Aug 25, 2026
entertainment

Evolusi Artwear TULOLA, Merajut Ulang Identitas di Kawan Nusantara

Di sudut aula yang diterangi lampu temaram, sebuah kalung dari anyaman benang emas dan keping-keping kayu pinus menggantung di manekin sederhana. Cahaya memantul di permukaannya yang tak rata, mencipt...

Evolusi Artwear TULOLA, Merajut Ulang Identitas di Kawan Nusantara

Di sudut aula yang diterangi lampu temaram, sebuah kalung dari anyaman benang emas dan keping-keping kayu pinus menggantung di manekin sederhana. Cahaya memantul di permukaannya yang tak rata, menciptakan bayangan yang seolah bergerak. Beberapa pengunjung berhenti, bukan sekadar memotret, tapi mencoba membaca cerita yang tertinggal di setiap simpul. Di sanalah, di acara Kawan Nusantara pada 23 dan 24 Juli 2026, TULOLA memamerkan koleksi aksesori artwear terbaru mereka: "EVOLUSI".

Gagasan yang Lahir dari Perubahan

"EVOLUSI" bukan sekadar nama. Bagi TULOLA, ini adalah risalah panjang tentang perjalanan—bukan hanya perjalanan sebuah jenama, melainkan juga perjalanan setiap perempuan yang mengenakan karyanya. Di balik panggung kecil sebelum pembukaan, sang perancang, yang akrab disapa Mbak Sari, duduk di antara kotak-kotak kemasan kayu. Tangannya sibuk menata bros berbentuk kepompong, sementara matanya menerawang. "Setiap dari kita punya fase menjadi ulat yang merangkak, lalu berdiam dalam kegelapan, sebelum akhirnya punya sayap," bisiknya, setengah pada diri sendiri. Perkataannya segera menjadi kunci untuk membaca puluhan aksesori yang terpajang di hadapan kami.

Koleksi ini terbagi dalam tiga seri utama: Larva, Krisalis, dan Imago. Seri Larva menampilkan anting dan gelang berbahan dasar rotan mentah serta kulit kayu yang sengaja dibiarkan kasar, seolah baru keluar dari sarangnya. "Ini tentang masa-masa kita masih mencari bentuk, masih rapuh, tapi penuh potensi," ujar Sari. Sementara itu, seri Krisalis datang sebagai titik hening: liontin berlapis resin bening yang di dalamnya tertanam helai-helai kain perca dan bunga kering. Ia adalah ruang kontemplasi, ".

Membawa Hutan dan Sejarah ke Ruang Pamer

Yang membedakan "EVOLUSI" dari koleksi artwear pada umumnya adalah cara TULOLA merangkul material yang terlupakan. Ada gelang dari bongkahan kayu bakar yang diselamatkan dari dapur rumah-rumah di lereng Merbabu. Ada kalung dari serat pelepah pisang yang dicelup pewarna alam—indigo, kulit jengkol, dan kayu secang—hingga memunculkan warna yang tak mungkin ditiru mesin. Setiap helai benang dan serpih kayu membawa narasi tentang hutan dan tangan-tangan yang merawatnya. "Kami ingin evolusi ini bukan sekadar perubahan bentuk, tapi juga pergeseran cara kita memandang sisa," kata Sari, jemarinya menyentuh salah satu bros besar berbentuk kupu-kupu yang sayapnya terbuat dari serpihan cangkang kerang.

Di sisi lain, pengunjung juga diajak melayani sejarah yang lebih personal. Beberapa karya adalah reinterpretasi aksesori lama milik ibu atau nenek Sari—bros perak yang patah, kalung mutiara yang putus, yang kemudian "dilahirkan kembali" dengan tambahan elemen kontemporer. Proses ini, kata Sari, adalah bagian dari evolusi yang paling mengharukan. "Saya ingin perempuan yang memakai ini merasa bahwa luka dan patah bukanlah akhir. Dari patahan itu, sesuatu yang jauh lebih cantik bisa tumbuh."

Air Mata di Antara Bilik Pamer

Momen yang paling menyentuh terjadi ketika seorang pengunjung paruh baya, berambut pendek dengan uban yang mulai menyebar, berdiri lama di depan seri Krisalis. Air matanya menetes tanpa suara. Ia kemudian bercerita bahwa liontin berbentuk kapsul yang di dalamnya ada potongan renda itu mengingatkannya pada kerudung mendiang ibunya. "Saya seperti melihat ibu saya tersenyum lagi," katanya pelan. Sari yang mendengar dari kejauhan menghampiri, lalu mendekap wanita itu tanpa banyak kata. Adegan ini menjelma menjadi gambaran paling utuh tentang apa yang sebenarnya ingin dicapai oleh "EVOLUSI": seni sebagai ruang aman untuk merayakan ingatan dan transformasi.

Tidak hanya itu, antusiasme juga datang dari kalangan muda. Sekelompok mahasiswa desain tekstil terlihat asyik mencatat dan mendiskusikan teknik penyambungan material yang tidak konvensional. Salah satu dari mereka, Dito, mengaku terinspirasi. "Biasanya artwear itu susah dipahami karena terlalu konseptual. Tapi ini terasa membumi, dekat dengan kita, seperti cerita keseharian yang tiba-tiba jadi cantik." Ucapannya menjadi bukti bahwa pendekatan TULOLA yang humanis berhasil menjembatani jarak antara seni dan kehidupan sehari-hari.

Merayakan Keberagaman dalam Setiap Untai

Pameran "EVOLUSI" ditutup dengan instalasi kolaboratif: pengunjung diundang untuk menambahkan satu elemen kecil—batu, benang, atau ranting—ke dalam sebuah jaring raksasa yang sejak pagi digantung di dekat pintu keluar. Menjelang malam, jaring itu telah berubah menjadi mosaik tiga dimensi yang rumit, tidak beraturan, dan sangat indah. Ini adalah metafora pamungkas: bahwa evolusi sejati tidak pernah tunggal, ia adalah himpunan dari jutaan langkah kecil yang tak selalu seragam. Ia menerima kegagalan, penerimaan, dan keberagaman. "Evolusi bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang berani bertumbuh bersama," tutup Sari, suaranya bergetar. Di Kawan Nusantara, TULOLA telah menorehkan lebih dari sekadar koleksi; mereka menanamkan keyakinan bahwa dalam setiap perubahan, selalu ada cerita yang layak dirayakan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User