Hajat Bumi Situ Rawabinong: Saat Doa dan Tradisi Menyatu di Tepian Danau
Langit pagi di Desa Hegarmukti masih menyisakan semburat jingga ketika barisan ibu-ibu berbalut kebaya warna-warni mulai berjalan perlahan menyusuri pematang. Mereka menenteng bokor anyaman bambu beri...
Langit pagi di Desa Hegarmukti masih menyisakan semburat jingga ketika barisan ibu-ibu berbalut kebaya warna-warni mulai berjalan perlahan menyusuri pematang. Mereka menenteng bokor anyaman bambu berisi tumpeng, buah-buahan, dan kembang setaman. Di belakang mereka, para lelaki mengusung gunungan hasil bumi—singkong, pisang, padi, dan sayur mayur—yang dihias sedemikian rupa. Ratusan pasang kaki itu bergerak seirama menuju satu titik yang sama: tepi Situ Rawabinong. Danau tenang berusia ratusan tahun yang menjadi saksi bisu bagi satu tradisi tahunan yang tak pernah putus, Hajat Bumi.
Riuh rendah obrolan warga berpadu dengan pukulan kendang dan gamelan khas Betawi yang mengiringi arak-arakan. Anak-anak kecil berlarian di sela-sela kerumunan, sementara para sesepuh kampung berjalan paling depan, membawa pedupaan yang mengepulkan asap wangi kemenyan. Inilah hari di mana seluruh warga Hegarmukti, Bekasi, menanggalkan sejenak urusan duniawi dan bersatu dalam satu tindakan kolektif: mengucap syukur kepada Sang Pencipta lewat sajian bumi yang mereka rawat bersama.
Doa untuk Air yang Menghidupi
Di bawah tenda sederhana yang didirikan tepat di bibir danau, tampak seorang lelaki sepuh berpeci hitam duduk bersila. Namanya Pak Muhadi, 73 tahun, tetua adat yang sudah lebih dari setengah abad mengabdikan diri menjaga tradisi ini. Tangannya yang keriput merapikan sesaji yang diletakkan di atas daun pisang. Matanya menerawang, seolah merekam kembali puluhan Hajat Bumi yang pernah ia ikuti sejak masih kanak-kanak.
"Danau ini, air ini, adalah urat nadi kami," bisik Pak Muhadi lirih, suaranya nyaris tertelan gemericik air. "Saya masih ingat, sekitar tahun 1970-an, kami nyaris kehilangan danau ini karena kemarau panjang. Saat itu, warga sepakat menggelar Hajat Bumi lebih besar lagi, sebagai laku prihatin sekaligus harapan. Hujan turun dua hari setelahnya. Sejak saat itu, tak satu pun warga berani melewatkan tradisi ini."
Kisah Pak Muhadi bukan sekadar legenda. Di sekitar Situ Rawabinong, air memang menjadi sumber kehidupan utama. Danau seluas sekitar 14 hektare ini mengairi puluhan hektare sawah, menjadi tempat budi daya ikan, dan menopang keseharian ribuan keluarga. Hajat Bumi, yang puncaknya berupa larung sesaji ke tengah danau, adalah manifestasi kesadaran kolektif bahwa manusia dan alam tak bisa dipisahkan.
Doa-doa dilantunkan dalam bahasa Sunda dan Arab, berpadu harmonis. Para pemuka agama dari berbagai latar duduk berdampingan, memimpin munajat yang diikuti khusyuk oleh seluruh yang hadir. Tak ada sekat, tak ada jarak. Semua kepala menunduk, semua hati bermunajat pada harapan yang sama: berkah, keselamatan, dan kemurahan rezeki dari bumi yang mereka pijak.
Gotong Royong: Jiwa dari Sebuah Perayaan
Jika doa adalah napas, maka gotong royong adalah jantung dari Hajat Bumi Situ Rawabinong. Berhari-hari sebelum puncak acara, warga bergiliran membersihkan area danau. Para pemuda tanggung membabat ilalang dan memunguti sampah di pinggiran situ. Kaum ibu sibuk di dapur umum, memasak ribuan bungkus nasi untuk dibagikan gratis. Para bapak mendirikan panggung dari bambu dan kayu bekas, tanpa upah, tanpa pamrih.
Rohman (24), salah seorang pemuda yang turut serta, mengaku bangga menjadi bagian dari tradisi ini. "Kalau bukan kami yang merawat, siapa lagi?" katanya sambil mengusap keringat di dahi. Tangan kekarnya masih belepotan lumpur sehabis membantu menancapkan tiang tenda. Rohman adalah contoh generasi muda yang memilih pulang kampung selepas merantau, dan menemukan makna justru di tengah kesederhanaan adat leluhur.
"Di kota, saya lihat semuanya serba sendiri," kenang Rohman. "Di sini, setiap ada acara, semua terpanggil. Tak perlu diundang resmi. Ini seperti magnet yang menyatukan kami."
Semangat inilah yang disoroti Pemerintah Kabupaten Bekasi. Dalam sambutannya, seorang pejabat daerah yang hadir menyatakan bahwa Hajat Bumi Situ Rawabinong adalah aset budaya tak benda yang merekatkan kohesi sosial. "Apa yang dilakukan warga Hegarmukti hari ini bukan hanya soal tradisi, melainkan pelajaran berharga tentang bagaimana masyarakat saling menopang. Ini selaras dengan program pemerintah dalam memperkuat nilai-nilai kegotongroyongan di tengah tantangan zaman," ucapnya.
Dari Generasi ke Generasi
Matahari semakin meninggi ketika gunungan hasil bumi akhirnya diperebutkan warga. Ratusan tangan berebut, bukan karena tiadanya makanan, tetapi karena ada keyakinan bahwa rezeki yang didapat dari gunungan Hajat Bumi membawa keberkahan tersendiri. Tawa dan teriakan riang mewarnai pemandangan. Di sisi lain, anak-anak kecil duduk melingkar bersama penutur cerita rakyat yang mendongeng tentang legenda Situ Rawabinong dan buaya putih penunggunya.
Inilah potret pewarisan yang sesungguhnya. Tak ada kurikulum baku, tak ada modul tertulis. Tradisi diwariskan lewat partisipasi, lewat cerita yang dituturkan dari mulut ke mulut, dan lewat pengalaman batin yang mengendap di sanubari setiap anak Hegarmukti. Seorang guru taman kanak-kanak setempat bahkan membawa serta murid-muridnya untuk menampilkan tari kreasi yang bercerita tentang menanam padi, sebagai cara menanamkan cinta budaya sejak dini.
Pak Muhadi tersenyum melihat pemandangan itu. Di matanya, Hajat Bumi bukan sekadar ritual usang yang bertahan, melainkan jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan warganya. "Selama danau ini masih berair, selama padi masih tumbuh, tradisi ini tak akan mati," ujarnya dengan keyakinan yang dalam. Kalimat yang sederhana, namun mengandung ikrar abadi dari sebuah komunitas yang memilih untuk tidak melupakan akarnya.
Saat senja turun, saat aroma tanah basah kembali menguar, dan satu per satu warga kembali ke rumah masing-masing, Situ Rawabinong kembali tenang. Namun yang tertinggal bukanlah jejak-jejak tapak di lumpur tepiannya, melainkan janji tak tertulis yang terus hidup di hati setiap warga Hegarmukti: bahwa selama bumi masih memberi, selama air masih mengalir, syukur dan kebersamaan akan selalu dirayakan di tempat yang sama, tahun depan, dan tahun-tahun berikutnya.
Baca juga:
Comments (0)