Oct 12, 2026
entertainment

Beras dan Buku Jadi Tiket Konser Dongker di Kalibaru

Langit Jakarta baru saja beranjak gelap ketika ratusan pasang kaki mulai memadati Plaza Kalibaru. Mereka bukan datang membawa tiket kertas yang biasa disobek di pintu masuk. Di tangan-tangan itu, terg...

Beras dan Buku Jadi Tiket Konser Dongker di Kalibaru

Langit Jakarta baru saja beranjak gelap ketika ratusan pasang kaki mulai memadati Plaza Kalibaru. Mereka bukan datang membawa tiket kertas yang biasa disobek di pintu masuk. Di tangan-tangan itu, tergenggam kantong beras, karung kecil, dan setumpuk buku yang sudah lama tersimpan di rak. Malam itu, Sabtu (10/10), ada cara lain untuk bisa menonton konser: menukar bahan pangan dan bacaan.

Grup musik Dongker menggelar pertunjukan bertajuk Melankolia, dan memilih jalan yang jarang ditempuh banyak band. Alih-alih menetapkan harga dalam rupiah, mereka membuka pintu bagi siapa saja yang bersedia membawa beras atau buku. Sederhana, tetapi menyentuh. Di tengah gegap gempita industri musik yang serba mahal, keputusan itu seperti oase kecil di sudut kota.

Ketika Tiket Tak Lagi Soal Uang

Seorang penonton, Rian, mengisahkan bagaimana ia harus memilih beras mana yang akan dibawa malam itu. "Saya ambil dari dapur, sekitar dua liter. Istri sempat bertanya, tapi setelah saya jelaskan, dia ikut senang," ujarnya sambil tersenyum. Bagi Rian, ini pengalaman pertama menonton konser tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam. Ia mengaku sudah lama mengikuti perjalanan musik Dongker, tetapi selalu terkendala biaya.

Di sisi lain panggung, tumpukan buku mulai memenuhi meja yang disediakan panitia. Ada novel klasik, kumpulan puisi, hingga buku pelajaran bekas. Seorang mahasiswa, Sari, membawa tiga buku sastra yang ia beli dari pasar loak. "Daripada menumpuk di kos, lebih baik jadi tiket. Setidaknya buku ini punya cerita baru," katanya. Momen mengharukan terjadi ketika seorang anak kecil menyerahkan buku cerita bergambar, lalu berlari kecil menuju barisan penonton paling depan.

Musik yang Berjuang dari Bawah

Dongker sendiri bukan nama yang lahir dari panggung megah. Mereka tumbuh dari gigs kecil, dari ruang bawah tanah, dari mimpi yang tak pernah padam. Sistem barter ini bukan sekadar strategi pemasaran. Di balik layar, para personel ingin mengembalikan musik kepada masyarakatnya. Mereka sadar, tak semua orang punya uang lebih untuk hiburan, tetapi semua orang punya beras dan buku.

"Kami ingin konser ini terasa seperti rumah, bukan mal," ujar salah satu personel Dongker di sela-sela persiapan. Kalimat itu sederhana, tetapi menggetarkan. Ia melanjutkan, "Beras akan kami salurkan ke dapur umum, buku akan kami kirim ke taman baca. Jadi penonton bukan cuma datang, tapi juga ikut bergerak." Mendengar itu, beberapa penonton yang tadinya hanya menonton ikut bertepuk tangan.

"Kami tidak menjual tiket. Kami mengajak orang untuk berbagi. Itu jauh lebih berharga."

Air Mata dan Tepuk Tangan di Kalibaru

Ketika lagu pertama dimainkan, suasana berubah menjadi hening yang intens. Lampu panggung sederhana, hanya beberapa sorot berwarna hangat. Namun justru kesederhanaan itu yang membuat malam semakin membekas. Penonton bernyanyi bersama, beberapa di antaranya menyeka air mata. Ada yang datang sendiri, ada yang membawa keluarga. Semua melebur dalam satu frekuensi yang sama.

Seorang ibu paruh baya, Ningsih, mengaku datang karena penasaran dengan sistem tiket yang tidak biasa. Ia membawa satu karung beras kecil dan sebuah buku resep masakan. "Saya tidak terlalu kenal musiknya, tapi saya suka caranya. Ini seperti gotong royong," ujarnya. Ia lalu ikut duduk di lantai, menikmati alunan musik yang syahdu.

Menjelang akhir konser, panitia mengumumkan jumlah beras dan buku yang terkumpul. Angka itu disambut tepuk tangan panjang. Bagi Dongker, malam Melankolia bukan hanya soal penampilan. Ini tentang membangun solidaritas lewat cara yang menyentuh. Tentang mimpi yang tetap hidup meski tak selalu dibayar dengan uang. Tentang beras dan buku yang berubah menjadi tiket, lalu menjadi kenangan.

Ketika lampu akhirnya padam, penonton membubarkan diri dengan senyum dan cerita. Di sudut plaza, karung-karung beras dan tumpukan buku siap dikirim ke tempat yang membutuhkan. Malam itu, Kalibaru bukan cuma jadi tempat konser. Ia jadi saksi bahwa musik bisa bangkit dari hal-hal paling sederhana.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User