Sep 02, 2026
entertainment

Di Balik Layar Pembuatan Ulang The Intern Versi Korea yang Penuh Tantangan

Di sebuah sudut set film yang sunyi, sutradara Korea Selatan itu terdiam sejenak. Tangannya menggenggam naskah yang sudah ia revisi belasan kali. Mimpi untuk membawa kisah hangat The Intern ke layar l...

Di Balik Layar Pembuatan Ulang The Intern Versi Korea yang Penuh Tantangan

Di sebuah sudut set film yang sunyi, sutradara Korea Selatan itu terdiam sejenak. Tangannya menggenggam naskah yang sudah ia revisi belasan kali. Mimpi untuk membawa kisah hangat The Intern ke layar lebar negerinya terasa begitu dekat, namun tantangannya jauh lebih berat dari yang ia bayangkan.

Film asli karya Nancy Meyers yang dirilis pada 2015 itu telah mencuri hati jutaan penonton di seluruh dunia. Kisah hubungan tak terduga antara seorang pensiunan eksekutif berusia 70 tahun dengan seorang perempuan entrepreneur muda menjadi rahasia yang tak terbantahkan. Menghadirkannya kembali dalam konteks Korea Selatan berarti harus berani merombak fondasi cerita tanpa kehilangan esensinya.

Tekanan Menghadirkan Kisah yang Berbeda namun Tetap Menggelora

Sutradara yang enggan disebutkan namanya itu mengakui bahwa tekanan terbesar bukan datang dari ekspektasi produser, melainkan dari bayangan film orisinal yang sudah begitu melekat di hati penonton. "Saya tidak ingin sekadar menjiplak. Itu bukan penghormatan, itu pencurian," katanya dengan nada penuh semangat.

Proses adaptasi dimulai dengan riset mendalam tentang budaya kerja Korea. Tim penulis menghabiskan berminggu-minggu melakukan wawancara dengan para lansia Seoul yang masih aktif bekerja. Mereka ingin memastikan karakter pensiunan dalam versi Korea memiliki kedalaman yang autentik, bukan sekadar transplantasi dari versi Hollywood.

Salah satu pemain utama, seorang aktris muda yang dipercaya memegang peran entrepreneur, menceritakan pengalaman emosionalnya selama syuting. "Saya harus memahami dunia startup Seoul yang sesungguhnya. Bukan hanya berperan, tapi merasakan tekanan menjadi perempuan yang memimpin perusahaan di industri yang didominasi laki-laki," kisahnya dengan mata berkaca-kaca.

Momen Mengharukan di Balik Setiap Adegan

Proses syuting tidak selalu berjalan mulus. Ada momen di mana seluruh tim hampir kehilangan arah. Satu adegan kunci yang seharusnya menjadi klimaks harus direkam ulang berkali-kali karena tidak terasa cukup tulus.

"Di sudut ruangan berukuran 4x5 meter itu, kami semua terdiam. Sutradara kemudian meminta kami semua untuk berbagi cerita pribadi tentang hubungan dengan orang tua. Dari situlah semua berubah," kenang salah satu pemain.

Kehangatan yang selama ini menjadi ciri khas film Nancy Meyers berhasil mereka tangkap dengan cara yang berbeda. Alih-alih mengadaptasi secara harfiah, tim kreatif memilih untuk mengeksplorasi dinamika intergenerational yang khas Korea, di mana rasa hormat kepada lansia dan ekspektasi keluarga masih sangat kuat.

"Film ini mengajarkan kami bahwa kehangatan tidak mengenal bahasa atau budaya. Yang penting adalah kejujuran emosi di balik setiap adegan," tutur salah satu pemeran senior.

Para pemain senior yang terlibat dalam proyek ini juga mengungkapkan perasaan campur aduk. Bagi kebanyakan dari mereka, ini adalah pertama kalinya bermain dalam proyek berskala besar dengan pendekatan modern. Namun semangat mereka tidak pernah padam.

Bangkit dari Keraguan dan Mimpi yang Menjadi Nyata

Sebelum proses syuting dimulai, banyak pihak yang meragukan kemampuan tim Korea untuk menghidupkan kembali kisah yang sudah begitu sempurna. Namun keraguan itu justru menjadi bahan bakar semangat.

Sutradara menjelaskan bahwa salah satu keputusan paling berani yang diambil adalah mengubah latar waktu. Jika versi asli berlatar New York yang dinamis, versi Korea memilih Seoul dengan segala kompleksitasnya. "Seoul memiliki energi yang berbeda. Kota ini tidak pernah tidur, dan itu menciptakan ketegangan yang menarik untuk cerita," jelas sutradara.

Proses pasca-produksi juga tidak kalah menantang. Tim editing bekerja tanpa henti untuk memastikan irama film terasa natural, tidak terburu-buru seperti kebanyakan drama Korea yang cenderung melodramatis. Mereka ingin penonton merasakan setiap momen, seperti minum secangkir teh hangat di pagi hari yang dingin.

Akhirnya, setelah berbulan-bulan penuh perjuangan, film selesai dibuat. Premiere terbatas diadakan untuk teman-teman dekat dan kolega. Respons mereka? Air mata dan tepuk tangan yang panjang.

"Saya tidak mengharapkan semua orang suka. Saya hanya berharap ada satu adegan, satu momen, yang membuat penonton merasa tidak sendiri," kata sutradara dengan senyum sederhana yang menyimpan begitu banyak pengorbanan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User