Upaya hukum Wakil Presiden Filipina, Sara Duterte, untuk mendepak hakim yang menangani perkaranya menemui jalan buntu. Hakim Pengadilan Negeri Kota Quezon (RTC) Cabang 98, Maria Angelica de Ramos, resmi menolak mosi pengunduran diri yang diajukan oleh kubu Duterte. Dengan keputusan ini, De Ramos dipastikan tetap memimpin jalannya persidangan kasus dugaan ancaman berat (grave threats) yang menjerat sang wakil presiden.
Keputusan tersebut menuai sorotan luas publik Filipina, mengingat Hakim De Ramos sebelumnya sempat menjadi sasaran perundungan daring (online bashing) dari para pendukung fanatik keluarga Duterte setelah menerbitkan surat perintah penangkapan.
Kronologi Sengketa dan Penolakan Mosi Hakim
Perseteruan hukum antara pihak Sara Duterte dan majelis hakim Pengadilan Kota Quezon berkembang melalui rangkaian peristiwa penting berikut:
- Penerbitan Surat Perintah: Hakim Maria Angelica de Ramos menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Sara Duterte terkait laporan ancaman pidana berat yang menyeret nama sang pejabat publik.
- Gelombang Serangan Siber: Menyusul penetapan tersebut, sang hakim dihujani kritik keras dan intimidasi di media sosial oleh para loyalis Duterte yang menuduhnya tidak independen.
- Pengajuan Mosi Inhibisi: Tim kuasa hukum Sara Duterte melayangkan permohonan resmi (motion for inhibition) agar De Ramos mundur dari perkara tersebut dengan dalih dugaan konflik kepentingan dan bias prasangka.
- Penolakan Resmi Pengadilan: Hakim De Ramos menolak permohonan tersebut secara tegas dan menegaskan bahwa proses hukum akan berlanjut di bawah yurisdiksinya tanpa kompromi.
"Pengadilan tetap berpegang pada prinsip integritas yudisial dan fakta hukum objektif tanpa terpengaruh oleh tekanan publik maupun narasi pihak-pihak yang berperkara," demikian poin penegasan dari lingkungan peradilan setempat.
Tekanan Politik di Tengah Persidangan Kasus
Kasus yang menimpa putri dari mantan Presiden Rodrigo Duterte ini menjadi salah satu babak terpanas dalam dinamika politik Manila belakangan ini. Hubungan antara keluarga Duterte dan faksi Presiden Ferdinand Marcos Jr. yang kian retak semakin memperkeruh atmosfer penegakan hukum di Filipina.
Meskipun tim pengacara Duterte berupaya mencari celah untuk memindahkan perkara ke cabang pengadilan lain, majelis hakim menilai dalil yang diajukan tidak memenuhi standar hukum untuk mendiskualifikasi hakim. Beberapa alasan pengadilan menolak permohonan tersebut antara lain:
- Kurangnya Bukti Bias Nyata: Pengadilan tidak menemukan bukti kuat bahwa hakim menunjukkan keberpihakan personal selama memproses administrasi berkas perkara.
- Kewajiban Konstitusional: Hakim memiliki tanggung jawab etik untuk tidak melepaskan kasus begitu saja hanya karena adanya tekanan atau kecaman dari luar persidangan.
- Efisiensi Penegakan Hukum: Pergantian hakim tanpa dasar yang sah dinilai hanya akan memperlambat proses keadilan bagi semua pihak yang terlibat.
Dengan tetap bertugasnya Hakim De Ramos, proses persidangan dugaan ancaman pidana ini dipastikan akan bergulir ke tahapan pembuktian selanjutnya. Publik kini menanti langkah hukum berikutnya yang akan diambil oleh tim penasihat hukum Sara Duterte dalam menghadapi proses peradilan yang sedang berlangsung.
Comments (0)