Kekhawatiran terhadap risiko kebakaran baterai kendaraan ramah lingkungan di atas kapal laut kian meluas. Operator transportasi laut terkemuka di Filipina, Island Water, secara resmi memberlakukan larangan total terhadap pengangkutan kendaraan listrik murni (EV) maupun mobil hibrida di seluruh armada kapal penumpangnya.
Keputusan tegas ini diambil di tengah investigasi mendalam terkait insiden kebakaran maut yang melanda kapal penumpang tujuan Coron beberapa waktu lalu. Kebakaran hebat yang diduga kuat dipicu oleh ledakan baterai kendaraan listrik tersebut merenggut 77 korban jiwa, menjadi salah satu tragedi maritim paling mematikan dalam sejarah pelayaran domestik setempat belakangan ini.
Kronologi Tragedi Kebakaran dan Respon Operator
Langkah pencegahan ekstrem ini muncul menyusul rentetan peristiwa mencekam yang menghancurkan armada kapal penyeberangan pada awal September. Berikut kronologi dan eskalasi kebijakan keselamatan yang terjadi:
- 9 September: Kapal feri yang mengangkut ratusan penumpang tujuan Coron mengalami ledakan mendadak di area dek kendaraan. Api berkobar cepat dan menghanguskan badan kapal, menewaskan sedikitnya 77 penumpang yang terjebak di tengah laut.
- Pasca-Insiden: Penyelidik keselamatan maritim mengarahkan fokus investigasi pada dugaan ledakan termal (thermal runaway) dari unit kendaraan listrik yang terparkir di palka kapal.
- Pemberlakuan Larangan: Maskapai pelayaran pertama mulai membatasi akses EV, disusul segera oleh Island Water sebagai perusahaan pelayaran kedua yang mengeluarkan larangan menyeluruh demi keselamatan navigasi dan nyawa penumpang.
"Langkah mitigasi darurat ini tidak bisa ditunda. Keselamatan seluruh jiwa di atas kapal adalah prioritas mutlak yang tidak dapat dikompromikan dengan risiko kebakaran kimia baterai yang sulit dipadamkan di laut lepas."
Ancaman 'Thermal Runaway' Baterai di Laut Lepas
Kebakaran baterai litium-ion pada kendaraan listrik menghadirkan tantangan teknis yang sangat berat bagi kru kapal. Berbeda dengan kebakaran bahan bakar minyak konvensional yang dapat ditangani dengan alat pemadam standar, kebakaran baterai EV memicu reaksi berantai bersuhu sangat tinggi (thermal runaway) yang melepaskan gas beracun dan membutuhkan volume air pendingin masif tanpa henti.
Di ruang tertutup seperti palka kendaraan feri ro-ro (roll-on/roll-off), keterbatasan peralatan pemadam khusus dan ruang evakuasi membuat risiko penyebaran api menjadi berlipat ganda. Kondisi inilah yang mendorong Island Water untuk tidak mengambil risiko sekecil apa pun hingga standar keselamatan global terkait penanganan EV di kapal laut dinyatakan aman.
Dampak Terhadap Industri Transportasi Antar-Pulau
Larangan ini diprediksi akan mengubah pola perjalanan logistik dan mobilitas pemilik kendaraan listrik di kawasan kepulauan. Sejumlah komunitas pengguna mobil listrik kini mendesak otoritas maritim untuk segera merumuskan regulasi pengangkutan yang aman, seperti penyediaan area dek terbuka khusus dengan detektor panas mandiri dan sistem semprotan busa pemadam kimia.
Hingga investigasi resmi atas tragedi 9 September diumumkan oleh pihak berwenang, Island Water memastikan pembatasan ini tetap berlaku tanpa pengecualian bagi seluruh jenis mobil listrik, motor listrik, maupun kendaraan hibrida penumpang.
Comments (0)