Di Balik Gugatan Hak Asuh: Senyum yang Mulai Pudar dari Ruben Onsu

Hujan rintik membasahi kaca jendela sebuah kafe kecil di bilangan Jakarta Selatan. Di sudut ruangan yang temaram, seorang pria duduk sendiri, menatap kosong ke luar. Matanya lelah, bahunya sedikit mer...

Jul 12, 2026 - 13:01
0 0
Di Balik Gugatan Hak Asuh: Senyum yang Mulai Pudar dari Ruben Onsu

Hujan rintik membasahi kaca jendela sebuah kafe kecil di bilangan Jakarta Selatan. Di sudut ruangan yang temaram, seorang pria duduk sendiri, menatap kosong ke luar. Matanya lelah, bahunya sedikit merosot. Sesekali ia mengusap wajah, seakan mencoba menghapus beban yang tak kasatmata. Pria itu Ruben Onsu, yang belakangan lebih sering terlihat menyendiri. Bukan karena tak ingin berbagi, melainkan karena pertempuran batin yang sedang ia lakoni begitu menguras tenaga. Pertempuran itu bernama hak asuh anak.

Beberapa bulan terakhir, Ruben memang tengah menempuh jalur hukum untuk memperjuangkan hak asuh kedua buah hatinya dari Sarwendah. Namun, di balik layar persidangan dan dokumen-dokumen legal, ada kisah yang lebih sunyi: kondisi kesehatannya yang terus merosot. Bukan sekadar lelah biasa, melainkan kelelahan yang menggerogoti fisik dan mentalnya perlahan-lahan.

Langkah Gontai di Tengah Harapan

Orang-orang terdekat Ruben mulai khawatir. Mereka melihat perubahan yang signifikan pada diri presenter yang dulu selalu ceria itu. Senyum lebarnya kini lebih sering tergantikan oleh tatapan menerawang. Dalam beberapa kesempatan, ia harus membatalkan jadwal pekerjaan karena tubuhnya tak lagi mampu diajak kompromi. “Dia itu sebenarnya kuat, luar biasa kuat. Tapi kali ini, rasanya dia seperti bertarung melawan dirinya sendiri,” bisik seorang sahabat yang enggan disebutkan namanya, dengan suara bergetar menahan iba.

Proses hukum yang ia jalani bukanlah perkara mudah. Setiap sidang, setiap pertemuan mediasi, membawa kenangan dan harapan yang bercampur aduk. Ruben bukan hanya memperjuangkan hak sebagai ayah, tetapi juga mempertahankan ikatan emosional yang telah ia bangun bersama kedua anaknya sejak mereka lahir. Di setiap langkah gontai menuju ruang sidang, ada doa yang tak putus ia panjatkan. Bukan untuk kemenangan semata, melainkan untuk yang terbaik bagi anak-anaknya.

Tubuh yang Berbicara Lebih Lantang

Kondisi kesehatan Ruben sebenarnya sudah menjadi sorotan sejak lama. Beberapa kali ia dilarikan ke rumah sakit karena kelelahan akut. Namun kini, di tengah proses gugatan yang melelahkan, tubuhnya kembali memberi sinyal peringatan. Tekanan darah yang naik turun, gangguan tidur berkepanjangan, hingga penurunan berat badan yang cukup drastis. Dokter yang menanganinya menyarankan istirahat total. Tapi bagaimana mungkin seorang ayah beristirahat saat hatinya terusik oleh ketidakpastian?

Di balik layar, Ruben menjalani hari-hari dengan ritme yang tak biasa. Malam-malam panjang ia habiskan dengan menatap foto anak-anaknya di ponsel. Kadang, setetes air mata jatuh tanpa bisa ia bendung. Bukan air mata kekalahan, melainkan air mata seorang ayah yang merindukan peluk anak-anaknya. Perasaan itu semakin menyesakkan ketika ia harus membatasi diri dari interaksi langsung dengan mereka selama proses hukum berjalan.

Perjuangan yang Tak Pernah Sia-sia

Meski begitu, Ruben tak pernah mengeluh di depan publik. Ia tetap berusaha tersenyum, sesekali membagikan momen-momen kecil di media sosial yang menyiratkan keteguhan hati. Sebuah unggahan terbarunya menampilkan pemandangan matahari terbit dari balkon rumah. Ia menulis singkat: “Setiap pagi adalah harapan baru.” Kalimat sederhana itu sontak menuai ribuan komentar dukungan dari penggemar dan rekan artis. Mereka tahu, di balik senyum yang ia pasang, ada peperangan sunyi yang luar biasa.

Kisah Ruben ini barangkali mengingatkan kita bahwa seorang figur publik tetaplah manusia biasa. Di balik gemerlap kamera, ada puing-puing kelelahan yang bisa sewaktu-waktu runtuh. Perjuangannya mendapatkan hak asuh anak bukan semata soal kemenangan hukum, melainkan tentang mempertahankan cinta yang tak bisa diukur dengan kertas putusan. Setiap kali ia berjalan ke ruang sidang, sesungguhnya ia sedang membawa serta seluruh hati dan jiwanya sebagai seorang ayah.

Harapan di Ujung Senja

Senja mulai turun ketika Ruben akhirnya meninggalkan kafe kecil itu. Langit jingga merangkul kota dengan kehangatan yang kontras dengan dinginnya suasana hatinya. Sebelum melangkah ke dalam mobil, ia sempatkan diri menatap langit sejenak. Barangkali, ia sedang membayangkan kelak, saat semua ini usai, ia bisa kembali memeluk anak-anaknya tanpa sekat hukum. Saat di mana tawa mereka kembali mengisi hari-harinya. Saat di mana tubuhnya tak lagi meneriakkan kelelahan, karena hati telah sembuh.

Perjalanan panjang Ruben Onsu menggugat hak asuh di tengah kondisi kesehatan yang menurun adalah kisah tentang keteguhan. Bukan kisah yang penuh kemenangan dramatis, melainkan perjuangan sunyi seorang manusia yang memilih bertahan di tengah badai. Dan pada akhirnya, semesta selalu punya cara merangkul mereka yang tak pernah lelah mencintai.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User