Malam itu, gawai Fiki Naki bergetar pelan di atas meja kerjanya. Sebuah pesan singkat masuk, membawa tawaran yang selama bertahun-tahun hanya ia simpan rapat-rapat sebagai mimpi: berdiri di depan kamera, bukan untuk merekam konten, melainkan untuk memerankan sebuah tokoh di film layar lebar. Kini mimpi itu bukan lagi sekadar angan. Kreator konten yang namanya melambung lewat kanal YouTube itu resmi menjadi bagian dari film Paket Santet, sebuah karya horor komedi yang mengangkat nuansa mistis khas Nusantara dengan bumbu humor yang cair.
Bagi banyak orang, nama Fiki Naki identik dengan dunia digital. Ia tumbuh bersama generasi yang akrab dengan ponsel dan kamera sederhana, membangun karier dari kamar kecil tempat ia biasa merekam video pertamanya. Namun di balik senyum ceria yang kerap ia tampilkan, tersimpan perjuangan panjang yang jarang terlihat. Setiap video yang ia unggah adalah buah dari kerja keras, riset kecil-kecilan, dan keberanian untuk terus mencoba hal baru.
Dari Layar Ponsel ke Layar Lebar
Perjalanan Fiki menuju dunia akting tidak terjadi dalam semalam. Sebelum namanya dipercaya mengisi salah satu peran di Paket Santet, ia harus melewati proses panjang: membaca naskah berulang kali, mengikuti arahan sutradara, hingga berlatih dialog di sela-sela jadwal produksi yang padat. Baginya, transisi dari pembuat konten menjadi aktor adalah lompatan besar yang menuntut kerendahan hati untuk belajar dari nol.
Di lokasi syuting, ia datang lebih awal dari jadwal. Ia mengamati cara para pemain senior menghayati peran, mencatat detail kecil dalam setiap adegan, dan tak segan bertanya ketika ada yang terasa asing. Sikap sederhana itu membuat kru dan rekan pemain merasa nyaman bekerja bersamanya. Lewat proses inilah Fiki belajar bahwa akting bukan sekadar menghafal dialog, melainkan menghadirkan emosi yang jujur di depan kamera.
Tantangan Bermain di Genre Horor Komedi
Bermain di genre horor komedi bukan perkara mudah. Di satu sisi, ia harus mampu membangun ketegangan khas film mistis; di sisi lain, ia dituntut melontarkan humor dengan timing yang pas agar penonton tetap terhibur. Fiki mengaku sempat merasa gugup pada hari-hari pertama syuting, terutama saat harus beradegan dengan properti mistis dan suasana mencekam yang sengaja dibangun di lokasi.
Namun justru dari rasa gugup itulah ia menemukan semangat baru. Setiap kali sutradara mengucapkan kata cut, ia tertawa bersama kru, melepas ketegangan, lalu kembali serius ketika kamera mulai merekam. Momen-momen di balik layar seperti inilah yang membuatnya makin mencintai dunia baru yang ia masuki. Ia menyadari bahwa film adalah kerja tim yang indah, tempat setiap orang berjuang demi satu tujuan yang sama.
Sebuah Mimpi yang Kini Menyentuh Banyak Orang
Bagi Fiki Naki, keterlibatannya di Paket Santet bukan sekadar karier. Ini adalah pengingat bahwa mimpi sederhana bisa tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar ketika dirawat dengan tekun. Ia mengisahkan bahwa keluarganya adalah alasan utama ia berani mengambil langkah ini. Dukungan mereka, terutama di masa-masa sulit ketika ia masih berkarya dari kamar sempit, menjadi bahan bakar yang membuatnya terus bangkit.
Melalui perjalanannya, ia berharap bisa menginspirasi anak-anak muda yang kini juga bermimpi di depan layar gawai mereka. Ia ingin membuktikan bahwa titik awal yang sederhana bukanlah batas, melainkan justru pijakan untuk melompat lebih tinggi. Setiap doa yang ia panjatkan di sela syuting, setiap lelah yang ia rasakan, terbayar lunas ketika menyaksikan hasil karyanya menghampiri penonton di bioskop.
Kini, tatkala film Paket Santet siap menyapa para penonton, Fiki Naki berdiri di titik yang dulu hanya ia bayangkan. Bukan sebagai kreator konten yang menghibur dari balik layar, melainkan sebagai aktor yang hadir langsung dalam cerita. Perjalanannya mengajarkan satu hal sederhana namun dalam: tidak ada mimpi yang terlalu jauh selama kita berani melangkah, belajar, dan terus berjuang meski jalan di depan tak selalu mulus.
Comments (0)