Oct 10, 2026
entertainment

Tepung Bungkus, Manis Kelapa yang Menyimpan Kisah Dapur Ibu

Di sudut dapur berukuran tiga kali empat meter itu, aroma kelapa muda yang baru diparut bercampur dengan uap dari kukusan yang mengepul pelan. Tangan seorang ibu bernama Sumarni, 58 tahun, bergerak ce...

Tepung Bungkus, Manis Kelapa yang Menyimpan Kisah Dapur Ibu

Di sudut dapur berukuran tiga kali empat meter itu, aroma kelapa muda yang baru diparut bercampur dengan uap dari kukusan yang mengepul pelan. Tangan seorang ibu bernama Sumarni, 58 tahun, bergerak cekatan membungkus adonan tepung yang telah ia uleni dengan penuh kesabaran. Ia tidak sedang menyiapkan pesanan untuk pesta atau hajatan besar. Malam itu, ia hanya ingin membuat tepung bungkus untuk cucunya yang baru saja pulang sekolah.

"Kalau lapar, dia selalu bilang ingin yang manis-manis. Ya sudah, saya buatkan ini. Tidak perlu lama, yang penting ada," ujarnya lirih sambil tersenyum. Kalimat sederhana itu menyimpan perjalanan panjang seorang perempuan yang telah puluhan tahun menjadikan dapur sebagai ruang paling berharga di rumahnya.

Jajanan Sederhana dengan Rasa yang Tak Pernah Pudar

Tepung bungkus adalah salah satu jajanan tradisional yang akrab di lidah masyarakat. Terbuat dari tepung beras atau tepung ketan, adonan ini diisi dengan campuran kelapa parut dan gula yang telah dimasak hingga legit. Setelah dibungkus rapi, jajanan ini dikukus hingga matang, menghasilkan tekstur lembut dengan rasa manis yang hangat di mulut.

Bagi Sumarni, resep ini bukan sekadar bahan dan takaran. Ia mengisahkan bagaimana ibunya dulu mengajarkannya membuat jajanan ini ketika ia masih berusia belasan tahun. "Ibu saya bilang, kalau bikin ini jangan buru-buru. Kelapanya harus muda, gulanya jangan pelit, dan yang paling penting, dimasak dengan tenang," kenangnya.

Ia pun menuturkan bahwa tepung bungkus kerap menjadi teman bagi keluarga yang ingin menikmati camilan tanpa harus mengeluarkan banyak biaya. Semua bahan mudah dijumpai di pasar, bahkan di warung dekat rumah. Proses membuatnya juga tidak menuntut peralatan rumit. Cukup dandang, kukusan, dan cetakan sederhana, jajanan ini sudah bisa hadir di meja makan.

Di Balik Layar: Memasak sebagai Perjuangan

Namun, perjalanan Sumarni tidak selalu semanis isi tepung bungkus yang ia buat malam itu. Bertahun-tahun lalu, saat suaminya sakit dan tidak bisa bekerja, ia harus menghidupi keluarga dengan berjualan jajanan tradisional dari pagi hingga malam. Tepung bungkus menjadi salah satu andalannya karena harganya yang terjangkau dan disukai banyak orang.

"Dulu saya jualan keliling naik sepeda. Kalau hujan, saya berteduh di depan toko orang. Saya pegang bungkusan ini erat-erat supaya tidak basah," ucapnya. Air mata tampak menggenang ketika ia mengenang masa-masa itu. "Malu? Ada. Tapi yang lebih saya takutkan adalah anak-anak tidak makan," tambahnya.

Dari berjualan jajanan inilah, ketiga anaknya bisa terus bersekolah. Ia menyimpan cerita itu bukan untuk dikenang dengan sedih, melainkan sebagai pengingat bahwa hal-hal sederhana bisa menjadi jalan keluar ketika hidup menekan dari banyak sisi.

Momen Mengharukan ketika Jajanan Tradisional Kembali Dikenal

Beberapa tahun terakhir, tepung bungkus kembali menarik perhatian. Banyak anak muda yang kini justru mencari jajanan tradisional sebagai bentuk perjalanan mencari rasa yang autentik. Sumarni mengaku senang ketika ada pelanggan muda yang bertanya cara membuatnya.

"Ada mahasiswa yang datang, tanya resepnya. Saya kasih tahu semuanya. Saya bilang, rahasianya cuma satu: masak dengan cinta," ujarnya sambil tertawa kecil.

Ia pun berharap jajanan seperti tepung bungkus tidak hilang ditelan zaman. Baginya, setiap bungkus kecil itu menyimpan kisah, bukan hanya tentang rasa, tetapi tentang ketekunan, kesabaran, dan kasih sayang yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Malam semakin larut. Kukusan dibuka, uap mengepul memenuhi dapur. Sumarni meletakkan beberapa tepung bungkus di atas piring, lalu memanggil cucunya. Anak itu menyantapnya dengan lahap, sementara sang nenek hanya memandang penuh syukur. Di rumah kecil itu, mimpi tidak selalu besar. Kadang, ia cukup berbentuk bungkusan tepung yang manis dan legit.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User