Di sudut dapur berukuran tak lebih dari tiga kali empat meter itu, uap mengepul pelan dari sebuah panci tua. Tangan Keriyem, perempuan berusia 67 tahun, bergerak lincah mengaduk cairan putih yang mendidih perlahan. Aroma tepung beras bercampur daun pandan menyebar, membangunkan ingatan yang lama tertidur. Ia sedang memasak bubur sumsum — hidangan sederhana yang telah menemaninya sejak ia masih anak-anak di sebuah kampung di pinggiran Yogyakarta.
"Dulu, ibu saya selalu membuat ini kalau musim panen tiba," kisahnya dengan suara pelan. "Kami duduk melingkar di lantai tanah, berbagi satu wadah besar. Rasanya bukan cuma manis, tapi hangat di hati."
Kisah di Balik Satu Mangkuk Putih
Bubur sumsum memang bukan makanan mewah. Bahan-bahannya sederhana: tepung beras, air, santan, dan sedikit garam. Namun, di tangan para peraciknya, kesederhanaan itu berubah menjadi hidangan yang menyentuh. Kuah gula jawa yang kental dan harum menambah lapisan manis yang membuat siapa pun sulit berhenti setelah suapan pertama.
Di sebuah pasar tradisional di Sleman, Jumat pagi lalu, seorang pedagang bernama Warto tampak sibuk melayani pembeli. Ia mengaku telah berjualan bubur sumsum selama hampir dua dekade. "Saya dulu pengangguran, lalu iseng coba bikin bubur sumsum pakai resep nenek. Ternyata laku," ujarnya sambil tersenyum. "Dari satu mangkuk itulah saya bisa menyekolahkan tiga anak saya sampai sarjana."
Kisah Warto adalah satu dari ribuan kisah yang tak pernah tercatat dalam buku sejarah kuliner. Bubur sumsum sering dianggap sekadar makanan pinggiran, sesuatu yang hanya muncul saat hajatan atau bulan puasa. Padahal, di baliknya ada perjuangan panjang orang-orang kecil yang bertahan dengan cara paling jujur: memasak.
Ketika Air Mata Berbaur dengan Santan
Tidak semua perjalanan bubur sumsum berjalan mulus. Keriyem mengisahkan momen paling mengharukan ketika ia harus tetap berjualan meski sang suami sakit keras. "Setiap subuh, saya bangun lebih dulu, memasak bubur, lalu menitipkan suami ke tetangga. Saya menangis di sepanjang jalan sambil mendorong gerobak," kenangnya. Air mata itu, katanya, ia sembunyikan di balik senyum saat melayani pembeli.
"Bubur sumsum ini bukan sekadar jualan. Ini cara saya bertahan hidup, cara saya menjaga keluarga. Setiap butir tepungnya saya masukkan dengan doa."
Kisah serupa datang dari Ratna, perempuan muda yang memutuskan pulang kampung dan melanjutkan usaha ibunya. Ia sempat ragu karena dianggap memilih pekerjaan "remeh". Namun, ia bangkit setelah melihat sendiri bagaimana sepiring bubur sumsum bisa membuat orang tersenyum, bahkan ketika hidup sedang berat.
"Saya pernah didatangi seorang kakek. Dia bilang, rasanya persis seperti buatan almarhum istrinya. Dia menangis sambil makan. Di situ saya sadar, makanan ini punya kekuatan yang jauh lebih besar dari sekadar mengenyangkan," ujar Ratna, matanya berkaca-kaca.
Merawat Tradisi, Menyalakan Harapan
Di era ketika makanan cepat saji membanjiri kota-kota besar, bubur sumsum tetap punya ruang di hati masyarakat. Beberapa kafe modern bahkan mulai mengangkatnya kembali dengan sentuhan baru: topping kelapa muda, saus gula aren, atau es serut. Namun, bagi para pembuatnya, nilai sejati bubur sumsum tidak terletak pada inovasi, melainkan pada keaslian rasa dan cerita yang diwariskan.
Keriyem kini mengajari cucunya cara mengaduk bubur dengan api kecil agar tidak menggumpal. "Saya tidak punya harta untuk diwariskan, tapi saya punya resep dan kenangan. Itu lebih berharga," ucapnya lirih.
Malam semakin larut. Panci di atas kompor itu akhirnya diangkat. Keriyem menyendok bubur sumsum ke dalam mangkuk kecil, lalu menuangkan kuah gula jawa yang masih mengepul. Di bawah lampu dapur yang temaram, hidangan itu tampak begitu sederhana. Namun, bagi mereka yang pernah merasakannya, bubur sumsum adalah tentang bangkit dari keterbatasan, tentang mimpi yang dimasak perlahan, dan tentang cinta yang tidak pernah habis meski hanya disajikan dalam satu mangkuk putih.
Comments (0)