Di sudut dapur berukuran 3x4 meter itu, asap mengepul dari tungku kayu yang menyala kecil. Seorang perempuan paruh baya dengan cekatan memetik daun singkong muda dari kebun belakang rumahnya. Jemarinya yang sudah keriput memilih helai demi helai, mencari yang paling lebar dan lentur, cukup kuat untuk membungkus isian yang nanti akan ia racik. Perempuan itu adalah Mbah Suti, penjaga resep buntil daun singkong isi tempe yang telah diwariskan tiga generasi di keluarganya.
Buntil. Sebuah nama yang mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, namun bagi mereka yang tumbuh di pedesaan Jawa, hidangan ini adalah lambang kesederhanaan yang sarat makna. Daun singkong yang biasa dianggap sebagai pakan ternak, disulap menjadi pembungkus alami yang memberikan aroma khas. Di dalamnya, tempe—makanan rakyat yang penuh gizi—dihaluskan bersama bumbu dan parutan kelapa muda, menciptakan perpaduan rasa yang menyentuh lidah dan hati.
Kenangan di Balik Selembar Daun
Bagi Mbah Suti, membuat buntil bukan sekadar rutinitas dapur. Setiap kali ia merebus daun singkong hingga layu, ingatannya melayang pada masa kecilnya di tahun 1960-an. Saat itu, keluarganya tak selalu punya cukup uang untuk membeli daging. Tempe adalah penyelamat. “Tempe kuwi berkah,” ujarnya lirih, sambil mengulek bumbu di cobek batu. Bersama daun singkong yang melimpah di pekarangan, terciptalah lauk yang mengenyangkan dan membahagiakan seisi rumah.
Proses membuat buntil adalah perjalanan kesabaran. Setelah daun direbus, urat daun yang keras di bagian tengah harus diiris tipis agar lentur. Isiannya terdiri dari tempe yang dikukus lalu ditumbuk halus, dicampur dengan kelapa parut, bawang merah, bawang putih, cabai, kencur, dan sedikit gula merah. Semua diaduk hingga menyatu, lalu dibungkus dengan daun singkong layu, dibentuk seperti lontong kecil. Setiap lipatan adalah doa, setiap ikatan dari serat daun adalah janji akan kehangatan di meja makan.
“Saya ingat, ibu saya dulu selalu bilang, kalau membungkusnya harus rapat, biar rezekinya enggak bocor,” kata Mbah Suti dengan mata berbinar. Pesan sederhana itu terus ia pegang hingga kini.
Dari Dapur Desa ke Meja Modern
Hidangan buntil mungkin tak sepopuler rawon atau gudeg. Namun, justru dalam ketenangannya, buntil menyimpan kisah tentang ketahanan pangan lokal. Tempe, sebagai produk fermentasi kedelai yang kini diakui dunia, telah menjadi tulang punggung protein nabati masyarakat Indonesia sejak lama. Ketika dibalut dalam buntil, tempe menemukan bentuknya yang paling rendah hati: tidak digoreng atau dioseng, melainkan dikukus dalam balutan daun yang membuat teksturnya lembut dan aromanya menguar.
Saat ini, para pegiat kuliner nusantara mulai melirik kembali buntil. Di beberapa restoran bertema tradisional, hidangan ini muncul dengan sentuhan baru—kuah santan yang lebih ringan, atau isian yang divariasikan dengan ikan teri. Namun bagi para perantau, tak ada yang bisa menandingi rasa buntil buatan nenek di kampung. Hidangan ini bukan hanya tentang resep, melainkan tentang mimpi pulang dan kehangatan keluarga yang tak tergantikan.
Resep yang Tak Pernah Ditulis
Uniknya, Mbah Suti tidak pernah menuliskan resepnya. Semua tersimpan dalam ingatan dan rasa. “Takaran bumbu itu menurut perasaan,” katanya. Saat cucunya mencoba mencatat, Mbah Suti hanya tertawa kecil. Baginya, memasak adalah seni merasakan, bukan ilmu yang kaku. Itulah sebabnya, setiap generasi mungkin menghasilkan buntil dengan cita rasa yang sedikit berbeda, namun semua tetap bertumpu pada semangat yang sama: cinta yang dibungkus dalam daun singkong.
Setelah dibungkus, buntil-buntil itu direbus dalam santan berbumbu hingga daunnya berubah warna menjadi hijau tua mengilap. Sesekali Mbah Suti membuka tutup panci, memastikan kuah santan tidak pecah. Aroma kencur dan daun singkong bercampur mengepul, memenuhi dapur, menjadi tanda bahwa sebentar lagi keluarga akan berkumpul. Momen ini adalah puncak dari seluruh proses yang memakan waktu hampir dua jam itu.
Bila kita beruntung, kita masih bisa menemukan hidangan seperti ini di sudut-sudut pasar tradisional atau di rumah-rumah yang masih memegang teguh warisan leluhur. Buntil daun singkong isi tempe bukan sekadar makanan. Ia adalah inspirasi tentang bagaimana keterbatasan bisa melahirkan kreasi yang bertahan melintasi zaman. Di setiap gigitannya, tersimpan air mata bahagia seorang nenek yang bangga warisannya masih dinikmati.
Mbah Suti kini berusia 78 tahun. Setiap pagi, ia masih menyempatkan diri ke dapur, meski langkahnya sudah tak setegap dulu. “Selagi masih bisa, saya ingin terus masak. Biar anak cucu ingat, dari mana mereka berasal,” tutupnya dengan senyum yang teduh.
Comments (0)