Di sudut ruang konferensi pers yang sederhana itu, Devano duduk dengan senyum khasnya. Cahaya kamera menyala dari berbagai arah, namun pemuda itu tampak tidak canggung. Ia justru beberapa kali menoleh ke arah rekan-rekannya, tertawa kecil, seolah ingin mengusir suasana kaku yang biasanya menyelimuti acara seremonial semacam ini. Hari itu, ia hadir bukan sekadar memenuhi undangan, melainkan untuk bercerita tentang sesuatu yang menurutnya jauh lebih bermakna: sebuah film berjudul Rumah Singgah.
Film yang mengangkat kisah anak-anak yang mencari tempat berteduh dan harapan ini seolah menemukan tokoh yang tepat pada Devano. Dalam perjalanannya, ia mengaku tidak langsung menerima tawaran tersebut. Ada proses panjang, membaca naskah berulang kali, hingga akhirnya ia merasakan ada getaran tersendiri yang membuatnya mantap bergabung.
Perjalanan Menuju Peran yang Menyentuh
Devano mengisahkan bahwa perjalanannya memahami karakter di film ini bukan perkara mudah. Ia harus bergaul dengan anak-anak dari latar belakang yang jauh berbeda dengan kesehariannya. “Aku belajar banyak dari mereka,” ujarnya dengan nada pelan. “Mereka mengajarkan aku arti bersyukur yang sesungguhnya.”
Baginya, film ini bukan sekadar pekerjaan. Ia menyebutnya sebagai perjalanan emosional yang mengubah caranya memandang hidup. Setiap kali syuting usai, ada perasaan yang tertinggal. “Sulit untuk berpura-pura biasa saja setelah mendengar cerita mereka,” tambahnya.
Momen Mengharukan di Balik Layar
Di balik layar, ada banyak momen yang tak pernah terekam kamera. Devano bercerita tentang seorang anak yang selalu menyiapkan kursi untuknya sebelum syuting dimulai. Hal kecil dan sederhana, tetapi menyentuh. “Dia tidak punya banyak hal, tapi dia rela berbagi,” katanya, suaranya sedikit bergetar.
Ada pula adegan-adegan yang memaksa para pemain menahan air mata. Beberapa kali, suasana di lokasi syuting benar-benar hening karena semua orang larut dalam emosi. Devano mengaku kerap membawa perasaan itu pulang. “Aku menangis di kamar,” akuinya. “Bukan karena lelah, tapi karena tersentuh.”
Pesan dan Mimpi untuk Anak Indonesia
Lewat film ini, Devano berharap penonton tidak hanya terhibur, tetapi juga tergerak. Ia ingin kisah ini menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak bermimpi, apa pun keadaan rumah yang mereka tinggali. “Mimpi tidak pernah memilih tempat lahir,” ujarnya tegas.
Ia juga mengajak anak-anak muda untuk tidak mudah menyerah. Menurutnya, keterbatasan bukan akhir dari segalanya. Banyak orang besar yang justru bangkit dari keterbatasan. “Kalau mereka bisa, kita juga pasti bisa,” ucapnya penuh semangat.
Bangkit dan Berbagi
Devano juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh kru yang bekerja keras menghadirkan film ini. Ia menyebut sinema Indonesia butuh lebih banyak cerita seperti Rumah Singgah, cerita yang tidak melulu tentang gemerlap, tetapi juga tentang kehangatan dan perjuangan.
Menjelang akhir konferensi pers, ia sempat menatap lantai sejenak sebelum kembali tersenyum. “Aku harap film ini bisa menjadi rumah bagi siapa pun yang sedang merasa kehilangan arah,” katanya. Ruangan kembali hening, sebelum tepuk tangan memecah suasana. Di balik semua kemewahan dunia entertainment, lewat film sederhana ini, Devano seperti sedang mengingatkan kita semua: rumah tidak selalu tentang dinding dan atap, tetapi tentang tempat di mana hati merasa aman.
Comments (0)