Di layar ponselnya, Tamara Dai menatap sosok yang sangat ia kenal. Wajah itu wajahnya. Tubuh itu tubuhnya. Tapi ada yang salah. Kulit di wajah itu terlalu mulus. Pipi itu terlalu sempurna. Dan di bawah gambar tersebut, tercetak jelas nama sebuah produk skincare yang tidak pernah ia promosikan. "Rasanya seperti ada yang dicuri dari saya," ujarnya lirih ketika mengisahkan momen itu kepada Beritaseputar. Bagi perempuan yang selama ini dikenal lewat karya kreatifnya, penemuan itu bukan sekadar kejutan, melainkan luka yang menusuk perlahan.
Ketika Wajah Sendiri Menjadi Barang Dagangan
Tamara mengaku kali pertama melihat gambar tersebut dari kiriman seorang pengikut di Instagram. Ia sempat mengira itu hasil suntingan iseng. Namun semakin ditelusuri, ia menyadari gambar itu adalah hasil rekayasa kecerdasan buatan atau AI yang dibuat sangat mirip dengan dirinya, lalu dipakai untuk mempromosikan produk perawatan kulit. "Saya tidak pernah memberi izin. Tidak pernah. Tidak ada kontrak, tidak ada obrolan, tidak ada apa-apa," kisahnya dengan nada yang berusaha tetap tenang. Di balik ketenangan itu, ada kekecewaan yang ia sembunyikan rapat-rapat. Tubuh dan wajahnya diubah, dipoles, dijadikan alat jualan tanpa ia pernah tahu.
Bagi banyak orang, teknologi AI mungkin hanya persoalan foto. Tapi bagi Tamara, ini menyangkut sesuatu yang lebih dalam: identitas. Wajah bukan sekadar tampilan. Wajah adalah cerita, perjalanan, dan air mata yang ia lalui bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan. "Saya berjuang bukan hanya untuk terlihat cantik, tapi untuk jadi diri saya sendiri. Jadi ketika orang lain membuat versi sempurna dari diri saya tanpa izin, itu seperti menghapus siapa saya sebenarnya," tuturnya sambil sesekali menarik napas panjang.
Air Mata di Balik Kekecewaan Seorang Perempuan
Tamara tidak langsung menyerang. Ia memilih mengisahkan perasaannya dengan tenang di media sosial, berharap ada kesadaran dari pihak brand. Namun diam-diam, ia mengaku sempat menangis saat merenungi kecanggihan AI yang makin sulit dibedakan dari kenyataan. "Bayangkan, orang bisa menciptakan wajah saya, berbicara dengan suara saya, tanpa saya pernah membuka mulut. Itu menakutkan," kata perempuan yang juga aktif sebagai kreator ini. Ketakutan itu bukan tanpa alasan. Banyak publik figur lain, dan bahkan orang biasa, kini rentan menjadi korban pemakaian digital tanpa persetujuan.
Menurut Tamara, persoalan ini bukan hanya soal dia seorang. Ada banyak perempuan di luar sana yang bisa mengalami hal yang sama, mungkin dengan pengikut lebih sedikit, mungkin tanpa keberanian untuk bersuara. "Saya punya suara. Saya akan pakai. Tapi saya sedih membayangkan mereka yang tak punya panggung untuk bicara," ucapnya. Kalimat itu keluar dengan mata yang berkaca-kaca. Di balik layar yang selama ini menampilkan senyum, tersimpan luka yang butuh keberanian untuk dibuka.
Pelajaran Berharga dari Sebuah Perjuangan Mempertahankan Diri
Alih-alih tenggelam dalam amarah, Tamara memilih bangkit. Ia mulai mempelajari aturan tentang hak citra, mengumpulkan bukti, dan berbicara terbuka agar lebih banyak orang sadar. "Saya ingin ini jadi pelajaran. Bukan cuma untuk brand, tapi juga untuk kita semua. Teknologi boleh maju, tapi jangan sampai menginjak manusia," tegasnya. Baginya, ini bukan perjuangan tentang satu foto. Ini tentang hak setiap orang untuk menentukan bagaimana wajah dan tubuhnya ditampilkan di dunia.
Ia juga mengajak publik untuk lebih kritis. Setiap kali melihat iklan yang terasa terlalu sempurna, tanyakan: siapa yang sebenarnya ada di balik gambar itu? Apakah ia tahu? Apakah ia setuju? Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu, menurut Tamara, bisa menjadi tameng awal dari penyalahgunaan AI yang kian liar. "Saya tidak menolak AI. Saya hanya ingin manusia tetap dihormati di dalamnya," ujarnya.
Kisah Tamara Dai adalah cermin bagi zaman yang bergerak cepat. Di balik kecanggihan yang memukau, ada batas etika yang harus dijaga, ada wajah-wajah manusia yang tak boleh dijadikan komoditas begitu saja. Dan dari sebuah kekecewaan, ia memilih berjuang, bukan untuk sekadar membela diri, tetapi untuk mengingatkan dunia bahwa di balik setiap gambar, ada nyawa, ada mimpi, dan ada air mata yang tak pantas dirampas.
Comments (0)