Oct 12, 2026
entertainment

Ketika Endang Nilowati Menikahkan Petruk di Panggung Wayang Jurnalis

Di sebuah ruang latihan bersahaja di kawasan Jakarta Pusat, suara sinden mengalun pelan menemani denting gamelan yang belum sepenuhnya selaras. Endang Nilowati duduk bersila di lantai, tangannya cekat...

Ketika Endang Nilowati Menikahkan Petruk di Panggung Wayang Jurnalis

Di sebuah ruang latihan bersahaja di kawasan Jakarta Pusat, suara sinden mengalun pelan menemani denting gamelan yang belum sepenuhnya selaras. Endang Nilowati duduk bersila di lantai, tangannya cekatan menata wayang-wayang kulit yang akan menjadi saksi sebuah pernikahan tak biasa. Bukan pernikahan manusia, melainkan pernikahan Petruk—tokoh punakawan yang selama berabad-abad dikenal sebagai lelaki yang tak pernah benar-benar menikah dalam banyak lakon pewayangan.

Di sudut ruangan, beberapa orang yang mengenakan kemeja batik tampak sibuk membaca naskah. Mereka bukan dalang, melainkan jurnalis. Ada yang masih memegang buku catatan, ada pula yang tampak gugup memegang cempurit, alat untuk menggerakkan wayang. Mereka adalah para dungik—sebutan bagi dalang pemula—yang tengah berlatih untuk pertunjukan bertajuk Petruk Mantu, bagian dari program Wayang Jurnalis yang akan digelar pada 10 Oktober 2026 mendatang.

Endang, yang telah puluhan tahun berkecimpung di dunia pewayangan, mengaku tidak pernah membayangkan akan mengajarkan seni pedalangan kepada orang-orang yang kesehariannya bergelut dengan berita dan tenggat waktu. Namun justru dari situ ia menemukan sesuatu yang menyentuh.

"Awalnya saya pikir mereka akan cepat menyerah. Ternyata mereka membawa sesuatu yang berbeda—kepekaan terhadap cerita manusia. Itu yang membuat wayang tetap hidup," ujarnya sambil tersenyum, matanya menerawang mengingat perjalanan latihan selama berbulan-bulan.

Petruk yang Akhirnya Menikah

Lakon Petruk Mantu sendiri bukan sekadar cerita pernikahan. Dalam naskah yang digarap bersama para jurnalis ini, Petruk digambarkan sebagai sosok yang selama ini selalu hadir sebagai penghibur, penasihat, dan pengikut setia para ksatria. Namun tak pernah ada yang bertanya tentang kehidupannya sendiri—tentang kesepiannya, tentang mimpinya, tentang keinginannya untuk memiliki keluarga.

"Petruk itu seperti banyak orang di sekitar kita. Selalu ada untuk orang lain, tapi jarang dipikirkan nasibnya sendiri," ujar salah seorang dungik yang enggan disebut namanya. Ia mengaku awalnya kesulitan menjiwai tokoh itu, tetapi lama-kelamaan justru menemukan cerminan dirinya sebagai jurnalis yang sering melupakan kehidupan pribadi demi pekerjaan.

Momen paling mengharukan dalam latihan terjadi beberapa pekan lalu. Seorang dungik yang biasanya paling vokal tiba-tiba terdiam usai memainkan adegan Petruk berpamitan kepada Gareng dan Bagong sebelum menikah. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan. "Saya ingat almarhum ayah saya. Rasanya seperti dia yang mengantar saya menikah," ujarnya lirih.

Ruang Sederhana, Mimpi Besar

Program Wayang Jurnalis lahir dari kegelisahan sederhana: banyak jurnalis yang meliput seni pertunjukan, namun jarang benar-benar memahami denyut nadi seni itu sendiri. Lewat program ini, mereka tidak hanya menonton, tetapi juga terlibat langsung—memegang wayang, memainkan lakon, dan merasakan getaran cerita dari sisi yang paling personal.

Endang mengisahkan bagaimana proses latihan berjalan penuh lika-liku. Ada yang tangannya kaku, ada yang tidak tahu perbedaan antara eling dan eling-eling, ada pula yang tertawa getir karena suara sindennya sumbang. Namun perlahan, mereka belajar. "Wayang itu bukan soal teknik semata. Wayang itu soal rasa. Dan rasa itu tidak bisa diajarkan dalam sehari," katanya.

Galeri Indonesia Kaya, yang menaungi acara ini, menyebut pertunjukan nanti tidak hanya sekadar hiburan. Ia menjadi ruang refleksi tentang bagaimana tradisi dan profesi modern bisa saling menyapa tanpa kehilangan jati diri. Dalam dunia yang serba cepat, wayang menawarkan sesuatu yang langka: kesabaran untuk mendengar cerita sampai tuntas.

Bagi Endang, momen paling membahagiakan bukanlah saat pertunjukan berhasil, melainkan ketika ia melihat para dungik itu berdiskusi tentang karakter Petruk dengan mata berbinar—seperti anak-anak yang baru menemukan mainan kesayangan. "Saya ingin mereka bukan cuma mengenal wayang, tapi jatuh cinta pada wayang. Kalau sudah cinta, mereka akan merawatnya seumur hidup," ungkapnya penuh haru.

Sementara itu, di ruang latihan, denting gamelan kembali terdengar. Petruk mulai melangkah ke pelaminan. Dan di antara tawa dan air mata, para jurnalis itu belajar satu hal yang jarang mereka temui di ruang redaksi: bahwa setiap cerita—bahkan cerita wayang—selalu punya sisi manusiawi yang layak diperjuangkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User