Celine Evangelista Lepas Putri Sulung dengan Doa dan Air Mata

Pagi itu, rumah Celine Evangelista tak seperti biasanya. Tak ada tawa yang berderai dari kamar sang putri sulung. Hanya sunyi yang sesekali dipecah oleh langkah Celine yang mondar-mandir memastikan ta...

Jul 12, 2026 - 12:43
0 1
Celine Evangelista Lepas Putri Sulung dengan Doa dan Air Mata

Pagi itu, rumah Celine Evangelista tak seperti biasanya. Tak ada tawa yang berderai dari kamar sang putri sulung. Hanya sunyi yang sesekali dipecah oleh langkah Celine yang mondar-mandir memastikan tak ada satu pun barang yang tertinggal. Ia memandangi koper cokelat yang berdiri tegak di sudut ruangan. Koper itu berisi bukan sekadar pakaian, melainkan potongan-potongan hati seorang ibu yang harus rela melepaskan pelukannya. Hari itu, sang putri akan menempuh babak baru hidupnya: menjadi santri di sebuah pesantren.

Keputusan yang Lahir dari Malam Sunyi

Keputusan menyekolahkan anak ke pesantren tak datang begitu saja. Celine mengisahkan, berawal dari obrolan larut malam saat ia dan putrinya berbincang tentang hidup. Sang putri mengungkapkan keinginannya memperdalam agama, merasakan atmosfer pesantren yang sering ia dengar dari cerita teman-temannya. Mendengar itu, hati Celine bergetar. "Saya sempat ragu. Mana mungkin saya tega melepasnya? Tapi lalu saya sadar, ini bukan tentang saya. Ini tentang masa depannya," ujar Celine. Dengan penuh keyakinan, ia pun mendaftarkan sang putri ke pesantren yang dikenal dengan disiplin dan kehangatan para pengajarnya.

Persiapan yang Penuh Tangis Tersembunyi

Satu bulan sebelum keberangkatan, Celine mulai menyibukkan diri dengan berbagai persiapan. Ia sengaja melibatkan sang putri dalam memilih perlengkapan: gamis sederhana, kerudung putih, hingga Al-Qur'an dengan terjemahan yang mudah dipahami. Setiap malam, ia menyetrika sendiri pakaian yang akan dibawa. "Di saat menyetrika itulah air mata saya sering tumpah. Saya ingat saat ia masih bayi, saya yang memakaikan popoknya. Sekarang saya menyiapkan seragam untuk hidup mandirinya," kenang Celine dengan suara bergetar. Ia menyembunyikan tangisnya agar sang putri tetap tegar dan bersemangat menatap hari esok.

Perjalanan Penuh Renungan

Di dalam mobil yang melaju meninggalkan Jakarta, Celine duduk di samping putrinya. Jalan tol yang biasanya ramai, pagi itu terasa lengang. Sesekali ia mencuri pandang ke arah putrinya yang serius memandangi pemandangan di luar jendela. Celine membiarkan pikirannya melayang pada kenangan: ulang tahun pertama yang dirayakan sederhana, langkah pertama yang tertatih, hingga saat pertama kali putrinya bisa membaca Al-Qur'an. "Waktu terasa begitu cepat. Rasanya baru kemarin saya menggendongnya, sekarang dia sudah siap menimba ilmu jauh dari saya," bisiknya lirih. Sepanjang perjalanan, ia terus berusaha tersenyum, meski hati kecilnya menangis merindu.

Isak Tangis di Pelataran Pesantren

Mobil berhenti tepat di depan gerbang putih yang bertuliskan nama pesantren. Suasana lengang, hanya terdengar suara burung dan lantunan ayat suci dari dalam masjid yang terbawa angin. Saat itulah momen yang paling mengharukan terjadi. Celine dan putrinya turun, saling berpandangan, lalu berpelukan begitu erat. Air mata yang sedari tadi ditahan, akhirnya tumpah juga. "Ini bukan perpisahan, Nak. Ini awal dari perjalananmu menjadi perempuan saleha yang akan membuat Ibu bangga. Jangan pernah lupa salat dan zikir," pesan Celine di tengah isakan. Sang putri mengangguk kuat, menyeka air mata ibunya dengan tangan kecil yang dulu sering ia genggam saat menyeberang jalan. Beberapa ibu santri lain yang hadir pun tak kuasa menahan haru.

Detik-Detik Melepas Genggaman

Setelah semua administrasi selesai, saatnya berpisah benar-benar tiba. Celine harus meninggalkan putrinya di asrama, sebuah kamar berisi empat tempat tidur yang akan menjadi rumah baru bagi buah hatinya. Ia menatap dalam-dalam wajah putrinya, seakan ingin merekam setiap detail: mata bening yang penuh semangat, kerudung putih yang rapi, dan senyum yang kini berbalut ketegaran. "Jaga diri baik-baik, ya. Ibu akan selalu mendoakanmu setiap selesai salat," ucap Celine sebelum akhirnya berbalik. Langkahnya berat, namun ia tahu ini adalah pengorbanan yang akan berbuah manis kelak. Dari kejauhan, ia masih sempat melihat putrinya melambaikan tangan, dan saat itulah ia berbisik dalam hati, "Tak apa menangis, Ibu. Tapi esok, Ibu harus sudah bangkit untuk terus mendukungnya."

Harapan yang Tersemat dalam Doa

Sore harinya, Celine singgah di masjid pesantren. Dalam keheningan, ia sujud panjang, memohon agar Allah melindungi dan memberikan kemudahan bagi putrinya. "Saya titipkan anak saya pada-Mu, ya Allah. Bimbing dia menjadi insan yang berilmu dan berakhlak mulia," bisiknya khusyuk. Ia mengisahkan, meski rumah akan terasa sepi, namun hati ini penuh harap. Baginya, pesantren adalah tempat terbaik untuk membentuk karakter dan memperdalam cinta kepada Sang Pencipta. "Saya percaya, kelak ia akan pulang membawa cahaya yang akan menerangi keluarga dan lingkungannya."

Pesan untuk Para Ibu di Luar Sana

Melalui momen ini, Celine berbagi inspirasi bagi para orang tua, terutama ibu, yang sedang atau akan melepas anaknya ke pesantren. Ia berpesan, "Jangan takut. Melepas bukan berarti kehilangan. Justru ini adalah cara kita menunjukkan cinta yang sesungguhnya—mempersiapkan anak untuk menggapai ridha Allah." Di balik air mata dan kerinduan yang pasti akan menyergap, ada kebanggaan yang tak terhingga melihat anak berani melangkah di jalan kebaikan. Kisah Celine Evangelista ini menjadi pengingat bahwa di setiap doa ibu, ada kekuatan yang tak ternilai. Dan di setiap air mata yang jatuh, ada benih-benih keberkahan yang sedang ditanam untuk masa depan sang buah hati.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User