Sep 02, 2026
entertainment

Eddy Soeparno dan Momen Penuh Makna di Balik Peluncuran Film Energi Untuk Negeri

Langit Jakarta belum sepenuhnya cerah ketika eddy Soeparno melangkah masuk ke ruangan. Senyumnya ramah, seperti biasa—namun ada sesuatu yang berbeda malam itu. Matanya sedikit berkaca-kaca saat laya...

Eddy Soeparno dan Momen Penuh Makna di Balik Peluncuran Film Energi Untuk Negeri

Langit Jakarta belum sepenuhnya cerah ketika eddy Soeparno melangkah masuk ke ruangan. Senyumnya ramah, seperti biasa—namun ada sesuatu yang berbeda malam itu. Matanya sedikit berkaca-kaca saat layar besar menampilkan kilasan kehidupan para pahlawan energi di daerah terpencil Indonesia. Mantan politisi yang dikenal tegas di parlemen itu, kali ini hadir bukan sebagai wakil MPR, melainkan sebagai seseorang yang punya羞口 dengan cerita-cerita kecil yang selama ini jarang terdengar.

Film dokumenter bertajuk "Energi Untuk Negeri" resmi diluncurkan di sebuah gedung seni kawasan Jakarta, Senin (1/9/2026). Acara yang terkesan sederhana itu justru menyisakan kesan mendalam bagi siapa pun yang hadir. Di balik layar produksinya, ada perjuangan panjang untuk membawa kisah nyata ke permukaan—dan eddy Soeparno berdiri di barisan terdepan untuk mendukungnya.

Dari Balik Layar ke Layar Lebar

Bagi eddy, malam itu bukan sekadar menghadiri peluncuran film. Ia sendiri yang mendorong agar dokumenter semacam ini mendapat ruang di mata publik. "Kita terlalu sering mendengar tentang energi dari angka-angka di laporan resmi," katanya dalam pidato singkatnya. "Tapi jarang sekali kita mendengar suara mereka yang benar-benar hidup di garis depan—yang setiap hari memastikan listrik sampai ke desa-desa terpencil."

Dalam film berdurasi 75 menit itu, penonton dibawa menyusuri kehidupan para teknisi listrik yang bekerja di pedalaman Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Kamera menangkap momen-momen sederhana namun mengharukan: seorang teknisi yang harus menyeberangi sungai berarus deras hanya untuk memperbaiki tiang listrik, atau seorang ibu di desa yang menangis haru saat lampu ruangannya menyala untuk pertama kali setelah bertahun-tahun hidup dalam kegelapan.

"Mereka tidak minta dipuji. Mereka hanya minta agar pekerjaannya dihargai. Malam ini, kita semua hadir untuk mengatakan: kami mendengar kalian," kata Eddy Soeparno dengan suara bergetar.

Perjalanan Panjang Menuju Cahaya

Edhy Soeparno—begitu ia biasa dipanggil—bukan orang baru dalam dunia energi. Selama bertahun-tahun duduk di komisi yang membidangi energi di MPR, ia sering melakukan kunjungan lapangan ke daerah-daerah yang belum terjamah jaringan listrik memadai. Pengalaman itu, katanya, mengubah pandangannya secara fundamental.

"Dulu saya pikir masalah energi itu soal infrastruktur dan anggaran," aku Eddy dalam percakapan santai seusai pemutaran film. "Tapi setelah turun langsung, saya sadar—masalahnya ada di manusia. Di dedikasi mereka yang tidak pernah menyerah."

Momen yang paling membekas dalam ingatan Eddy adalah ketika ia mengunjungi sebuah desa di Timor Tengah Selatan. Di sana, ia bertemu dengan seorang teknisi listrik berusia 52 tahun yang telah mengabdi selama 28 tahun tanpa pernah absen sehari pun. "Dia cerita, suatu malam terjadi badai besar dan semua tiang listrik ambruk. Keesokan harinya, dia sudah berdiri di sana lagi, memulai semuanya dari nol," kenang Eddy, menghela napas panjang.

Mimpi yang Terus Menyala

Peluncuran film dokumenter ini bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari sesuatu yang lebih besar. Eddy Soeparno mengungkapkan bahwa ia tengah mengupayakan agar kisah-kisah serupa bisa masuk ke kurikulum pendidikan nasional. "Anak-anak kita perlu tahu bahwa ada pahlawan-pahlawan tanpa seragam yang bekerja dalam keheningan," katanya dengan penuh keyakinan.

Selain itu, ia juga mendorong agar pemerintah memberikan apresiasi nyata kepada para teknisi yang bertugas di daerah terpencil—bukan sekadar penghargaan simbolis, tapi juga peningkatan kesejahteraan yang substantive. "Energi untuk negeri tidak bisa hanya jadi slogan. Ia harus terasa di setiap rumah, setiap desa, dan setiap senyum keluarga yang akhirnya bisa menikmati cahaya listrik," tegas Eddy.

Saat acara berakhir dan penonton berangsur meninggalkan ruangan, eddy masih berdiri di depan layar. Ia menatap layar yang kini gelap itu lama, seolah masih melihat kilasan-kilasan wajah para teknisi yang telah menjadi bagian dari perjalanannya. Di luar gedung, Jakarta malam itu tetap ramai seperti biasa. Tapi di dalam hati eddy Soeparno, ada sesuatu yang lebih terang dari sebelumnya—keyakinan bahwa setiap perjuangan, sekecil apa pun, pasti akan menemukan cahayanya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User