Aug 25, 2026
Hukum

AS — Mahasiswa Perguruan Tinggi Tuntut Penggunaan AI yang Etis dan Terstruktur

Pergeseran besar sedang terjadi di dunia akademik Amerika Serikat. Dalam kurun tiga tahun terakhir, proporsi mahasiswa jurusan bisnis yang menggunakan kece

AS — Mahasiswa Perguruan Tinggi Tuntut Penggunaan AI yang Etis dan Terstruktur

Pergeseran besar sedang terjadi di dunia akademik Amerika Serikat. Dalam kurun tiga tahun terakhir, proporsi mahasiswa jurusan bisnis yang menggunakan kecerdasan buatan (AI) secara rutin melonjak dari 6,2 persen menjadi 29 persen, berdasarkan penelitian longitudinal dari Kogod School of Business milik American University. Temuan eksklusif yang dibagikan kepada Axios ini menggambarkan bahwa teknologi generatif telah bertransformasi dari sekadar eksperimen teknologi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan akademik dan persiapan karier mahasiswa masa kini.

Berbeda dengan kesan yang muncul dari aksi penolakan—termasuk sorakan boo terhadap pembicaraan soal AI dalam upacara kelulusan musim semi lalu—mayoritas mahasiswa sesungguhnya tidak menolak teknologi ini sepenuhnya. Mereka justru menyadari bahwa AI adalah keterampilan kerja yang semakin kritis. Namun, di balik adopsi massal tersebut, muncul tuntutan agar lembaga pendidikan memberikan panduan yang lebih komprehensif mengenai penggunaan AI secara bertanggung jawab, kompetitif, dan terutama etis.

2022–2025: AI Bertransformasi dari Barang Langka menjadi Rutinitas Harian

Survei yang dilakukan Kogod School of Business selama tiga tahun memberikan gambaran langka tentang perubahan perilaku mahasiswa terhadap teknologi generatif. Meskipun data ini hanya mencakup 483 mahasiswa jurusan bisnis di satu institusi dan mungkin tidak sepenuhnya mewakili seluruh perguruan tinggi di Amerika Serikat, tren yang ditunjukkan sejalan dengan temuan nasional yang lebih luas.

  1. Pada 2022: AI generatif masih dianggap sebagai inovasi marginal. Hanya 6,2 persen mahasiswa bisnis yang melaporkan penggunaan rutin untuk keperluan akademik maupun profesional.
  2. Pada 2024–2025: Angka tersebut melesat hingga mencapai 29 persen, menandakan bahwa AI telah melewati fase adopsi awal dan menjadi alat bantu standar.
  3. Pada semester terakhir: Lebih dari 80 persen mahasiswa mengaku telah menggunakan AI untuk keperluan akademik dalam enam bulan terakhir. Diperkirakan hampir sepertiga dari mereka menggunakan teknologi ini sebanyak 11 kali atau lebih dalam seminggu untuk tugas sekolah maupun pekerjaan.

2025: Integrasi Massal di Kampus dan Lonjakan Permintaan Pasar Kerja

Adopsi AI tidak hanya terjadi di lingkungan Kogod. Gelombang serupa terdeteksi secara nasional, memperkuat argumen bahwa perguruan tinggi kini berhadapan dengan realitas yang tidak bisa dihindari. Sementara beberapa profesor di berbagai kampus masih memilih menerapkan larangan menyeluruh terhadap penggunaan AI, pasar tenaga kerja justru bergerak ke arah berlawanan dengan cepat.

  1. Awal 2025: Survei kilat Inside Higher Ed terhadap 1.038 mahasiswa dari perguruan tinggi dua tahun dan empat tahun menemukan bahwa 85 persen dari mereka telah menggunakan AI generatif untuk tugas kuliah dalam 12 bulan terakhir.
  2. April 2025: Survei Gallup memperkuat temuan tersebut, menyebutkan bahwa lebih dari separuh atau 57 persen mahasiswa di Amerika Serikat menggunakan AI setidaknya seminggu sekali, sementara satu dari lima mahasiswa mengaku menggunakannya setiap hari.
  3. Pertengahan 2025: Dari sisi rekrutmen, persentase wawancara kerja yang menyertakan pertanyaan terkait AI melonjak tajam dari 11,6 persen menjadi 42,6 persen dalam tiga tahun terakhir. Realitas ini memaksa mahasiswa untuk menguasai teknologi tersebut, meski banyak di antaranya merasa belum cukup siap secara etis maupun teknis.

Respons Institusi: Antara Larangan Kaku dan Pendekatan Terstruktur

Di tengah perdebatan nasional mengenai kebijakan AI di ruang kelas, Kogod School of Business memilih jalan yang lebih deliberatif. Casey Evans, dekan interim Kogod, menyatakan bahwa pihaknya tidak menemukan banyak penolakan dari mahasiswa terhadap integrasi AI. Sebaliknya, mahasiswa menerima teknologi ini sebagai salah satu alat dalam kotak perkakas mereka, asalkan diterapkan dengan cara yang terencana dan tidak dipaksakan.

  1. Musim semi 2024: Aksi sorakan dalam upacara kelulusan di berbagai kampus menunjukkan kegelisahan nyata generasi muda terhadap retorika yang terlalu mengagungkan AI tanpa mempertimbangkan risiko sosialnya.
  2. Tahun akademik 2024–2025: Meskipun sebagian fakultas di berbagai institusi masih memberlakukan larangan total terhadap ChatGPT dan platform sejenisnya, data menunjukkan larangan tersebut semakin tidak relevan dengan tuntutan industri.
  3. Semester genap 2025: Evans menekankan bahwa pendekatan Kogod bersifat sangat intentional atau disengaja. Mahasiswa diberi kerangka berpikir untuk menggunakan AI secara efektif, etis, dan kompetitif, bukan sekadar dibiarkan mengandalkan algoritme tanpa pemahaman kritis.

Munculnya Kekhawatiran: Ketergantungan AI dan Erosi Kompetensi

Meski optimisme terhadap potensi AI mendominasi diskusi pasar kerja, lapangan survei menunjukkan bahwa mahasiswa tidak buta terhadap risiko yang dibawa teknologi ini. Salah satu kekhawatiran terbesar yang muncul adalah masalah ketergantungan dan degradasi kemampuan kognitif individu akibat penggunaan berlebihan.

  1. Pada 2025: Survei Inside Higher Ed mencatat bahwa 40 persen mahasiswa yang disurvei mengaku cemas bahwa ketergantungan pada AI akan mengikis kemampuan berpikir kritis, menulis, dan analisis mereka secara mandiri.
  2. Tuntutan proaktif: Berangkat dari kekhawatiran itu, mahasiswa secara kolektif menuntut adanya "persiapan terstruktur" dari kampus untuk membekali mereka dengan literasi AI yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga etis.
  3. Proyeksi ke depan: Tanpa intervensi kurikuler yang jelas, para pakar pendidikan memperingatkan bahwa lulusan yang terbiasa mengandalkan AI tanpa fondasi pengetahuan yang kuat berisiko menjadi generasi tenaga kerja yang kurang kompeten di tengah transformasi digital yang justru menuntut keahlian manusiawi yang lebih tinggi.

Dengan lebih dari 80 persen mahasiswa telah mengintegrasikan AI ke dalam rutinitas akademik mereka, dan

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User