Dinamika perpolitikan Tanah Air memang tidak pernah kehabisan bahan perbincangan. Salah satu sosok yang kerap mencuri perhatian publik adalah Wakil Presiden terpilih, Gibran Rakabuming Raka. Di tengah berbagai momen krusial politik—termasuk menjelang putusan Mahkamah Konstitusi (MK) beberapa waktu lalu—latar belakang dan rekam jejak pendidikan putra sulung Presiden Joko Widodo ini selalu hangat diperdebatkan oleh warganet.
Banyak yang penasaran, ke mana sebenarnya langkah pendidikan pria yang sempat sukses merintis berbagai lini bisnis kuliner ini? Menilik kembali dokumen resmi dan rekam jejaknya, Gibran ternyata menghabiskan sebagian besar masa remajanya menimba ilmu di luar negeri, mulai dari Singapura hingga Australia.
Dari Kota Bengawan Terbang ke Negeri Singa
Gibran mengawali masa sekolah dasarnya di Surakarta, Jawa Tengah. Ia menamatkan pendidikan di SD Negeri 16 Mangkubumen Kidul dan melanjutkan ke SMP Negeri 1 Surakarta. Namun, begitu lulus dari bangku sekolah menengah pertama, langkahnya tidak berlanjut di sekolah lokal Solo.
Secara mengejutkan, Gibran memilih merantau ke luar negeri sejak usia belia. Pada tahun 2002, ia resmi tercatat sebagai siswa di Orchid Park Secondary School, Singapura. Tinggal jauh dari keluarga di negeri orang tentu bukan hal yang mudah, tetapi lingkungan multikultural di Singapura justru membentuk karakter mandirinya jauh sebelum sang ayah terjun ke panggung politik nasional.
"Belajar mandiri di negeri orang mengajarkan banyak hal tentang disiplin dan bagaimana melihat dunia secara lebih luas," ungkap narasi yang kerap disampaikan rekan terdekat Gibran mengenai masa mudanya di perantauan.
Menembus Gelar Sarjana dan Lanjut ke Australia
Lulus dari Orchid Park, Gibran melanjutkan pendidikan tingginya di Management Development Institute of Singapore (MDIS). Lembaga pendidikan tinggi bergengsi ini bekerja sama dengan kampus asal Inggris, yakni University of Bradford. Dari program kemitraan internasional tersebut, Gibran berhasil menyabet gelar sarjana di bidang studi pemasaran (Bachelor of Science in Marketing) pada tahun 2007.
Merasa haus akan pengalaman akademik internasional, ia kemudian menyeberang ke Negeri Kanguru. Gibran mengambil program persiapan studi lanjutan (pathway) di UTS Insearch (University of Technology Sydney), Australia, sekitar tahun 2010. Kombinasi ilmu manajemen dan pemasaran inilah yang nantinya menjadi modal utama Gibran saat pulang ke Indonesia dan membangun imperium bisnisnya sendiri seperti Chilli Pari dan Markobar.
Klarifikasi Dokumen dan Sikap Santai Sang Wapres
Isu mengenai keaslian dan penyetaraan ijazah luar negeri Gibran sempat berembus kencang di media sosial. Kendati demikian, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah mengonfirmasi keabsahan dokumen akademiknya melalui surat keputusan penyetaraan ijazah luar negeri yang sah secara hukum.
Gibran sendiri menanggapi sorotan publik itu dengan gaya khasnya yang santai. Ia bahkan sempat memperlihatkan langsung ijazah aslinya kepada awak media di Balai Kota Solo untuk menepis segala spekulasi liar.
Bagi publik, transparansi riwayat pendidikan para pemimpin adalah hal esensial dalam iklim demokrasi modern. Perjalanan akademis Gibran dari Solo, Singapura, hingga Australia membuktikan bahwa tempaan global telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya sebelum kini mengemban amanah di pucuk pimpinan nasional.
Comments (0)