Di sebuah ruang sidang yang terasa lebih hening dari biasanya, Derry Sulaiman melangkah dengan langkah mantap menuju kursi saksi. Udara di dalam ruangan itu terasa berat, bukan karena aroma formalitas hukum, melainkan karena ada sesuatu yang lebih personal menguar di sana. Derry datang bukan sebagai pesohor yang biasa tampil di layar kaca, melainkan sebagai seorang pria yang pernah jatuh, bangkit, dan kini berdiri untuk berbicara atas nama kebenaran yang ia yakini.
Kehadirannya sebagai saksi dalam sidang kasus yang melibatkan Richard Lee itu sontak menyedot perhatian. Namun di balik sorotan kamera dan puluhan pasang mata yang menatap, ada momen yang jauh lebih menyentuh: seorang Derry yang tampak merenung, sesekali menghela napas, seolah tengah menimbang setiap kata yang akan keluar dari mulutnya. Baginya, ini bukan panggung hiburan. Ini adalah ruang di mana masa lalu, keyakinan, dan kemanusiaan seseorang diuji.
Ketika Panggung Berganti Menjadi Ruang Saksi
Derry mengisahkan perjalanan panjang yang membawanya ke titik ini. Ia bukanlah orang yang asing dengan lika-liku dunia hiburan, dengan gemerlap yang kerap menutupi luka. Namun, ia memilih untuk menjalani hidup yang berbeda setelah menemukan kedamaian dalam keimanan. "Saya di sini bukan untuk menghakimi siapa pun," ujarnya dengan suara yang pelan namun tegas, seperti dikutip dari keterangannya di persidangan. "Saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya tahu dan apa yang saya rasakan sebagai manusia."
Kalimat itu menggantung di udara, menyentuh setiap orang yang mendengarnya. Di balik layar persidangan yang sering kali dipenuhi debat hukum yang kaku, Derry mencoba mengingatkan bahwa di balik setiap nama yang disebut, ada manusia dengan kisahnya sendiri. Ia tidak ingin terjebak dalam narasi yang saling menyalahkan. Ia ingin berbicara tentang sesuatu yang lebih mendasar: tentang bagaimana seseorang memperlakukan keyakinan orang lain.
"Jangan karena kita merasa lebih benar, lalu kita merasa berhak merendahkan orang lain. Islam itu bukan alat untuk menghakimi, tapi untuk menenangkan," tutur Derry dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Menyoroti Kebiasaan yang Sering Terlupakan
Dalam kesaksiannya, Derry menyoroti sebuah fenomena yang menurutnya kerap terjadi di sekitar kita: kebiasaan meragukan keislaman orang lain. Ia melihat bagaimana media sosial dan percakapan sehari-hari sering kali dipenuhi vonis-vonis yang seolah hanya milik Tuhan. Bagi Derry, ini adalah luka yang tidak terlihat, namun menggerogoti dari dalam.
"Saya pernah berada di posisi yang jauh dari agama," kenangnya. "Dan saya tahu bagaimana rasanya dihakimi tanpa pernah diberi kesempatan untuk menjelaskan. Itu menyakitkan. Itu membuat orang semakin jauh, bukan semakin dekat." Kata-katanya sederhana, namun mengandung kedalaman yang membuat ruang sidang itu sejenak terdiam. Ada yang menunduk, ada pula yang menahan air mata.
Derry tidak sedang membela siapa pun secara buta. Ia hanya ingin menjadi bagian dari mereka yang mengingatkan bahwa iman adalah urusan pribadi antara seseorang dengan Sang Pencipta. Ia berbicara tentang pentingnya menjaga lisan, tentang bahaya merasa paling suci, dan tentang bagaimana cinta kasih seharusnya menjadi wajah dari sebuah keyakinan.
Perjuangan yang Tak Terlihat di Balik Layar
Di balik layar persidangan, Derry juga membuka sedikit tentang perjuangannya sendiri. Ia mengisahkan masa-masa kelam yang pernah ia lalui, saat ia merasa jauh dari Tuhan dan dari dirinya sendiri. "Saya bangkit bukan karena saya kuat, tapi karena ada orang-orang yang menerima saya apa adanya," ujarnya. "Mereka tidak menghakimi. Mereka merangkul."
Pengalaman itu membuatnya enggan melihat orang lain diperlakukan dengan cara yang pernah ia alami. Ia merasa terpanggil untuk menyuarakan hal ini, meskipun harus berdiri di ruang yang penuh tekanan. Baginya, ini adalah bagian dari perjalanan yang harus ia tempuh, sebuah momen mengharukan yang membuatnya semakin memahami arti menjadi manusia.
Sidang itu akhirnya berjalan seperti mestinya, dengan agenda hukum yang harus diselesaikan. Namun pesan yang ditinggalkan Derry Sulaiman terasa menggema lebih lama dari sidang itu sendiri. Ia tidak hanya hadir sebagai saksi, tetapi juga sebagai pengingat: bahwa di balik semua perbedaan dan perselisihan, ada kemanusiaan yang harus dijaga. Ada hati yang harus disentuh dengan kelembutan, bukan dengan vonis yang menyakitkan.
Derry menutup kesaksiannya dengan sebuah harapan sederhana. "Saya hanya ingin kita semua belajar untuk lebih sabar, lebih mendengar, dan lebih mengasihi. Karena pada akhirnya, kita semua sedang berjuang dengan caranya masing-masing." Kata-kata itu seperti bisikan yang menyentuh, meninggalkan jejak di hati siapa saja yang mendengarnya.
Comments (0)