Di ruang bioskop yang temaram, beberapa penonton tampak duduk termenung. Layar sudah gelap, kredit penutup telah usai, namun tak banyak yang langsung beranjak dari kursinya. Ada rasa ganjil yang menggantung di udara—sebuah perasaan yang sulit dijelaskan, antara decak kagum dan kekecewaan yang mengendap. Malam itu, kota Los Angeles menjadi saksi bisu atas salah satu perbincangan paling panas di dunia perfilman tahun ini: karya terbaru Alejandro G. Iñárritu, Digger, yang baru saja menggelar penayangan perdana terbatasnya.
Bagi banyak orang, nama Iñárritu sudah lama menjadi jaminan. Ia adalah sosok di balik mahakarya yang berhasil mengguncang dunia dan membawa pulang patung emas Oscar, seperti Birdman dan The Revenant. Perjalanan panjangnya di dunia sinema telah menjadikannya salah satu visualis paling berpengaruh di generasinya. Maka, ketika kabar tentang Digger mulai beredar, ekspektasi pun melambung tinggi. Berbagai media memuji pendekatannya yang ambisius, penyutradaraan yang berani, serta kemampuan sinematografi yang dikatakan mampu memukau penonton dari frame pertama.
Namun, kenyataan berkata lain. Sejak pemutaran pertamanya, gelombang kritik tajam justru mengalir deras. Sejumlah kritikus yang sebelumnya merupakan pengagum berat Iñárritu mengaku kecewa. Mereka menyebut Digger sebagai karya yang kehilangan jiwanya—sebuah bangunan megah yang berdiri di atas pondasi yang rapuh. Ada yang menyoroti alurnya yang lambat dan tak jelas arahnya, ada pula yang menilai film ini terjebak dalam ambisinya sendiri.
Sebuah Eksperimen yang Menemui Tembok
Duduk di sebuah kafe di kawasan Silver Lake, seorang kritikus senior yang enggan disebutkan namanya menuturkan kesannya. Dengan nada pelan, ia mengisahkan bagaimana ia masuk ke ruang bioskop dengan penuh harapan, namun keluar dengan perasaan hampa. “Ada momen ketika saya merasa film ini berbicara kepada saya, tetapi kemudian ia menghilang begitu saja. Seolah-olah ia tak tahu ingin bercerita tentang apa,” katanya sambil menyeruput kopi yang mulai dingin.
Ia melanjutkan bahwa Digger memang memiliki kekuatan visual yang tidak perlu diragukan. Komposisi gambar, permainan cahaya, dan warna—semuanya tampak digarap dengan sangat detail. Tetapi, menurutnya, semua elemen itu laksana perhiasan mahal yang diletakkan pada tubuh yang kehilangan nyawanya. “Sinematografinya menyentuh, tetapi ceritanya tidak. Saya tidak menemukan sosok manusia yang bisa saya peluk, yang bisa saya pahami,” ujarnya.
Kritik serupa datang dari sejumlah penonton yang hadir di penayangan awal. Di media sosial, perdebatan pun pecah. Ada yang menyebut Digger sebagai karya terlemah Iñárritu, ada yang justru membelanya habis-habisan, menyebut bahwa film ini adalah perlambang zaman yang memang sulit dicerna. Di antara riuh pro dan kontra itu, satu hal yang tak terbantahkan: Digger berhasil membuat orang berbicara. Entah itu pujian atau hinaan.
Ketika Kemegahan Tak Cukup Menyentuh
Mengisahkan perjalanan seseorang yang menggali tanah—entah untuk apa dan mengapa—film ini sebenarnya memuat tema besar tentang pencarian jati diri, kesepian, dan rasa kehilangan. Beberapa adegan digarap dengan sangat menyentuh, seolah Iñárritu ingin membawa penonton ke dalam lubang terdalam dari jiwa manusia. Namun, banyak yang menilai eksekusinya tidak konsisten. Alih-alih merasa terhubung, penonton malah merasa dijauhkan oleh gaya bercerita yang terlalu berputar-putar.
“Saya ingin mencintai film ini. Saya ingin merasakan air mata itu mengalir. Tapi gagal,” kata seorang penonton perempuan yang menonton di sebuah festival film. Ia mengaku datang karena nama besar sang sutradara, tapi pulang dengan tanda tanya di kepalanya. “Ada kalanya film ini seperti berbicara dalam bahasa yang tidak saya mengerti. Saya merasa terasing,” tambahnya.
Karya yang hebat adalah karya yang berani gagal. Tapi karya yang berani gagal belum tentu berhasil membuat orang merasa.
Pernyataan itu seolah menjadi pengingat bahwa di balik setiap kritik, ada pula keberanian yang patut dihargai. Iñárritu, dalam beberapa wawancara, memang dikenal sebagai pribadi yang tak pernah ingin mengulang formula yang sama. Ia selalu berjuang untuk menemukan cara baru dalam bercerita, meskipun kadang cara itu harus bertabrakan dengan selera penonton.
Jejak Sang Maestro yang Tak Pernah Diam
Bagi yang mengenal perjalanan Iñárritu, kritik bukanlah hal yang baru. Sepanjang kariernya, ia beberapa kali berada di titik yang sama—dihantam, diragukan, lalu bangkit dengan karya yang membuat dunia tersentak. Namun, kali ini situasinya terasa berbeda. Digger bukan hanya soal berhasil atau gagal, tapi juga tentang bagaimana seorang seniman harus berhadapan dengan ekspektasi publik yang уже menggunung.
Di balik layar, konon proses penggarapan Digger berlangsung cukup berat. Cuaca ekstrem, lokasi syuting yang sulit, serta jadwal yang padat menjadi cerita tersendiri. Ada momen ketika seluruh kru nyaris menyerah, namun Iñárritu dilaporkan terus mendorong mereka untuk bertahan. “Ia ingin sesuatu yang jujur, bahkan jika itu menyakitkan,” ujar seorang anggota kru yang enggan disebut namanya.
Hingga kini, pihak studi belum memberi tahu apakah akan ada perubahan signifikan sebelum rilis luas. Namun yang pasti, Digger sudah meninggalkan jejak—sebuah jejak yang tidak selalu indah, tapi tidak bisa diabaikan. Film ini mengingatkan kita bahwa seni tidak pernah benar-benar bisa memuaskan semua orang. Ada kalanya sebuah karya harus berdiri sendiri, menerima luka, lalu belajar dari sana.
Mungkin, seperti tokoh dalam filmnya yang terus menggali meski tanah semakin keras, Iñárritu pun tengah menggali sesuatu yang lebih dalam dari sekadar pujian. Ia sedang mencari suara yang mungkin belum ia temukan. Dan bagi penonton yang sabar menanti, perjalanan itu sendiri bisa jadi adalah sebuah kisah yang layak untuk disaksikan.
Comments (0)