Di Balik Senyum: Publik Figur yang Menepi dari Hiruk Pikuk Natal
Lampu-lampu hias berpendar redup dari balik tirai tipis apartemen di kawasan Jakarta Selatan itu. Di dalam, tidak ada pohon cemara berhiaskan pernak-pernik, tak terdengar alunan lagu “Malam Kudus”...
Lampu-lampu hias berpendar redup dari balik tirai tipis apartemen di kawasan Jakarta Selatan itu. Di dalam, tidak ada pohon cemara berhiaskan pernak-pernik, tak terdengar alunan lagu “Malam Kudus”. Seorang perempuan duduk sendiri di tepi sofa, memandangi ponselnya yang dipenuhi unggahan teman-teman sesama artis yang tengah merayakan Natal bersama keluarga. Ia menghela napas panjang, lalu meletakkan ponsel dengan hati-hati. Inilah kisah di balik keriuhan akhir tahun yang kerap luput dari sorot kamera: ada sejumlah publik figur yang memilih untuk tidak ikut serta dalam perayaan Natal, dan pilihan itu bukanlah tanpa alasan.
Bukan Sekadar Beda Keyakinan
Masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan gambaran bahwa Natal adalah milik semua orang yang ingin merasakan kehangatannya, bahkan sering kali menjadi momen lintas agama untuk bersilaturahmi. Namun bagi sebagian figur publik, keputusan untuk tidak merayakan atau bahkan menghindari perayaan ini melampaui urusan iman semata. Ada perjalanan personal yang mengisahkan bagaimana sorotan publik memaknai pilihan mereka sebagai sesuatu yang “aneh” atau “eksklusif.”
Seorang penyanyi yang enggan disebut namanya mengisahkan masa kecilnya di lingkungan mayoritas Nasrani. “Saya tumbuh dengan teman-teman yang merayakan Natal setiap tahun. Tapi di rumah, ibu saya selalu berkata, ini bukan hari raya kita. Jadi saya belajar sejak dini bahwa ikut merayakan tanpa memahami maknanya adalah bentuk penghormatan yang setengah hati,” tuturnya. Ia kini memilih untuk tetap bekerja seperti biasa saat tanggal 25 Desember tiba, menolak menghadiri pesta atau sekadar mengunggah ucapan selamat yang dirasa tidak tulus.
Pilihan ini sering kali berbenturan dengan ekspektasi publik yang menganggap seorang selebritas harus selalu tampil “merangkul semua.” Padahal, menepi bisa jadi adalah bentuk penghargaan terdalam—bukan pada tradisi, melainkan pada keyakinan diri sendiri.
Ketika Sorotan Lebih Menyakitkan daripada Kesendirian
Di balik kemewahan panggung hiburan, ada tekanan sosial yang tak kasatmata. Beberapa figur publik mengaku bahwa mereka memilih menghindari perayaan Natal justru karena tak ingin menjadi “tontonan” toleransi yang dipaksakan. “Pernah suatu kali saya datang ke acara Natal teman karena diajak, lalu foto-foto kami tersebar dengan narasi: ‘Artis Muslim Ini Ikut Rayakan Natal, Toleransi Banget!’ Rasanya saya seperti dijadikan alat,” ungkap seorang aktor muda yang kini lebih memilih diam di rumah.
Psikolog sosial yang meneliti fenomena ini menyebutnya sebagai “paradoks sorotan inklusif.” Semakin seseorang dikenal, semakin besar pula tuntutan agar ia menunjukkan sikap terbuka pada semua perayaan. Padahal, justru di ruang-ruang yang tidak terlihat itulah toleransi sejati bekerja: saat seseorang tidak hadir, tetapi tetap menjaga hati dan lisannya dari merendahkan yang lain.
Bagi sebagian publik figur, menghindari perayaan Natal adalah bentuk menjaga jarak yang sehat. Mereka ingin memberikan ruang bagi umat Kristiani untuk merayakan tanpa merasa “ditemani” oleh orang yang sebenarnya tak memiliki afiliasi emosional dengan hari itu. “Saya mencintai teman-teman saya yang Nasrani, justru karena itu saya tidak mau basa-basi. Saya memilih mendoakan mereka dalam diam,” ujar seorang penulis skenario terkenal.
Kisah Luka yang Tak Terungkap
Tak semua keputusan datang dari prinsip yang tenang. Ada pula luka yang mengendap di baliknya. Seorang presenter televisi yang biasa tampil ceria mengisahkan bagaimana kenangan masa lalu membuatnya sulit berada di dekat perayaan Natal. “Ayah saya meninggal dunia pada malam Natal bertahun-tahun lalu. Sejak saat itu, aroma kue jahe dan suara lonceng gereja justru membawa rasa kehilangan yang dalam,” katanya lirih. Baginya, menjauh bukan berarti membenci. Itu adalah cara jiwa bertahan.
Cerita semacam ini jarang muncul ke permukaan karena narasi publik lebih suka mengkotak-kotakkan pilihan sebagai “toleran” atau “tertutup.” Padahal, banyak jalan tengah yang ditempuh dengan air mata dan perenungan panjang. Seorang komedian dari Jawa Timur mengaku bahwa ia pernah mencoba memaksakan diri hadir di perayaan Natal tetangga saat awal kariernya, hanya demi pencitraan. “Saya merasa munafik. Tawa saya di sana palsu. Akhirnya, saya belajar untuk jujur pada diri sendiri: tidak apa-apa tidak ikut, selama saya tetap menghormati.”
Di momen seperti inilah, kalimat sederhana “Selamat Natal” yang tulus dari mulut mereka yang tidak merayakan justru lebih bermakna daripada sekadar pesta pora bersama. Kehadiran tidak selalu tentang fisik.
Ruang Hening di Tengah Hiruk-Pikuk
Malam puncak Natal, sebagian besar kota di Indonesia berubah menjadi lautan lampu dan suka cita. Namun bagi figur-figur yang memilih menepi, malam itu adalah tentang bagaimana mereka menemukan kedamaian dengan pilihan sendiri. Ada yang menghabiskan waktu dengan membaca buku, menulis jurnal, atau sekadar menelepon orang tua di kampung. Jauh dari kilatan kamera, di sudut ruangan berukuran 3x4 meter, mereka justru menemukan kehangatan yang autentik.
Kisah-kisah ini bukanlah tentang penolakan terhadap keberagaman. Sebaliknya, mereka menyuguhkan potret keberagaman itu sendiri: bahwa dalam masyarakat yang majemuk, cara orang merayakan atau tidak merayakan sesuatu juga berhak dihormati. Publik figur yang memilih menghindari perayaan Natal mengajarkan kita bahwa toleransi tidak selalu harus dipertontonkan. Kadang, ia ada di dalam helaan napas, di antara ketukan jari di atas meja, dan di dalam sikap yang menjaga batas dengan penuh cinta.
Baca juga:
Comments (0)