Aug 25, 2026
entertainment

Dari Calo Tiket hingga Pendakwah, Perjalanan Gus Miftah yang Menyentuh

Malam belum terlalu larut ketika suara gamelan mulai mengalun pelan di halaman sebuah pesantren di Sleman, Yogyakarta. Di tengah kerumunan yang duduk lesehan, seorang pria bersorban menyapa satu per s...

Dari Calo Tiket hingga Pendakwah, Perjalanan Gus Miftah yang Menyentuh

Malam belum terlalu larut ketika suara gamelan mulai mengalun pelan di halaman sebuah pesantren di Sleman, Yogyakarta. Di tengah kerumunan yang duduk lesehan, seorang pria bersorban menyapa satu per satu warga yang hadir — tukang becak, pedagang kaki lima, hingga buruh pabrik. Dialah Miftah Maulana Habiburrahman, atau yang akrab disapa Gus Miftah. Bagi banyak orang, ia adalah pendakwah terkenal. Tetapi bagi mereka yang duduk di hadapannya, ia lebih dari sekadar penceramah: ia adalah sahabat yang tahu betul bagaimana rasanya hidup dalam keterbatasan.

Masa Lalu yang Tak Pernah Disembunyikan

Perjalanan Gus Miftah menuju titik ini tidak pernah mulus. Dalam banyak kesempatan, ia dengan jujur mengisahkan masa lalunya yang jauh dari kata nyaman. Putra pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, KH Makmun Zubair, ini mengaku pernah melewati fase hidup yang sangat sulit. Ia pernah bekerja sebagai calo tiket di sebuah bandara — profesi yang jauh dari bayangan seorang anak kiai. Sambil berjualan tiket, ia berjuang membiayai hidupnya sendiri, belajar merasakan pahitnya ditolak dan diremehkan orang.

"Saya tidak pernah malu mengakui masa lalu saya. Dari sanalah saya belajar," begitu ia kerap berujar di hadapan ribuan jamaah. Kisah masa lalunya itu justru menjadi pengingat bahwa setiap orang berhak bangkit, apa pun titik awal kehidupannya. Baginya, air mata dan kegagalan bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari sebuah mimpi yang lebih besar.

Dakwah dengan Cara yang Sederhana

Gus Miftah dikenal karena pendekatan dakwahnya yang berbeda. Ia memadukan seni wayang kulit, humor khas Jawa, dan bahasa rakyat yang mudah dipahami. Lewat pertunjukan wayang, ia menyampaikan pesan-pesan keagamaan tanpa menggurui, sehingga dakwahnya terasa hangat dan dekat di hati. Gaya inilah yang membuatnya dijuluki pendakwah milenial, karena mampu merangkul semua kalangan — dari anak muda hingga orang tua.

Di balik layar panggung yang ramai, ia tidak pernah berhenti mengingat orang-orang kecil. Setiap pekan, pesantren yang ia asuh, Pesantren Ora Aji, menjadi tempat berkumpulnya warga dari berbagai latar belakang. Lewat acara Malam Jumat Legi yang rutin digelar, ia membuka pintu seluas-luasnya bagi siapa saja yang ingin belajar, tanpa memandang status sosial. Kesederhanaan itu menjadi ciri yang paling melekat dalam perjalanan dakwahnya.

Berjuang untuk yang Terpinggirkan

Perhatian Gus Miftah pada kaum pinggiran bukan sekadar retorika. Ia kerap turun langsung menemui pedagang kaki lima, pengemudi angkutan umum, hingga anak jalanan. Ia mendengarkan keluh kesah mereka, lalu berusaha menghadirkan solusi yang nyata. Baginya, dakwah tidak hanya soal ceramah di atas mimbar, tetapi juga soal hadir di tengah kesulitan sesama.

Berkat konsistensinya, pada penghujung 2024 ia dipercaya menjadi Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Ibadah. Jabatan itu adalah pengakuan atas perjalanan panjangnya dalam merawat toleransi dan kebersamaan. Namun, di tengah sorotan publik, hidupnya juga pernah diuji. Sebuah peristiwa yang menyinggung seorang penjual es teh membuat namanya ramai diperbincangkan. Ia pun memilih berbesar hati: meminta maaf secara terbuka dan menanggalkan jabatannya sebagai bentuk tanggung jawab.

Bangkit dan Terus Melangkah

Momen itu menjadi babak yang menyentuh dalam perjalanan Gus Miftah. Alih-alih tenggelam dalam kritik, ia memilih belajar dan kembali melayani. Ia sadar bahwa menjadi tokoh publik berarti siap diuji, dan kerendahan hati adalah cara terbaik untuk bertahan. "Saya hanya ingin terus menjadi manusia yang bermanfaat," katanya, mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang sempurna.

Kini, Gus Miftah kembali ke tempat yang paling ia cintai: di antara warga sederhana yang menyambutnya dengan tawa dan doa. Kisahnya menjadi inspirasi bahwa masa lalu yang kelam tidak pernah menjadi penghalang untuk bermimpi. Selama masih ada niat untuk berbuat baik, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk bangkit dan memberi makna bagi sesama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User