angka kematian anak hingga 9 persen. Angka ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa investasi pada edukasi kaum perempuan berbanding lurus dengan peningkatan kualitas kesehatan dan keselamatan anak.
Tahapan Aksi Strategis Hasil Konferensi
Melalui forum diskusi panel dan lokakarya interaktif, para peserta berhasil menyusun urutan tahapan aksi strategis yang direkomendasikan untuk diterapkan di negara masing-masing:
- Penguatan Akses Pendidikan Perempuan: Membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi kaum perempuan sebagai figur kunci pendidik anak.
- Literasi Digital Keluarga: Mengedukasi orang tua agar mampu mendampingi anak dalam menyaring pengaruh buruk media sosial dan internet.
- Penyusunan Kebijakan Pro-Keluarga: Mendorong pemerintah daerah dan nasional membuat regulasi yang mendukung keseimbangan waktu kerja dan keluarga.
- Jaringan Komunikasi Regional: Membangun platform kolaborasi antarorganisasi Asia Pasifik untuk bertukar program pemberdayaan keluarga secara berkelanjutan.
Tantangan Global dan Resiliensi Kawasan
Modernisasi kerap menghadirkan dilema ganda. Di satu sisi memberi kemudahan akses teknologi, namun di sisi lain berpotensi merenggangkan ikatan emosional antaranggota keluarga. Para praktisi sosial dan akademisi sepakat bahwa kemajuan sebuah bangsa sangat bergantung pada tingkat daya tahan keluarga di dalamnya.
Melalui Konferensi Keluarga Asia Pasifik ini, diharapkan para peserta dapat membawa pulang formula terbaik guna memperkuat peran perempuan dan membentengi keluarga dari dampak negatif globalisasi di wilayahnya masing-masing.
Comments (0)