Malam itu, di ruang kerjanya yang temaram, Denny Sumargo menatap layar ponselnya lebih lama dari biasanya. Satu per satu komentar warganet mengalir deras di akun media sosialnya. Ada yang membela, namun tak sedikit pula yang menuduhnya memilih berdiri di satu sisi. Semua bermula dari keputusannya menghadirkan Sarwendah dan pengacara Ruben Onsu secara bergantian di kanal podcast miliknya.
Bagi pria yang akrab disapa Densu itu, tudingan tersebut terasa seperti palu yang menghantam pelan namun dalam. Ia bukan orang baru di dunia perbincangan publik. Bertahun-tahun ia membangun ruang dialog yang menjadi rumah bagi banyak kisah — dari kisah haru, pahit, hingga yang paling rumit sekalipun. Namun kali ini, rumah itu terasa diguncang oleh badai prasangka.
Badai Komentar yang Datang Tanpa Diundang
Semuanya berawal dari dua episode yang tayang berurutan. Di satu sisi, Sarwendah hadir dan berbicara dari hati tentang perjalanan hidupnya. Di sisi lain, kuasa hukum Ruben Onsu juga diberi kesempatan menyampaikan sudut pandangnya. Bagi Denny, itu adalah bentuk keadilan dalam bercerita. Bagi sebagian warganet, itu justru terlihat seperti keberpihakan.
Kolom komentarnya pun berubah menjadi medan perang opini. Ada yang menilai ia terlalu memberi panggung pada satu pihak, ada pula yang mempertanyakan niatnya mengundang pihak lain. Di tengah riuh rendah itu, Denny memilih tidak buru-buru membela diri. Ia diam sejenak, membaca, dan mencoba memahami dari mana kemarahan itu berasal.
"Saya ini tuan rumah. Tugas saya membuka pintu, bukan menutupnya untuk siapa pun," ujar Denny dengan nada tenang namun tegas.
Menjadi Rumah bagi Dua Cerita
Di balik layar, keputusan menghadirkan kedua belah pihak bukanlah hal yang mudah. Denny mengisahkan bahwa setiap tamu yang datang membawa luka, harapan, dan keberaniannya masing-masing. Duduk di kursi podcast dan berbicara di hadapan jutaan pasang mata bukan perkara sederhana, apalagi ketika yang dibicarakan adalah persoalan keluarga yang begitu personal.
Ia memahami bahwa publik kerap ingin jawaban hitam dan putih. Siapa yang benar, siapa yang salah. Namun hidup, menurutnya, jarang sesederhana itu. Ada abu-abu yang luas di antara dua warna, dan di sanalah kemanusiaan sesungguhnya berada. Memberi ruang kepada Sarwendah bukan berarti menyerang Ruben. Memberi panggung kepada pengacara Ruben bukan berarti mengkhianati Sarwendah.
"Kalau saya hanya mengundang satu pihak, orang akan bertanya ke mana suara yang satunya. Kalau saya undang dua-duanya, saya dibilang memanas-manasi. Jadi sebenarnya maunya bagaimana?" tuturnya, setengah tersenyum getir.
Bukan Soal Memihak, Melainkan Berani Mendengar
Bagi Denny, podcast bukanlah pengadilan. Ia bukan hakim yang menjatuhkan vonis, bukan pula jaksa yang menuntut kebenaran versi dirinya. Ia hanyalah seorang pendengar yang kebetulan memiliki mikrofon dan panggung. Dan justru karena itulah ia merasa bertanggung jawab menjaga panggung itu tetap lapang untuk semua suara.
Perjalanan panjangnya sebagai pembawa acara mengajarkan satu hal yang ia pegang erat: setiap orang berhak didengar, bahkan ketika ceritanya tidak nyaman di telinga. Momen mengharukan kerap lahir bukan dari penghakiman, melainkan dari kesediaan duduk diam dan menyimak. Itulah yang coba ia jaga, meski harus menelan tudingan yang tak menyenangkan.
Ia juga menyadari bahwa kisah Sarwendah dan Ruben Onsu menyentuh begitu banyak orang karena keduanya pernah menjadi potret keluarga yang dicintai publik. Ketika rumah tangga itu retak, banyak hati ikut patah. Dan ketika hati patah, orang mencari tempat untuk menambatkan kekecewaan — kali ini, tambatan itu adalah dirinya.
Menutup Badai dengan Keteguhan
Denny tidak marah. Setidaknya, begitu yang terlihat dari caranya merespons. Ia memilih menjawab tudingan dengan penjelasan yang menyejukkan, bukan amarah yang membakar. Baginya, kepercayaan publik dibangun dari konsistensi, bukan dari satu dua episode yang dipotong-potong menjadi prasangka.
Di akhir pernyataannya, ia berharap publik bisa melihat lebih jernih. Bahwa di balik setiap perbincangan yang ia hadirkan, ada niat sederhana: memberi manusia ruang untuk bercerita sebagai manusia. Bukan sebagai tersangka, bukan sebagai korban, melainkan sebagai pribadi yang sedang berjuang menjalani hidupnya masing-masing.
Malam itu, setelah meletakkan ponselnya, Denny kembali menatap kamera di sudut ruangan. Besok, ia akan kembali duduk di kursi yang sama, membuka pintu yang sama, untuk cerita-cerita baru yang menunggu untuk didengar. Karena baginya, selama masih ada orang yang berani berbagi kisah, selama itu pula ruangnya akan tetap terbuka.
Comments (0)