Beredarnya kabar mengenai keberadaan patahan aktif di wilayah Surabaya dan sekitarnya sempat menghebohkan linimasa media sosial beberapa waktu belakangan. Menanggapi keresahan tersebut, pakar geologi sekaligus peneliti mitigasi bencana dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr. Ir. Amien Widodo, meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak termakan kepanikan yang berlebihan.
Menurut Amien, informasi mengenai keberadaan sesar atau patahan aktif di Surabaya sejatinya bukanlah temuan yang mengejutkan bagi kalangan akademisi maupun pemerintah daerah. Ia menegaskan bahwa pembicaraan mengenai jalur gempa bumi di kawasan urban seharusnya diarahkan ke langkah mitigasi konkret, bukan menyebarkan rasa takut di tengah publik.
Kronologi Meluasnya Isu dan Pembahasan Publik
Kepanikan warga bermula dari sejumlah unggahan video pendek dan infografis di media sosial yang menyoroti potensi pergerakan sesar aktif di bawah Kota Pahlawan. Berikut adalah rangkaian dinamika yang memicu perhatian publik belakangan ini:
- Penyebaran Peta Sesar di Media Sosial: Potongan peta Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) yang memperlihatkan Sesar Surabaya dan Sesar Waru dibagikan ulang secara masif tanpa disertai penjelasan ilmiah yang komprehensif.
- Timbulnya Kekhawatiran Warga: Sebagian masyarakat menafsirkan informasi tersebut seolah-olah bencana gempa dahsyat akan terjadi dalam waktu dekat.
- Respons Akademisi ITS: Tim ahli kebencanaan ITS segera memberikan klarifikasi ilmiah guna meluruskan konteks mitigasi serta edukasi risiko kebencanaan bagi warga perkotaan.
Fakta Ilmiah: Memahami Sesar Surabaya dan Sesar Waru
Dr. Amien Widodo menjelaskan bahwa wilayah Jawa Timur, termasuk Surabaya dan Sidoarjo, memang dilewati oleh struktur geologi berupa Sesar Surabaya dan Sesar Waru. Sesar ini tergolong aktif, namun memiliki periode ulang (return period) yang sangat panjang.
"Informasi mengenai adanya sesar aktif bukan untuk menakut-nakuti warga, melainkan menjadi dasar penting dalam perencanaan tata ruang kota dan standar konstruksi bangunan tahan gempa," ujar Amien Widodo dalam keterangannya.
Ia menambahkan, keberadaan sesar aktif merupakan fenomena alam yang lumrah di negara kepulauan seperti Indonesia yang berada di jalur Cincin Api Pasifik (Ring of Fire). Kota-kota besar di dunia seperti Tokyo atau San Francisco juga berdiri di atas sistem sesar aktif, tetapi mereka mampu bertahan berkat mitigasi yang matang.
Langkah Mitigasi Penting bagi Pemerintah dan Masyarakat
Alih-alih panik, Amien mendorong pemerintah daerah bersama warga untuk memperkuat kesiapsiagaan melalui beberapa tindakan terencana:
- Penerapan Standar Bangunan Tahan Gempa: Memastikan seluruh perizinan gedung bertingkat dan perumahan mengacu pada regulasi ketahanan seismik terbaru.
- Edukasi Evakuasi Mandiri: Sekolah, perkantoran, dan komunitas warga perlu mengadakan simulasi gempa bumi secara berkala.
- Penguatan Jalur Evakuasi dan Ruang Terbuka: Menjaga ketersediaan ruang evakuasi terbuka yang bebas dari ancaman reruntuhan fisik.
- Saring Informasi dari Sumber Resmi: Memantau perkembangan berita seismologi hanya melalui kanal resmi seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan BPBD setempat.
Melalui kolaborasi antara riset akademis, kebijakan tata ruang yang ketat, dan masyarakat yang teredukasi, Surabaya dipastikan dapat hidup berdampingan secara aman dengan potensi alam yang ada.
Comments (0)