Oct 11, 2026
entertainment

Di Balik Layar Klip NOAH: Ketika Ariel, David, dan Lukman Melangkah Tanpa Uki

Di sudut ruang produksi Musica Studio, Jakarta Selatan, pada Kamis siang itu, suasana terasa berbeda. Lampu-lampu studio menyala terang, kabel-kabel menjuntai rapi di lantai, dan sejumlah kru sibuk me...

Di Balik Layar Klip NOAH: Ketika Ariel, David, dan Lukman Melangkah Tanpa Uki

Di sudut ruang produksi Musica Studio, Jakarta Selatan, pada Kamis siang itu, suasana terasa berbeda. Lampu-lampu studio menyala terang, kabel-kabel menjuntai rapi di lantai, dan sejumlah kru sibuk mengatur posisi kamera. Di tengah kepungan peralatan itulah tiga personel NOAH — Ariel, David, dan Lukman — bersiap menjalani pengambilan gambar untuk video klip single terbaru mereka, Wanitaku. Namun, ada satu kursi yang tampak kosong. Kursi yang biasanya diisi sosok gitaris Uki.

Hari itu, suasana memang tidak seperti sesi syuting biasanya. Tak ada riuh canda yang lengkap, tak ada formasi empat orang yang selama ini menjadi wajah NOAH di hadapan penggemar. Yang tersisa adalah tiga pria yang tetap berdiri tegak, mencoba merangkai cerita visual dari sebuah lagu yang bagi mereka begitu personal. Di balik monitor, sang sutradara memberi aba-aba. Ariel mengangguk pelan, lalu melangkah ke depan kamera. Sorot matanya menerawang, seolah menyimpan banyak hal yang tidak ia ucapkan.

Sebuah Lagu, Sebuah Ruang yang Berbeda

Bagi para penggemar setia NOAH, momen itu terasa menyentuh. Wanitaku bukan sekadar single baru. Lagu ini menjadi penanda perjalanan yang tidak lagi utuh seperti dulu. Proses syuting di Musica Studio kala itu menjadi saksi bagaimana Ariel, David, dan Lukman harus beradaptasi dengan formasi yang berubah. Mereka tetap bekerja, tetap berkarya, meski ada ruang yang terasa lowong.

“Kami ingin tetap memberikan yang terbaik untuk lagu ini,” ujar Ariel singkat di sela jeda pengambilan gambar, seperti dikutip dari suasana lokasi. Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan beban perasaan yang dalam. Seorang musisi yang telah melalui berbagai fase kehidupan bandnya tentu tahu, setiap karya selalu membawa cerita sendiri — termasuk cerita tentang kehilangan dan bangkit kembali.

Di lokasi, terlihat bagaimana David dan Lukman saling melempar senyum tipis. Mereka tahu, hari itu bukan tentang siapa yang tidak hadir, melainkan tentang bagaimana mereka yang tersisa tetap melangkah. Kru produksi pun merasakan atmosfer yang agak berbeda. Ada kalanya hening menyelimuti ruangan saat pengambilan gambar berlangsung, seolah semua orang menghormati proses yang sedang berjalan.

Ketika Formasi Berubah, Semangat Tetap Sama

Perubahan formasi bukan hal baru dalam perjalanan sebuah band. Namun bagi NOAH, keputusan untuk melanjutkan tanpa Uki tentu bukan perkara mudah. Uki, yang telah lama menjadi bagian dari perjalanan musik mereka, memilih menempuh jalannya sendiri. Dalam konteks itulah video klip Wanitaku dikerjakan — sebagai bukti bahwa musik tetap bisa berbicara meski tanpa satu sosok yang biasa mengisi ruang gitar.

Di lokasi syuting, Ariel tampak beberapa kali berdialog dengan sutradara. Ia memperhatikan detail, memberi masukan, dan sesekali menatap layar monitor dengan serius. Ada momen ketika ia tersenyum kecil setelah satu adegan selesai diambil. Senyum itu mungkin bukan sekadar tanda lega, melainkan juga bentuk syukur karena masih bisa berkarya di tengah badai yang menerpa.

“Setiap lagu punya nyawanya sendiri. Kami hanya ingin menjaganya tetap hidup,” ujar Lukman suatu kali, menggambarkan bagaimana ia dan rekan-rekannya memaknai proses kreatif tersebut.

Pengambilan gambar berlangsung beberapa jam. Lampu berganti warna, kamera berpindah posisi, dan para personel NOAH terus mengikuti arahan. Tidak ada drama berlebihan, tidak ada keluhan. Yang ada hanyalah kerja keras tiga orang yang berusaha menutup ruang kosong dengan dedikasi.

Mimpi yang Tetap Dijaga di Tengah Perubahan

Bagi penggemar, video klip Wanitaku nantinya bukan hanya tontonan. Ia adalah pengingat bahwa perjalanan sebuah band tidak selalu mulus. Ada babak di mana mereka harus berjalan dengan formasi berbeda, menghadapi pertanyaan, dan menghadapi kenyataan bahwa tidak semua hal bisa dipertahankan selamanya.

Namun di sudut studio itu, di antara kabel dan lampu, Ariel, David, dan Lukman menunjukkan satu hal: mimpi untuk terus berkarya tidak pernah benar-benar padam. Mereka mungkin kehilangan satu personel, tetapi semangat untuk menghadirkan lagu-lagu yang menyentuh hati pendengar tetap menyala. Momen Kamis siang itu menjadi potret sederhana tentang ketangguhan, tentang bagaimana tiga orang memilih untuk tidak berhenti meski keadaan berubah.

Ketika syuting usai dan lampu studio mulai diredupkan, Ariel melangkah keluar dengan tas di pundaknya. Ia sempat menoleh sebentar ke arah ruangan, seolah mengucapkan selamat tinggal pada hari yang melelahkan namun berarti. Di kejauhan, para kru mulai merapikan peralatan. Hari itu telah menjadi bagian dari sejarah kecil NOAH — sebuah babak di mana mereka membuktikan bahwa musik tetap bisa menjadi rumah, bahkan ketika satu pintunya telah tertutup.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User