Beritaseputar.com — Kabar penarikan penuh pasukan Amerika Serikat dari Irak disambut gegap gempita oleh Teheran. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara terbuka menyatakan bahwa kepergian militer AS dari Irak bukan sekadar peristiwa politik biasa, melainkan sebuah kemenangan historis bagi seluruh kekuatan revolusioner di kawasan. Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa Iran ingin memosisikan diri di garis depan narasi "kemerdekaan" kawasan dari pengaruh Barat.
Pengumuman resmi datang dari Pentagon pada Rabu lalu. Otoritas pertahanan AS mengonfirmasi bahwa personel militer terakhir mereka telah meninggalkan Irak, menutup babak panjang kehadiran militer yang berlangsung selama kurang lebih 23 tahun. Sejak invasi kontroversial tahun 2003, kehadiran tentara AS di Irak selalu menjadi isu panas, baik di dalam negeri Irak maupun di panggung geopolitik Timur Tengah.
Pernyataan Keras IRGC
Dalam pernyataannya, IRGC tidak menahan diri untuk mengkritik tajam dampak kehadiran AS selama lebih dari dua dekade. Menurut mereka, kehadiran militer Washington justru membawa malapetaka, bukan stabilitas.
IRGC menegaskan bahwa mereka "mengucapkan selamat kepada bangsa Irak yang gagah berani… dan para pejuang revolusioner dunia Islam atas kemenangan historis ini." Pernyataan tersebut bukan hanya bentuk diplomasi, tetapi juga klaim ideologis bahwa perlawanan terhadap AS adalah bagian dari perjuangan bersama umat Islam di kawasan.
Lebih jauh, IRGC menyoroti besarnya biaya yang harus ditanggung AS selama menduduki Irak. Data Pentagon mencatat sebanyak 4.419 tentara AS tewas selama operasi di Irak. Sementara itu, Watson Institute di Brown University memperkirakan invasi dan pendudukan tersebut menghabiskan dana pajak Amerika sekitar USD 2,8 triliun. Angka-angka tersebut, menurut IRGC, menjadi bukti nyata dari apa yang mereka sebut sebagai "kekalahan berat dan memalukan" bagi Amerika Serikat.
"Kehadiran Amerika tidak hanya tidak membawa keamanan, tetapi justru menjadi sumber ketidakamanan, terorisme, dan ketidakstabilan di Asia Barat."
— Pernyataan resmi Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC)
Panggilan untuk Keluar dari Seluruh Kawasan
Yang menarik, IRGC tidak berhenti pada kemenangan simbolis di Irak. Mereka secara eksplisit menyerukan agar Amerika Serikat juga meninggalkan seluruh negara lain di kawasan. Seruan ini jelas menyasar pangkalan-pangkalan militer AS yang masih tersebar di Teluk, Yordania, dan sekitarnya. Bagi Iran, hegemoni militer AS di Timur Tengah adalah akar dari ketegangan yang tak kunjung usai.
Pandangan ini tentu tidak sepenuhnya netral. Iran memiliki kepentingan besar dalam membentuk tatanan kawasan yang bebas dari pengaruh AS, sehingga narasi "kemenangan" ini juga berfungsi sebagai alat legitimasi politik domestik dan regional. Namun, terlepas dari motif di baliknya, penarikan penuh pasukan AS dari Irak tetap menjadi tonggak sejarah yang mengubah peta kekuatan di Timur Tengah.
- 23 tahun kehadiran militer AS di Irak resmi berakhir.
- 4.419 tentara AS tewas selama operasi di Irak menurut Pentagon.
- Biaya perang diperkirakan mencapai USD 2,8 triliun.
- IRGC menyerukan AS keluar dari seluruh kawasan Asia Barat.
Apa Artinya bagi Stabilitas Kawasan?
Bagi Irak sendiri, kepergian AS membuka ruang baru sekaligus tantangan besar. Kekosongan kekuatan militer asing bisa dimanfaatkan oleh milisi pro-Iran yang selama ini memiliki pengaruh kuat di parlemen dan keamanan Irak. Sebaliknya, jika tidak dikelola dengan baik, hal ini bisa memicu friksi baru antar-faksi internal. Pemerintah Irak kini dituntut untuk membuktikan bahwa negara itu mampu menjaga kedaulatan dan stabilitasnya tanpa kehadiran tentara asing.
Sementara itu, bagi Amerika Serikat, penarikan ini bisa dibaca sebagai pengurangan beban biaya dan risiko, tetapi juga sebagai pengakuan bahwa proyek "demokratisasi" ala Barat di Irak tidak berjalan sesuai harapan. Di sisi lain, Iran melihat momen ini sebagai peluang emas untuk memperkuat poros "perlawanan" dan memperluas pengaruh di Baghdad, Damaskus, hingga Beirut.
Dengan dinamika seperti ini, pertanyaan besarnya adalah: apakah kepergian AS benar-benar membawa perdamaian, atau justru membuka babak baru persaingan pengaruh yang lebih rumit? Yang jelas, Teheran sudah lebih dulu mengklaim kemenangan, dan itu sendiri sudah mengubah cara kawasan memandang kekuatan Amerika.
Comments (0)