Oct 11, 2026
entertainment

Ed Sheeran dan Luka di Balik Cacian Sepupu Sendiri

Di balik gemerlap panggung dunia dan jutaan penggemar yang menyanyikan setiap liriknya, Ed Sheeran ternyata harus menelan pil pahit dari orang yang seharusnya paling memahami perjalanannya. Bukan dari...

Ed Sheeran dan Luka di Balik Cacian Sepupu Sendiri

Di balik gemerlap panggung dunia dan jutaan penggemar yang menyanyikan setiap liriknya, Ed Sheeran ternyata harus menelan pil pahit dari orang yang seharusnya paling memahami perjalanannya. Bukan dari kritikus musik, bukan dari tabloid gosip, melainkan dari Jethro Sheeran — sepupunya sendiri. Kritik tajam yang dilontarkan di media sosial itu bukan sekadar serangan biasa, melainkan luka yang datang dari dapur rumah sendiri.

Kisah ini mengemuka setelah ramainya polemik yang menyeret nama Macklemore. Dalam pusaran persoalan itu, Jethro melayangkan sejumlah komentar pedas yang menyasar langsung ke pribadi Ed. Bagi seorang musisi yang telah menapaki perjalanan panjang dari panggung-panggung kecil di London hingga stadion terbesar dunia, cacian dari keluarga terasa berbeda. Ada getir yang tidak bisa disembunyikan di balik senyum panggung.

Ketika Keluarga Menjadi Sumber Luka

Ed bukan sosok yang asing dengan kritik. Sepanjang kariernya, ia telah melewati berbagai badai opini publik. Namun, ketika kritik itu datang dari saudara sendiri, ada lapisan emosi yang tak bisa dinetralkan begitu saja. Mengisahkan hal ini dalam sebuah wawancara, ia tampak memilih jalan yang lebih dewasa: tidak membalas dengan amarah, melainkan merespons dengan ketenangan yang justru menyentuh.

"Hal paling menyakitkan bukan ketika dunia meragukanmu, tetapi ketika orang yang tahu perjuanganmu ikut meragukannya," ujar Ed dengan nada pelan, seolah menahan sesuatu di tenggorokan.

Ia mengaku tidak ingin memperpanjang polemik. Bagi Ed, energi lebih baik dipakai untuk hal-hal yang membangun. Tetapi, di balik sikap tenang itu, ia mengakui ada momen-momen ketika ia hanya duduk termenung, bertanya-tanya mengapa hal seperti ini harus terjadi di dalam keluarganya sendiri.

Perjalanan yang Tak Pernah Mudah

Sebelum namanya menghiasi papan reklame dan tangga lagu dunia, Ed adalah pemuda yang gigih. Ia pernah tidur di sofa-sofa teman, manggung di kafe sepi dengan penonton yang bisa dihitung jari, dan mengirim demo ke berbagai label tanpa jawaban. Perjalanan itu bukan cerita singkat. Butuh bertahun-tahun, air mata, dan keyakinan yang nyaris putus untuk sampai di titik sekarang.

Di balik layar, ia menulis lagu-lagu yang lahir dari pengalaman pribadi — patah hati, kehilangan, dan harapan. Lagu-lagu itulah yang kemudian menjadi jembatan antara dirinya dan jutaan orang di seluruh dunia. Bagi Ed, musik bukan sekadar karier, melainkan cara ia berbicara tentang hal-hal yang tidak sanggup ia ucapkan secara langsung.

Maka, ketika seseorang yang masih terikat darah mengkritik keras, Ed memilih untuk kembali ke hal paling mendasar: menulis. Baginya, menulis adalah cara untuk bangkit, mengubah luka menjadi lirik, dan menjadikan pahitnya kritik sebagai bahan bakar untuk tumbuh.

Pelajaran dari Sebuah Keretakan

Kisruh ini menjadi cermin bahwa nama besar tidak menjamin hidup tanpa masalah. Bahkan seorang bintang dunia tetap manusia biasa yang bisa terluka oleh kata-kata orang terdekat. Ed memilih untuk tidak menutup pintu rekonsiliasi. Ia menyebut bahwa ia masih berharap suatu hari komunikasi bisa diperbaiki, karena ikatan keluarga, seberapa pun retaknya, tidak bisa dihapus begitu saja.

"Aku tidak ingin menang dalam pertengkaran ini. Aku hanya ingin kembali punya sepupu," tuturnya, kalimat sederhana yang justru meninggalkan bekas paling dalam.

Kisah Ed Sheeran dan Jethro menjadi pengingat bahwa di balik setiap sorotan panggung, ada manusia yang berjuang dengan hal-hal biasa: penerimaan, kehangatan, dan rasa dihargai oleh orang-orang terdekat. Musik mungkin menolongnya berdiri, tetapi luka dari keluarga adalah ujian yang harus ia jalani dengan hati yang tetap terbuka. Inspirasi dari kisah ini bukan tentang siapa yang salah, melainkan tentang keberanian untuk tetap merendah saat justru paling ingin melawan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User