Oct 10, 2026
Hukum

Blue Fire Kembali Muncul di Kawah Manuk Papandayan, Warga Diminta Waspadai Gas Vulkanik

Fenomena blue fire atau api biru kembali mencuri perhatian publik setelah terlihat di kawasan Kawah Manuk, kompleks Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat. K

Blue Fire Kembali Muncul di Kawah Manuk Papandayan, Warga Diminta Waspadai Gas Vulkanik

Fenomena blue fire atau api biru kembali mencuri perhatian publik setelah terlihat di kawasan Kawah Manuk, kompleks Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat. Kilatan cahaya kebiruan yang menyerupai nyala api itu muncul pada periode 23–24 September 2026 dan langsung menjadi perbincangan hangat di media sosial. Banyak warganet mengunggah rekaman cahaya misterius tersebut, sebagian mengaitkannya dengan fenomena alam langka, sebagian lagi justru mengira itu pertanda aktivitas vulkanik yang membahayakan.

Gunung Papandayan sendiri bukan gunung asing bagi para pendaki. Kawasan Kawah Manuk dikenal sebagai salah satu lokasi favorit untuk menyaksikan matahari terbit sekaligus menikmati panorama kawah yang masih aktif. Namun, kemunculan api biru kali ini membuat sejumlah pihak menahan diri untuk mendekat. Pasalnya, fenomena tersebut bukan sekadar pertunjukan cahaya, melainkan berkaitan erat dengan semburan gas dari dalam perut bumi.

Apa Sebenarnya Blue Fire di Kawah Manuk?

Api biru yang terlihat di Kawah Manuk bukanlah api dalam arti pembakaran biasa. Fenomena ini terjadi ketika gas vulkanik, terutama sulfur dioksida (SO₂) dan hidrogen sulfida (H₂S), keluar dari celah-celah kawah lalu terbakar saat bersentuhan dengan oksigen di udara. Suhu tinggi di sekitar kawah memicu reaksi tersebut, menghasilkan nyala kebiruan yang indah namun berbahaya.

Fenomena serupa juga dikenal di kawasan Kawah Ijen, Banyuwangi. Bedanya, di Ijen api biru muncul dalam skala besar dan menjadi daya tarik wisata malam. Sementara di Papandayan, kemunculan api biru lebih sporadis dan sangat bergantung pada kondisi cuaca serta intensitas hembusan gas.

Peringatan Ahli: Gas Vulkanik Bisa Mematikan

Sejumlah ahli vulkanologi mengingatkan bahwa keindahan api biru tidak sebanding dengan risiko yang mengintai. Gas vulkanik yang menyertai fenomena ini dapat memicu sesak napas, iritasi mata, hingga kematian jika terhirup dalam konsentrasi tinggi di ruang tertutup atau cekungan yang minim sirkulasi udara.

"Blue fire itu indah, tapi jangan sekali-kali mendekat tanpa pengaman. Gas vulkanik tidak berwarna dan tidak selalu berbau, sehingga bahayanya sering tidak terdeteksi. Wisatawan harus mengikuti jalur resmi dan arahan petugas," ujar seorang ahli vulkanologi dari Badan Geologi.

Selain itu, faktor arah angin sangat menentukan. Ketika angin bertiup ke arah pengunjung, gas beracun bisa terbawa dan menimbulkan dampak serius dalam hitungan detik. Karena itu, pengelola kawasan diminta memperketat pengawasan, terutama pada jam-jam tertentu ketika aktivitas gas meningkat.

Respons Pengelola dan Imbauan bagi Pendaki

Menanggapi fenomena ini, pengelola Taman Wisata Alam Gunung Papandayan menyatakan akan meningkatkan pemantauan di sekitar Kawah Manuk. Pendaki dan wisatawan diimbau tidak mendekati area semburan gas, tidak menyalakan api di sekitar kawah, dan selalu membawa masker sebagai perlindungan dasar.

  • Jaga jarak aman dari sumber gas, minimal sesuai arahan petugas.
  • Perhatikan arah angin sebelum mendekati area kawah.
  • Gunakan masker dan hindari berlama-lama di titik dengan bau menyengat.
  • Ikuti jalur resmi serta larangan yang dipasang pengelola.

Fenomena blue fire di Papandayan sejatinya menjadi pengingat bahwa gunung api adalah laboratorium alam yang menakjubkan sekaligus berbahaya. Melihatnya dari jarak aman tentu diperbolehkan, tetapi mendekat demi konten tanpa perhitungan adalah keputusan yang bisa berujung fatal. Keselamatan tetap nomor satu, bukan sekadar unggahan viral.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User