Aug 26, 2026
entertainment

Dari Wajan Sederhana, Tahu Goreng Bumbu Ketumbar Menopang Mimpi Ayah

Pukul setengah lima pagi, gang sempit di Kampung Laweyan, Solo, masih diselimuti dinginnya kabut sisa malam. Di dapur berukuran tiga kali empat meter itu, Slamet Riyadi (47) telah berdiri di depan waj...

Dari Wajan Sederhana, Tahu Goreng Bumbu Ketumbar Menopang Mimpi Ayah

Pukul setengah lima pagi, gang sempit di Kampung Laweyan, Solo, masih diselimuti dinginnya kabut sisa malam. Di dapur berukuran tiga kali empat meter itu, Slamet Riyadi (47) telah berdiri di depan wajan besar. Minyak mulai mengepul, dan tak lama kemudian aroma gurih ketumbar bercampur asap hangat memenuhi ruangan. Potongan-potongan tahu putih ia selamkan satu per satu, digoreng perlahan hingga berwarna keemasan. Baginya, momen itu bukan sekadar rutinitas pagi, melainkan bagian dari sebuah kisah perjuangan yang telah berlangsung lebih dari dua puluh tahun.

Berawal dari Sebuah Kehilangan

Kisah Slamet mengisahkan perjalanan seorang ayah yang harus bangkit dari titik terendah hidupnya. Tahun 2001, istrinya, Sumiati, meninggal dunia karena sakit, meninggalkan dua anak yang masih kecil serta satu resep tahu goreng bumbu ketumbar warisan keluarga. Saat itu, Slamet hanyalah buruh harian lepas dengan penghasilan yang tak menentu.

"Malam itu saya duduk sendiri di dapur, pegang wajan peninggalan dia. Air mata nggak berhenti. Tapi saya sadar, kalau saya runtuh, anak-anak ikut runtuh," kenangnya, suaranya nyaris pecah.

Dari dapur sederhana itulah ia memutuskan untuk bangkit. Modal awalnya hanya Rp50 ribu dari hasil menjual sepeda tua. Setiap subuh ia menggoreng tahu, lalu berkeliling kampung dengan gerobak kayu sambil menggendong anak sulungnya yang belum bersekolah.

Di Balik Layar Gerobak Keliling

Tidak banyak orang tahu apa yang terjadi di balik layar usaha kecil ini. Bumbu ketumbar yang menjadi ciri khas dagangannya bukanlah racikan sembarangan. Ketumbar sangrai, bawang putih, dan secuil garam digiling manual memakai cobek batu warisan mertua—proses yang memakan waktu hampir satu jam setiap hari.

"Orang bilang, pakai mesin saja biar cepat. Tapi rasanya beda. Cobek ini peninggalan mertua saya, jadi ada rasa sayangnya di dalam bumbunya," tuturnya sambil tersenyum tipis.

Ada hari-hari ketika hujan deras membuatnya pulang dengan tangan kosong. Ada pula saat kakinya nyeri, namun ia tetap harus melangkah berkilometer menembus angin pagi. Bagi Slamet, semua lelah itu lenyap begitu ada pembeli yang kembali lagi dan berkata bahwa tahu gorengnya adalah yang paling enak pernah mereka makan.

"Kalau ada pembeli bilang begitu, rasanya seperti dapat rezeki ganda. Harganya cuma sepuluh ribu, tapi hati saya kenyang," katanya sambil tertawa, menyamarkan rasa lelah di wajahnya.

Mimpi Sederhana untuk Sang Putri

Lebih dari dua dekade berjuang, buah kesabaran Slamet kini mulai terasa. Anak sulungnya berhasil menyelesaikan pendidikan diploma dan bekerja di salah satu pabrik di kawasan Solo Raya. Kini giliran putri bungsunya, Dinda (17), yang sedang ia dukung penuh demi meraih impiannya masuk perguruan tinggi.

"Saya nggak bisa kasih warisan harta. Yang bisa saya kasih cuma teladan, bahwa hidup harus kerja keras dan jujur. Kalau Dinda nanti bisa kuliah, itu mimpi terbesar saya," ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Dinda sendiri tak pernah malu dengan pekerjaan ayahnya. Justru setiap akhir pekan, remaja itu turun tangan membantu menggoreng tahu dan menawarkan layanan pesan-antar kepada para tetangga. Lewat media sosial sederhana yang dibuatnya, pesanan tahu goreng bumbu ketumbar ayahnya kini mulai dicari anak kos dan pekerja kantoran di sekitar kompleks perumahan.

"Ayah saya pahlawan. Dia membuktikan bahwa dari hal yang sederhana, kita bisa bertahan, bahkan bahagia," kata Dinda bangga.

Aroma yang Menghangatkan

Kini gerobak Slamet tak lagi hanya berkeliling. Beberapa warung makan di kampungnya ikut menjajakan dagangannya, dan ia mulai berani bermimpi lebih jauh: membuka kedai kecil di depan rumah agar tak lagi menempuh perjalanan jauh setiap pagi.

Saat senja turun, Slamet duduk di teras menikmati segelas teh tubruk. Dapur itu kembali tenang, namun aroma ketumbar masih melekat di udara—seperti kenangan akan sang istri yang tak pernah benar-benar pergi. Baginya, setiap potong tahu yang digoreng hari ini adalah doa yang disajikan hangat-hangat: sederhana, gurih, dan menyentuh hati siapa pun yang mencicipinya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User