Oct 11, 2026
entertainment

Roman King dan Zafran: Perjalanan Hati di Balik 5CM

Di sebuah ruang casting yang sunyi, seorang remaja lelaki berdiri dengan tangan sedikit gemetar. Matanya menatap kosong ke arah naskah yang sudah ia hafal di luar kepala. Namanya Roman King, dan hari ...

Roman King dan Zafran: Perjalanan Hati di Balik 5CM

Di sebuah ruang casting yang sunyi, seorang remaja lelaki berdiri dengan tangan sedikit gemetar. Matanya menatap kosong ke arah naskah yang sudah ia hafal di luar kepala. Namanya Roman King, dan hari itu ia bukan sedang berakting. Ia sedang berjuang meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia layak memerankan Zafran, sosok yang telah lama hidup di imajinasi jutaan pembaca di seluruh Indonesia.

Perjalanan Roman menuju karakter Zafran dalam film 5CM bukanlah jalan yang mulus. Ada malam-malam panjang yang ia habiskan dengan membaca ulang novelnya, menandai setiap kalimat yang menggambarkan isi hati Zafran. Ada pula air mata yang jatuh diam-diam ketika ia merasa karakternya begitu jauh dari dirinya. "Aku merasa Zafran itu bukan sekadar tokoh di atas kertas," ujarnya suatu ketika, dengan suara yang pelan namun mantap. "Dia seperti bagian dari diriku yang belum pernah aku kenal."

Mencari Zafran di Dalam Diri

Bagi Roman, tantangan terbesar bukanlah menghafal dialog, melainkan memahami apa yang tidak tertulis. Zafran adalah sosok yang penuh gejolak batin, seorang pemuda dengan mimpi besar namun terhimpit oleh keterbatasan. Roman mengisahkan bagaimana ia harus menggali memorinya sendiri, mengingat kembali momen-momen ketika ia pernah merasa kecil, ragu, dan hampir menyerah.

"Ada satu adegan di mana Zafran harus menahan perasaannya di depan orang yang paling ia cintai," kenang Roman. "Saat itu aku tidak perlu berpura-pura. Aku hanya mengingat bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang belum pernah benar-benar kumiliki." Kalimat itu ia ucapkan dengan mata yang berkaca-kaca, seolah luka lama itu kembali terbuka di ruangan yang sama.

Proses pendalaman karakter ini membuat Roman belajar bahwa akting bukanlah soal tampil sempurna di depan kamera. Ia adalah soal jujur, bahkan ketika kejujuran itu menyakitkan. Ia berlatih bersama sutradara, mendiskusikan setiap detail kecil, mulai dari cara Zafran berjalan, cara ia menunduk, hingga cara ia menarik napas ketika sedang berbohong pada dirinya sendiri.

Di Balik Layar: Momen yang Mengharukan

Syuting film ini membawa Roman pada pengalaman yang tak akan pernah ia lupakan. Ada satu momen ketika seluruh kru terdiam, kamera berhenti berputar, dan tak seorang pun berani berbicara. Roman baru saja menyelesaikan adegan emosional yang membuatnya benar-benar menangis di depan lensa. Sutradara menghampirinya, meletakkan tangan di pundaknya, dan berkata pelan, "Itu Zafran."

"Aku tidak pernah merasa sehebat itu," ujar Roman mengenang pujian tersebut. "Tapi saat itu aku tahu, aku sudah memberikan seluruh hatiku."

Momen mengharukan lainnya terjadi di hari terakhir syuting. Roman mengaku sulit melepaskan karakter yang sudah ia hidupi selama berbulan-bulan. Ia duduk termenung di kursi kosong, masih mengenakan kostum Zafran, sementara kru mulai membereskan peralatan. "Rasanya seperti harus mengucapkan selamat tinggal pada sahabat yang selalu ada di sisiku," tuturnya dengan nada haru.

Ia menyadari bahwa perjalanan ini telah mengubahnya. Bukan hanya sebagai aktor, tetapi sebagai manusia. Roman belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak takut, melainkan tetap melangkah meski hati gemetar. Ia juga belajar bahwa mimpi besar sering kali lahir dari hal-hal sederhana, seperti keyakinan seorang anak muda di ruang casting yang sunyi itu.

Pesan untuk Mereka yang Sedang Berjuang

Bagi Roman, film 5CM bukan sekadar proyek akting. Ia berharap kisah Zafran dapat menyentuh hati penonton, terutama mereka yang sedang berjuang mengejar mimpi di tengah keterbatasan. "Zafran mengajarkanku bahwa jarak antara mimpi dan kenyataan bukanlah tembok, tetapi jembatan yang harus kita bangun sendiri," katanya penuh semangat.

Ia juga berpesan agar generasi muda tidak takut gagal. Menurutnya, setiap kegagalan adalah bagian dari proses menuju sesuatu yang lebih besar. "Aku pernah ditolak berkali-kali sebelum akhirnya mendapat kesempatan ini," aku Roman. "Kalau aku berhenti di penolakan pertama, aku tidak akan pernah tahu rasanya berdiri di sini."

Kisah Roman King dan Zafran adalah cerminan dari sebuah perjalanan hati yang panjang. Dari keraguan menuju keyakinan, dari air mata menuju senyum, dan dari mimpi sederhana menuju kenyataan yang membanggakan. Ia membuktikan bahwa di balik setiap karakter yang hidup di layar lebar, ada manusia nyata yang berjuang, tumbuh, dan bangkit. Dan melalui Zafran, Roman mengingatkan kita semua bahwa revolusi hati selalu dimulai dari keberanian untuk percaya pada diri sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User