Davina Karamoy dan Pelajaran dari Waktu yang Tak Kembali

Di sebuah ruang syuting yang remang-remang, Davina Karamoy duduk memunggungi kamera. Matanya menerawang ke jendela yang memperlihatkan langit senja Jakarta. Di tangannya tergenggam naskah yang sudah l...

Jul 17, 2026 - 15:46
0 0
Davina Karamoy dan Pelajaran dari Waktu yang Tak Kembali

Di sebuah ruang syuting yang remang-remang, Davina Karamoy duduk memunggungi kamera. Matanya menerawang ke jendela yang memperlihatkan langit senja Jakarta. Di tangannya tergenggam naskah yang sudah lusuh di beberapa halaman. "Kalau boleh jujur, aku sering bertanya pada diriku sendiri," katanya pelan, "apakah aku ingin kembali ke masa lalu?"

Pertanyaan itu bukan sekadar retorika. Di usianya yang masih muda, aktris yang namanya mulai dikenal publik lewat berbagai judul sinetron dan film layar lebar ini sedang menyelami peran yang membuatnya bertanya banyak hal tentang hidup. Film "Andai Waktu Dapat Diulang Kembali" menjadi cermin yang membuatnya menatap kembali setiap luka, setiap tawa, dan setiap pilihan yang pernah ia buat di sepanjang perjalanan hidupnya.

Layar Lebar sebagai Cermin Hidup

Bagi Davina, setiap karakter yang ia perankan bukan sekadar tokoh fiksi di atas kertas. Mereka adalah bagian dari dirinya yang belum selesai ia pahami sepenuhnya. "Saat aku membaca naskah film ini, aku merasa sedang membaca buku harian sendiri," ungkapnya dengan suara yang bergetar tipis. Ada momen ketika ia harus menangis di depan kamera, dan air mata itu bukan keluar dari teknik akting yang ia pelajari—melainkan dari kedalaman hatinya sendiri yang selama ini ia simpan rapat-rapat.

Film yang mengangkat tema tentang kesempatan kedua ini rupanya menyentuh sesuatu yang sangat personal baginya. Davina tak ingin menjadi pribadi yang sama dengan dirinya beberapa tahun lalu. Ia ingin tumbuh, bahkan jika pertumbuhannya datang dari rasa sakit yang tak pernah ia duga sebelumnya. Di balik senyumnya yang hangat di depan publik, tersimpan seorang perempuan yang pernah melewati banyak badai kehidupan.

Davina tidak menutupi kenyataan bahwa hidupnya tidak selalu mudah. Ada fase-fase ketika ia merasa dunia begitu tidak adil, ketika cita-citanya terasa jauh dari genggaman. Tapi ia memilih untuk tidak berhenti di tengah jalan. Baginya, menyerah bukan pilihan yang pernah ia tulis dalam kamus hidupnya.

Pelajaran dari Setiap Musim yang Berlalu

"Yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Aku tidak ingin memutar waktu," tegas Davina saat ditemui di sela-sela kesibukan syuting. Baginya, setiap peristiwa—baik yang membawa senyum lebar maupun yang meninggalkan luka menganga—adalah guru yang tak pernah meminta bayaran sepeser pun.

Ia bercerita tentang masa-masa awalnya menapaki dunia hiburan yang keras. Ada hari-hari ketika penolakan datang bertubi-tubi tanpa henti, ada malam-malam panjang ketika ia menangis sendirian di kamar kos kecilnya yang sempit dan pengap. Tapi semua itu, kata Davina, membentuknya menjadi pribadi yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. "Kalau aku bisa memilih, aku tidak akan menghapus satu pun kenangan. Semuanya punya tempatnya masing-masing di dalam diriku," katanya dengan mata yang berkaca-kaca.

"Yang sudah terjadi, aku jadikan pelajaran. Bukan beban yang harus kutanggung selamanya."

Kalimat itu menjadi mantra kecil yang selalu ia pegang erat di saat-saat paling sulit. Bukan berarti Davina tidak pernah merasa rapuh dan goyah. Ia mengakui dengan jujur, ada kalanya beban hidup terasa terlalu berat untuk dipikul seorang diri. Tapi ia memilih untuk tidak terjebak dalam lingkaran penyesalan yang tak berujung. Baginya, penyesalan hanya akan menjadikannya tawanan di masa lalu yang tidak pernah bisa ia bebaskan.

Merangkul Diri yang Sekarang

Di balik kesibukannya yang padat di depan kamera, Davina juga belajar untuk mengenal dirinya di luar sorotan publik yang kadang begitu menyilaukan. Ia meluangkan waktu untuk duduk diam dalam keheningan, menulis di jurnal pribadinya, dan berbicara dengan orang-orang terdekatnya tentang perasaan yang sesungguhnya. Baginya, mencintai diri sendiri bukan tentang memanjakan diri, melainkan tentang menerima bahwa diri ini—dengan segala kekurangan dan kelebihannya—layak untuk dicintai tanpa syarat.

"Hidup ini terlalu pendek untuk dihabiskan dengan mengulang kesalahan yang sama," ujarnya sambil tersenyum tipis. Senyum yang datang dari seseorang yang sudah belajar bahwa setiap pagi adalah halaman baru yang belum ditulis. Setiap napas adalah kesempatan untuk menjadi lebih baik dari hari kemarin.

Davina juga menceritakan bagaimana keluarganya menjadi sandaran terkuat di tengah badai. Di tengah tuntutan industri hiburan yang begitu keras dan kadang tanpa ampun, ia selalu pulang ke pelukan orang-orang yang ia cintai. "Mereka mengingatkan aku bahwa aku lebih dari sekadar nama di layar kaca. Aku adalah anak, cucu, saudara, dan teman yang punya tanggung jawab untuk tetap menjadi manusia baik," ungkapnya penuh haru.

Harapan untuk Penonton

Lewat film "Andai Waktu Dapat Diulang Kembali", Davina berharap penonton tidak hanya terhibur selama durasi film, tetapi juga menemukan sesuatu yang berharga dalam diri mereka sendiri setelah layar gelap. "Semoga setelah menonton film ini, orang-orang bisa lebih memaafkan diri mereka sendiri. Kita semua pernah melakukan kesalahan. Yang penting adalah bagaimana kita bangkit setelahnya," harapnya penuh ketulusan yang dalam.

Di usia yang masih muda, Davina sudah memiliki kebijaksanaan yang melampaui umurnya. Ia memahami bahwa hidup bukan tentang menjadi sempurna di mata orang lain, melainkan tentang terus berjalan meskipun langkah kaki terasa berat dan jalan terasa berliku. Waktu memang tidak bisa diputar kembali ke titik mana pun, tapi pelajaran dari setiap detik yang telah berlalu akan selalu menjadi bekal berharga untuk melangkah ke depan dengan lebih mantap dan percaya diri.

Dan di antara hiruk-pikuk dunia hiburan yang seringkali menggoda siapa pun untuk menjadi orang lain demi popularitas, Davina tetap memilih menjadi dirinya sendiri—dengan segala cerita yang telah membentuknya menjadi perempuan yang berdiri tegak hari ini. Ia tidak ingin mengulang waktu, karena ia percaya sepenuhnya bahwa setiap momen, baik pahit maupun manis, adalah bagian dari perjalanan panjang yang menjadikannya utuh sebagai manusia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User