Di Balik Layar Lagu 'Such a Funny Way' Sabrina Carpenter

Jarum jam di layar ponsel Alika masih menunjuk pukul 01.47 WIB ketika notifikasi dari aplikasi pemutar musik menyentak kantuknya. Matanya yang semula sayu seketika membulat: Sabrina Carpenter baru saj...

Jul 12, 2026 - 02:29
0 0
Di Balik Layar Lagu 'Such a Funny Way' Sabrina Carpenter

Jarum jam di layar ponsel Alika masih menunjuk pukul 01.47 WIB ketika notifikasi dari aplikasi pemutar musik menyentak kantuknya. Matanya yang semula sayu seketika membulat: Sabrina Carpenter baru saja merilis lagu bonus. Dengan tangan sedikit gemetar, ia menekan tombol putar. Di kamar kos berukuran 3x3 meter yang hanya diterangi lampu tidur redup itu, meluncurlah petikan gitar lembut dan lirik yang seolah merangkum perasaan yang selama ini tak mampu ia ungkapkan sendiri. Air mata Alika jatuh tanpa suara. Bukan karena sedih semata, melainkan karena merasa begitu dimengerti.

Kejutan di Tengah Malam yang Sepi

Keputusan Sabrina Carpenter merilis "Such a Funny Way" sebagai lagu bonus dari album Man's Best memang seperti hadiah tak terduga. Tidak ada kampanye besar-besaran, tidak ada hitung mundur di media sosial. Lagu itu muncul begitu saja di platform streaming, seakan ingin bertutur langsung kepada mereka yang bersedia mendengarkan di keheningan. Strategi yang sederhana, namun justru menciptakan rasa intim antara penyanyi dan pendengarnya.

"Gue sampai ngecek dua kali, takut itu cuma mimpi," ujar Alika, mahasiswi semester akhir di Yogyakarta yang mengaku telah mengidolakan Sabrina sejak album Emails I Can't Send. "Biasanya kan ada teaser dulu, ini enggak. Tiba-tiba aja ada di playlist. Rasanya kayak dikasih surat pribadi."

Proses Kreatif yang Lahir dari Kerapuhan

Di balik lagu ini, tersembunyi kisah penulisan yang jauh dari gemerlap panggung. Sabrina, dalam sebuah wawancara intim, mengisahkan bahwa "Such a Funny Way" lahir di sebuah studio kecil di Nashville saat ia sedang berusaha menyembuhkan diri dari kekecewaan. "Lagu ini tentang momen ketika kamu menyadari bahwa sesuatu yang menyakitkan ternyata bisa juga membuatmu tertawa," ungkapnya, matanya menerawang. "Rasanya aneh, tapi di situlah letak manusiawinya."

Dibantu oleh produser langganannya, Sabrina hanya butuh waktu satu malam untuk merekam demo pertama. "Kami tidak banyak bicara. Aku hanya duduk di depan piano, menulis apa yang keluar dari hati, lalu merekamnya tanpa banyak polesan," kenangnya. Kesederhanaan itu terasa jelas dalam aransemen: tidak ada produksi berlebihan, hanya vokal hangat Sabrina yang ditemani denting piano dan gesekan cello di bagian akhir. Sebuah keberanian untuk telanjang secara emosi.

Luka yang Berubah Jadi Pelajaran

Banyak yang menduga lirik lagu ini terinspirasi dari pengalaman pribadi penyanyi 25 tahun itu. Baris-baris seperti "You made me cry in a funny way / like a joke I didn't get till it was too late" terasa begitu jujur. Sabrina tidak membantah. "Aku selalu percaya bahwa menulis lagu adalah caraku mengobati diri. Kalau aku bisa mengubah rasa sakit jadi sesuatu yang indah, maka luka itu jadi punya makna," tuturnya.

Psikolog musik Dr. Rara Andini menilai, lagu-lagu semacam ini punya kekuatan memulihkan. "Ketika pendengar bisa mentertawakan luka lewat nada dan lirik, itu adalah proses kognitif yang sehat. Sabrina mengajak kita untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri," jelasnya. Tak heran, banyak penggemar yang kemudian membagikan kisah pribadi mereka di media sosial, menjadikan lagu ini sebagai soundtrack penyembuhan.

Gelombang Haru dari Para Pendengar

Begitu lagu ini tersedia, linimasa Twitter dan Instagram langsung dibanjiri tangkapan layar, terjemahan lirik, dan cerita-cerita yang tak kalah menyentuh. Seorang pendengar dari Surabaya menulis, "Aku baru putus tiga hari lalu. Lagu ini bikin aku nangis sambil tertawa. Terima kasih, Sabrina, sudah menemani malamku." Yang lain berkomentar, "Ini bukan sekadar lagu bonus. Ini pelukan untuk jiwa-jiwa yang sedang lelah."

Alika sendiri mengaku memutar lagu itu berkali-kali sampai tertidur. "Aneh ya, lagu yang bilang cinta itu lucu, tapi malah bikin hati tenang," katanya sambil tersenyum kecil. Bagi Alika, dan mungkin ribuan pendengar lain, "Such a Funny Way" bukan sekadar rilisan digital. Ia adalah pengingat bahwa di tengah kerumitan hidup, masih ada ruang untuk tersenyum—meski sambil berurai air mata. Sabrina Carpenter, lewat caranya yang sederhana, sekali lagi berhasil menyentuh ribuan hati tanpa perlu berteriak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User