Di sebuah ruangan yang dipenuhi para tokoh budaya dan sejarawan, Menteri Kebudayaan Fadli Zon berdiri di hadapan mimbar. Suaranya mantap, namun ada getar haru ketika ia menyebut satu nama: Syekh Yusuf Al-Makassari. "Empat abad sudah berlalu, tetapi nyala perjuangan beliau tidak pernah padam," ujarnya, mengawali sebuah perjalanan mengenang sosok yang telah lama diakui dunia.
Peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf bukan sekadar seremonial tahunan. Ia adalah momen mengharukan untuk kembali menyelami kisah seorang ulama, pejuang, dan diplomat ulung yang jejaknya membentang dari Makassar hingga Afrika Selatan. Fadli Zon menyebutnya sebagai salah satu putra terbaik bangsa yang kontribusinya terhadap peradaban dunia tak terbantahkan. "Beliau adalah bukti bahwa Indonesia tidak pernah kecil di mata dunia," tambahnya.
Dari Gowa ke Ujung Dunia: Perjalanan yang Tak Pernah Usai
Syekh Yusuf lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, pada 1626. Sejak muda, ia dikenal sebagai pelajar yang haus ilmu. Ia mengisahkan perjalanan spiritualnya ke berbagai penjuru negeri—dari Banten, Aceh, hingga Mekah dan Madinah. Namun, di balik kecintaannya pada ilmu, ada semangat perlawanan yang membara terhadap penjajahan. Ia berjuang bersama Sultan Ageng Tirtayasa di Banten, hingga akhirnya harus menerima takdir pengasingan.
Di balik layar sejarah yang sering dilupakan, Syekh Yusuf diasingkan ke Ceylon, lalu ke Afrika Selatan. Di sana, ia tidak menyerah. Ia justru bangkit menjadi guru bagi masyarakat setempat, menyebarkan ajaran Islam dan nilai-nilai kemanusiaan. "Di tanah pembuangan, beliau menanam benih peradaban. Itulah diplomasi budaya sejati," kata Fadli Zon, mengenang.
"Syekh Yusuf mengajarkan bahwa perjuangan tidak selalu dengan pedang. Kadang, ia hadir lewat ilmu, kesabaran, dan cinta pada sesama."
Kisah pengasingan itu menjadi salah satu bab paling menyentuh dalam sejarah Indonesia. Di Cape Town, nama Syekh Yusuf masih dihormati hingga kini. Makamnya menjadi situs warisan dunia yang dikunjungi banyak orang. "Air mata saya menetes saat membaca surat-surat beliau dari pembuangan. Ada rindu pada tanah air, tetapi ada juga keteguhan yang luar biasa," ujar seorang peneliti yang hadir dalam acara tersebut.
Warisan yang Tetap Hidup di Generasi Muda
Fadli Zon menekankan bahwa peringatan 400 tahun ini bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana warisan Syekh Yusuf dapat menginspirasi generasi kini. "Kita hidup di zaman yang berbeda, tetapi tantangannya mirip: bagaimana menjaga identitas, merawat toleransi, dan membangun peradaban," tuturnya.
Ia berharap, semangat Syekh Yusuf dapat menjadi kompas bagi Indonesia dalam menghadapi dunia yang semakin kompleks. "Beliau adalah bukti bahwa Islam dan kebudayaan lokal bisa berjalan seiring. Tidak ada pertentangan antara iman dan kebangsaan," tegasnya.
Dalam acara itu, sejumlah budayawan dan sejarawan juga berbagi kisah personal tentang bagaimana Syekh Yusuf memengaruhi cara pandang mereka. Seorang seniman muda mengaku terinspirasi membuat karya teater tentang perjalanan hidup Syekh Yusuf. "Saya menangis saat menulis naskahnya. Beliau adalah pahlawan yang jarang dibicarakan, tetapi selalu ada di hati," katanya.
Menyalakan Obor Perjuangan di Masa Kini
Menutup sambutannya, Fadli Zon mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan peringatan ini sebagai titik balik. "Mari kita rawat warisan ini bukan dengan retorika, tetapi dengan tindakan. Belajar dari Syekh Yusuf berarti berani berdiri di jalan kebenaran, meski harus berkorban," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Ia juga menyoroti pentingnya diplomasi budaya sebagai kekuatan Indonesia di kancah global. "Syekh Yusuf telah membuktikan bahwa budaya bisa menjadi jembatan antarnegara. Kita harus melanjutkan itu," tambahnya.
Acara pun ditutup dengan doa bersama, dipimpin oleh seorang imam yang mengutip pesan Syekh Yusuf tentang pentingnya persaudaraan. Di sudut ruangan, beberapa orang tua tampak menyeka sudut mata mereka. Ada haru, ada bangga, dan ada harapan yang kembali menyala.
Empat abad bukan waktu yang singkat. Namun bagi Syekh Yusuf, waktu seakan tak mampu mengikis jejaknya. Dari Gowa hingga Cape Town, namanya tetap hidup. Dan di Jakarta hari itu, obor perjuangannya kembali dinyalakan—bukan untuk membakar, tetapi untuk menerangi jalan bangsa yang sedang mencari arah. "Beliau adalah inspirasi abadi. Kita hanya perlu berani melanjutkan," pungkas Fadli Zon.
Comments (0)