Sep 19, 2026
Hukum

JAKARTA — BPS Jelaskan Perbedaan Angka Kemiskinan Indonesia dengan Bank Dunia

Pernahkah Anda merasa bingung saat membaca berita tentang kondisi ekonomi negara kita? Di satu sisi, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data optimistis ya

JAKARTA — BPS Jelaskan Perbedaan Angka Kemiskinan Indonesia dengan Bank Dunia

Pernahkah Anda merasa bingung saat membaca berita tentang kondisi ekonomi negara kita? Di satu sisi, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data optimistis yang menunjukkan bahwa angka kemiskinan di Indonesia terus menurun hingga mencapai level satu digit. Namun di sisi lain, laporan dari lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia (World Bank) justru menyajikan gambaran yang jauh berbeda dan terkesan lebih tinggi.

Perbedaan data yang mencolok ini tak jarang memicu perdebatan hangat di tengah masyarakat. Mengapa data dari lembaga nasional dan internasional bisa bertolak belakang? BPS akhirnya membuka suara untuk meluruskan kesalahpahaman ini, menjelaskan secara terperinci mengenai metodologi dan tolok ukur yang digunakan kedua pihak.

Akar Perbedaan: Standar Kebutuhan Dasar vs Standar Global

Pada dasarnya, perbedaan statistik ini bersumber dari perbedaan pendekatan metodologi yang diterapkan. BPS menggunakan Pendekatan Kebutuhan Dasar (Basic Needs Approach) yang mengukur kemiskinan dari ketidakmampuan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan (2.100 kilokalori per hari) dan non-makanan.

Berdasarkan data BPS per Maret 2024, garis kemiskinan Indonesia ditetapkan sekitar Rp 582.932 per kapita per bulan. Dengan rumus ini, angka kemiskinan Indonesia tercatat sebesar 9,03 persen atau setara dengan 25,22 juta jiwa.

Sebaliknya, Bank Dunia menggunakan standar berbasis Purchasing Power Parity (PPP) atau Keseimbangan Kemampuan Berbelanja. Bank Dunia membagi kategori kemiskinan global berdasarkan status pendapatan suatu negara:

Indikator Perhitungan Metode BPS (Nasional) Metode Bank Dunia (Internasional)
Pendekatan Utama Kebutuhan Dasar (Makanan & Non-Makanan) Purchasing Power Parity (PPP)
Ambang Batas Nilai ~Rp 582.932 / kapita / bulan $2,15 (Ekstrem), $3,65 (Lower-Middle), $6,85 (Upper-Middle) per hari
Hasil Estimasi 9,03% (25,22 Juta Jiwa) 16% - 40% (Berdasarkan Kategori Negara Berpenghasilan Menengah)

Ketika Bank Dunia menaikkan status Indonesia menjadi negara berpenghasilan menengah ke atas (upper-middle income country), mereka menggunakan ambang batas kemiskinan $6.85 PPP per hari. Akibatnya, porsi masyarakat yang tergolong rentan miskin atau miskin secara otomatis melonjak tajam dalam catatan Bank Dunia.

Penjelasan Resmi BPS dan Realita Lapangan

BPS menegaskan bahwa perhitungan yang mereka lakukan sangat relevan dengan pola konsumsi riil dan harga barang lokal di Indonesia. Penggunaan garis kemiskinan berbasis kebutuhan dasar dinilai lebih akurat untuk memetakan distribusi bantuan sosial di tingkat domestik.

"Perhitungan BPS berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar riil masyarakat Indonesia di lapangan, sementara Bank Dunia menggunakan standar global lintas negara untuk mengukur perbandingan kesejahteraan internasional," ungkap perwakilan BPS dalam penjelasannya.

Kendati demikian, banyak pengamat ekonomi mengingatkan bahwa angka BPS tidak boleh membuat kita berpuas diri. Kelompok masyarakat rentan miskin yang berada persis di atas garis kemiskinan BPS sangat banyak jumlahnya. Kelompok ini mudah sekali jatuh kembali ke bawah garis kemiskinan jika terjadi lonjakan harga bahan pokok atau pemutusan hubungan kerja (PHK).

Menjembatani Data demi Kebijakan Tepat Sasaran

Perbedaan data ini sebenarnya tidak perlu diperdebatkan secara destruktif. Data BPS sangat vital bagi pemerintah daerah dan pusat untuk menentukan kriteria penerima bantuan sosial (bansos) seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT).

Sementara itu, data Bank Dunia berfungsi sebagai pengingat jangka panjang bahwa Indonesia memiliki pekerjaan rumah besar untuk mendorong kelompok masyarakat berpendapatan menengah bawah menuju kelas menengah yang mantap dan mandiri secara ekonomi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User