Aug 26, 2026
entertainment

Iwan Fals dan Syahrini Warnai Malam Haru HUT SCTV ke-36

Lampu panggung meredup pelan-pelan. Di dalam Studio Emtek City, Jakarta, Senin (24/8), ribuan pasang mata menatap satu titik cahaya yang mulai menyala dari balik tirai hitam. Detik demi detik terasa s...

Iwan Fals dan Syahrini Warnai Malam Haru HUT SCTV ke-36

Lampu panggung meredup pelan-pelan. Di dalam Studio Emtek City, Jakarta, Senin (24/8), ribuan pasang mata menatap satu titik cahaya yang mulai menyala dari balik tirai hitam. Detik demi detik terasa seperti menahan napas bersama-sama. Lalu, saat sorot lampu jatuh tepat pada sosok berambut ikal yang menggendong gitar kesayangannya, gedung itu runtuh oleh sorak-sorai. Iwan Fals benar-benar hadir, dan malam itu langsung terasa berbeda.

Panggung puncak perayaan hari ulang tahun SCTV ke-36 yang bertajuk Xtraordinary menyimpan satu momen yang tidak akan mudah dilupakan para penontonnya. Sang legenda rock Indonesia membuka penampilannya lewat lagu "HIO"—lagu yang selama puluhan tahun menjadi semboyan perjuangan bagi banyak orang. Lebih dari sekadar hiburan, momen tersebut menjadi tampil perdana Iwan Fals di atas pentas perayaan ini, sebuah kehadiran yang ditunggu-tunggu begitu lama.

Api Semangat yang Tak Pernah Padam

Tidak ada kata tua ketika senar gitar itu mulai dibetot. Nada pembuka "HIO" baru saja mengalun beberapa ketukan, ribuan suara sudah ikut meneriakkan liriknya secara serempak. Mereka datang dari berbagai penjuru kota, dari berbagai generasi—ada anak muda yang lahir jauh setelah lagu itu diciptakan, hingga bapak-bapak beruban yang tumbuh bersama setiap baitnya. Malam itu, semua usia melebur menjadi satu nyanyian.

Iwan Fals sendiri tampak menikmati setiap detiknya. Keringat membasahi dahinya, namun senyum lebar tak pernah lepas dari wajahnya. Antarbait, ia sempat berhenti sejenak, menatap kerumunan yang bernyanyi untuknya, lalu tersenyum seperti sedang menyimpan rasa syukur yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.

"Yang saya rasakan bukan cuma panggung. Ini seperti pulang ke rumah, ditemani orang-orang yang tumbuh bersama lagu-lagu saya," ungkapnya seusai penampilan, disambut tepuk tangan yang tak berhenti-henti.

Bagi banyak penonton, kehadiran sang maestro bukan sekadar nomor panggung. Ia adalah pengingat bahwa musik yang jujur tidak pernah menua, dan bahwa semangat perjuangan bisa diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa perlu banyak bicara.

Kemilau Syahrini yang Menghangatkan Malam

Jika Iwan Fals membawa nostalgia dan gelegar, Syahrini hadir membawa kilau dan kelembutan. Kemunculan penyanyi yang akrab disapa Queen ini menjadi salah satu puncak antisipasi lainnya. Dengan busana megah yang berkilauan mengikuti cahaya panggung, ia menyapa penonton dengan gaya khasnya—hangat, dekat, dan penuh canda.

Setiap gerakannya disambut teriakan nama dari barisan penggemar yang setia menunggu sejak sore. Bukan hanya soal vokal yang stabil atau kostum yang mencuri perhatian; kehadirannya terasa seperti hadiah untuk para penggemar yang telah menemani perjalanan kariernya bertahun-tahun. Ada momen ketika ia mendekati area penonton, menyapa beberapa penggemarnya dari dekat, dan membuat mereka menangis bahagia.

"Terima kasih sudah tidak pernah bosan menyayangi saya. Kalian adalah alasan saya terus bangkit dan terus bermimpi," katanya dengan suara yang sedikit bergetar.

Momen-momen kecil semacam itulah yang membuat malam perayaan ini terasa personal. Di antara gemerlap produksi besar, tetap ada sentuhan manusiawi yang menyentuh hati siapa pun yang menyaksikannya.

36 Tahun Menjadi Rumah Cerita Bersama

Di balik layar, perayaan Xtraordinary ini lebih dari sekadar pesta ulang tahun. Ia adalah perayaan perjalanan panjang sebuah stasiun televisi yang telah menemani keluarga-keluarga Indonesia selama 36 tahun. Dari sinetron yang membuat penonton menangis, program hiburan yang menghadirkan tawa, hingga tayangan berita yang menjadi bagian keseharian—semua tumbuh bersama waktu.

Malam Senin (24/8) itu menjadi simbol sederhana namun bermakna: bahwa ulang tahun bukan hanya tentang angka, melainkan tentang cerita-cerita yang terkumpul di sepanjang jalan. Dan cerita itu ditulis bersama para pemirsa, para artis, serta seluruh tim yang bekerja tanpa lelah di balik layar.

Ketika lampu akhirnya padam sepenuhnya dan penonton mulai meninggalkan studio, masih terdengar gumaman orang-orang yang bernyanyi pelan, mengulang kembali potongan lirik "HIO". Seolah mereka tidak ingin malam itu benar-benar berakhir. Dan mungkin memang begitulah cara kenangan bekerja—ia tidak pernah pergi, ia hanya menunggu untuk dikenang kembali.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User