Malam itu Indonesia Arena di Senayan, Jakarta, belum benar-benar gelap. Beberapa lampu sorot masih menyala, menerangi panggung luas yang dalam hitungan bulan akan menjadi saksi sebuah pertemuan besar. Di tengah keheningan itu, Antonius Widodo Mulyono berdiri cukup lama, tangannya menyentuh tepi panggung, matanya menjelajahi sudut demi sudut arena raksasa yang kelak dipenuhi ribuan penonton. "Aku selalu merinding melihat panggung kosong," katanya pelan. "Sebab aku tahu, sebentar lagi tempat ini akan hidup."
Kisah itu ia ulas kembali saat konferensi pers Pagelaran Sabang Merauke 2026 di lokasi yang sama, Jumat (21/8/2026). Antonius hadir bersama dua sahabat seperjuangannya, F. Aming Santoso dan Rusmedie Agus. Mereka tidak datang semata untuk mengumumkan sebuah acara. Yang mereka bagi kepada hadirin adalah perjalanan panjang — tentang mimpi yang dirawat bertahun-tahun, tentang orang-orang sederhana di pelosok yang telah lama menunggu panggung untuk bersinar.
Mimpi yang Lahir dari Perjalanan Sederhana
Dengan suara yang sesekali bergetar, Aming Santoso mengisahkan bagaimana gagasan besar ini berawal dari hal-hal kecil. Ia menceritakan kunjungan-kunjungan ke daerah-daerah terjauh, tempat para seniman berlatih di halaman rumah dengan perlengkapan seadanya, namun menyimpan dedikasi yang tak terkira. Ada penari yang tetap menari meski kakinya pegal, ada pemusik tradisional yang merawat alat warisan keluarga selama puluhan tahun. Dari sana, kata Aming, lahirlah keyakinan bahwa Nusantara menyimpan energi seni yang belum pernah terdengar oleh dunia.
"Banyak saudara kita di pelosok punya bakat luar biasa, tetapi tidak pernah diberi kesempatan. Kami ingin mereka tampil. Kami ingin seluruh Indonesia melihat betapa kayanya mereka," ujar Aming, disambut tepuk tangan di ruangan itu.
Ia pun mengenang seorang kakek pembuat gamelan yang menolak upah ketika diminta merawat alat musik untuk acara ini. "Yang penting bunyinya terdengar sampai Jakarta," begitu kata kakek itu, tiru Aming. Kalimat sederhana itu, lanjutnya, menjadi pengingat bahwa semangat kebersamaan justru tumbuh paling kuat di tempat yang paling tak terduga.
Di Balik Layar: Keringat, Air Mata, dan Harapan
Rusmedie Agus melanjutkan kisah dari sisi lain — di balik layar persiapan yang jarang diketahui publik. Ia membeberkan proses kurasi yang menjangkau penjuru tanah air, menyeleksi ratusan sanggar dan komunitas seni dari berbagai daerah. Proses itu, menurutnya, penuh momen mengharukan yang tak mudah dilupakan. Ia masih ingat seorang ibu penari dari pedalaman yang menangis tersedu-sedu saat menerima kabar lolos seleksi. Wanita itu bercerita, baru kali ini dalam hidupnya ia akan menaiki pesawat, baru kali ini ia akan berdiri di atas panggung sebesar itu.
"Air mata beliau adalah bahan bakar kami," tutur Rusmedie. "Kalau bukan karena orang-orang seperti itu, sebuah acara apa artinya?"
Tak hanya para penari dan pemusik, kisah-kisah kecil juga datang dari para pengrajin kostum, penjahit desa, hingga anak-anak muda yang rela meninggalkan pekerjaannya untuk membantu persiapan. Semua bergerak dengan satu tujuan yang sama: menghadirkan kebanggaan pada budaya sendiri.
Bangkit dan Menyala Menuju Hari Besar 2026
Jalan menuju pagelaran tentu tidak mulus. Antonius Widodo Mulyono mengakui banyak tantangan menanti — soal logistik dari Sabang sampai Merauke, soal pendanaan, hingga koordinasi lintas daerah. Tim kecilnya kerap bekerja siang dan malam, rapat hingga larut, saling mengingatkan saat semangat mulai surut. Namun ia menegaskan bahwa setiap kendala justru membuat api di dada mereka semakin menyala. Baginya, mimpi besar memang harus diperjuangkan, bukan sekadar ditunggu.
Saat konferensi pers ditutup, ketiganya berdiri berdampingan menghadapi kamera, senyum lebar terukir di wajah mereka. Di balik senyum itu tersimpan kelelahan berbulan-bulan, tetapi juga harapan yang tak terbendung. Tahun depan, ribuan mata akan menatap panggung Indonesia Arena, menyaksikan kisah-kisah dari ujung barat hingga ujung timur tanah air yang akhirnya menemukan rumahnya. Dan bagi Antonius, Aming, serta Rusmedie, momen itulah yang paling mereka nantikan — saat panggung kosong itu akhirnya hidup, membawa nama-nama sederhana dari pelosok menjadi inspirasi bagi seluruh bangsa.
Comments (0)