Pukul setengah tiga pagi, saat langit masih gelap gulita dan kampung Kauman belum menunjukkan tanda-tanda kehidupan, suara ulekan beradu dengan cobek batu sudah menggema dari sebuah dapur sempit. Irama itu terdengar hampir setiap hari selama empat puluh tahun terakhir. Asap tipis membubung dari tungku kayu, membawa aroma kunyit, lengkuas, dan kemiri sangrai yang meresap hingga ke sudut-sudut rumah.
Di balik asap itu, Siti Maryam, 62 tahun, duduk bersimpuh di lantai semen sambil menggiling rempah untuk pesanan pelanggannya. Tangannya yang keriput bergerak ritmis, tanpa lelah, tanpa tergesa. Noda kuning kunyit telah lama menetap di sela-sela kulit jarinya, jejak yang tidak pernah ia coba hapus.
"Banyak yang tanya kenapa saya tidak pakai blender saja. Saya bilang, blender bisa menghaluskan, tapi blender tidak bisa mencintai bumbu," katanya sambil tertawa pelan.
Dari Pangkuan Ibu ke Meja Ratusan Keluarga
Kisah Maryam dengan dunia rempah bermula jauh sebelum ia mengenal kata usaha. Sebagai anak sulung dari tujuh bersaudara, ia diajari ibunya menggiling bumbu sejak usia sembilan tahun. Momen-momen sore di dapur itu, kata Maryam, adalah sekolah pertamanya tentang kesabaran dan ketelitian.
"Ibu selalu bilang, bumbu itu seperti anak. Harus dirawat, dipelihara, didengarkan keluhannya. Kalau kita buru-buru, dia akan marah dan masakan jadi hambar," ingatnya, matanya berkaca-kaca mengenang sosok yang telah tiada dua puluh tahun silam.
Setelah menikah dan menghadapi masa sulit ketika suaminya kehilangan pekerjaan, Maryam memantapkan diri berjuang menjadikan keterampilan giling bumbu sebagai penopang hidup keluarga. Bermodalkan cobek warisan ibu dan ilmu dari dapur kecil, ia mulai menerima pesanan bumbu dasar dari tetangga. Yang mulanya hanya lima bungkus per hari, kini mencapai lebih dari seratus porsi yang dikirim ke berbagai warung makan dan rumah tangga di kotanya.
Rahasia yang Tak Tertulis di Buku Manapun
Kepada siapa pun yang bertanya tentang rahasia kenikmatan bumbunya, Maryam selalu menjawab hal yang sama: tidak ada rahasia, hanya ada kejujuran. Semua rempah dipilih langsung di pasar tradisional setiap pagi. Tidak ada bahan sisa kemarin, tidak ada pewarna, tidak ada penyedap instan.
Ia percaya setiap rempah memiliki karakter dan waktu kematangan yang berbeda. Kemiri harus disangrai sampai minyaknya keluar perlahan. Kunyit digoreng sebentar agar rasa pahitnya hilang. Cabai digulingkan, bukan ditindih, supaya aromanya tetap hidup. Semua itu, katanya, hanya bisa dipelajari melalui indra peraba dan penciuman yang peka, sesuatu yang tak tercantum dalam resep manapun.
"Bumbu itu makhluk hidup. Dia bisa merasakan suasana hati kita. Kalau kita menggiling sambil marah atau terburu-buru, hasilnya beda. Sudah terbukti puluhan kali," ujarnya penuh keyakinan.
Mungkin terdengar seperti takhayul bagi telinga modern. Namun para pelanggan lamanya bersumpah bahwa bumbu buatan Maryam memiliki cita rasa yang sulit ditiru. Salah satunya, Rina Kartika, pemilik warung makan yang sudah delapan tahun menjadi langganannya, mengaku pelanggan setianya selalu bisa membedakan saat ia mencoba bumbu lain.
Menitipkan Warisan pada Generasi Penerus
Kini, di usia yang tidak lagi muda, Maryam mulai memikirkan regenerasi. Anak perempuannya, Dewi, yang semula memilih bekerja di kota, akhirnya pulang dan rela belajar di samping ibunya setiap subuh. Prosesnya tidak mudah. Dewi mengaku sempat frustrasi karena tangannya dianggap belum mampu "mencium" kematangan bumbu dengan benar.
"Saya hampir menyerah berkali-kali. Tapi setiap kali melihat mama menggiling sampai tangannya gemetar, saya sadar ini bukan sekadar pekerjaan. Ini cinta yang diwariskan," ungkap Dewi, suaranya nyaris pecah.
Sementara itu, Maryam menatap putrinya dengan bangga. Baginya, melihat generasi muda mau kembali kepada cara-cara sederhana adalah hadiah terindah di penghujung perjalanan hidupnya. Ia bahkan mulai membuka kelas kecil bagi para ibu muda di kampung yang ingin belajar menggiling bumbu secara tradisional, tanpa biaya, setiap hari Minggu.
Di tengah derasnya gaya hidup serba cepat dan bumbu instan yang tersedia di setiap rak toko, kisah Maryam mengisahkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar cita rasa. Bahwa kenikmatan sesungguhnya lahir dari kesabaran, dari tangan yang tak kenal lelah, dan dari hati yang sungguh-sungguh. Setiap kali aroma rempah mengepul dari cobek batu tua itu, ada mimpi yang terus dibangunkan, sederhana, hangat, dan menyentuh jiwa siapa pun yang menciumnya.
Comments (0)