Aroma Pandan yang Mengubah Nasib Kue Tradisional Pinggir Jalan
Pukul tiga sore, dari sebuah dapur mungil di kawasan Jakarta Selatan, uap putih mengepul membawa wangi khas yang sulit ditolak. Bukan sekadar aroma kelapa panggang yang biasa menguar dari cetakan kue ...
Pukul tiga sore, dari sebuah dapur mungil di kawasan Jakarta Selatan, uap putih mengepul membawa wangi khas yang sulit ditolak. Bukan sekadar aroma kelapa panggang yang biasa menguar dari cetakan kue pancong, melainkan perpaduannya dengan harum pandan alami yang langsung membangkitkan selera siapa pun yang melintas. Di tangan Marni, seorang ibu rumah tangga berusia 42 tahun, kue tradisional Betawi itu menemukan bentuk barunya.
Selama bertahun-tahun, Marni hanya membuat kue pancong original—kelapa parut dan tepung beras yang dipanggang dalam cetakan setengah lingkaran. Namun pandemi mengubah segalanya. Pesanan menurun drastis, dan ia nyaris menyerah. Hingga suatu sore, tanpa sengaja ia mencampurkan sisa air rebusan daun pandan ke dalam adonan karena kehabisan air biasa. Keputusan tak terencana itu justru membuka pintu rezeki yang tak pernah ia bayangkan.
Dari Dapur Rumahan ke Meja Kafe Kekinian
Cerita bermula dari unggahan spontan putri sulung Marni di media sosial. Video berdurasi 30 detik yang menampilkan kue pancong berwarna hijau alami dari sari pandan itu mendadak ramai dibagikan. Dalam waktu kurang dari sepekan, lebih dari seratus ribu orang menyaksikan proses pembuatannya yang sederhana namun menggoda. Pesanan pun membanjiri telepon genggam Marni.
Awalnya ia ragu. Kue pancong hijau? Bukankah orang akan menganggapnya aneh? Keraguan itu sirna ketika seorang pemilik kafe kecil di Kemang menghubunginya untuk menjadi pemasok tetap. Kafe itu sedang mencari camilan tradisional dengan sentuhan modern yang bisa disajikan bersama kopi susu kekinian. Kue pancong pandan buatan Marni dinilai sempurna: rasa klasik yang membumi berpadu dengan tampilan Instagramable.
Sekarang, setiap harinya Marni bisa menghabiskan hingga lima kilogram tepung beras dan puluhan butir kelapa. Jumlah yang tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan masa sebelum pandemi. Ia bahkan sudah merekrut dua tetangganya untuk membantu produksi. Harga per bijinya memang naik sedikit, dari tiga ribu menjadi lima ribu rupiah, namun pelanggan tak pernah mengeluh. Justru banyak yang bilang, "Rasanya lebih mewah, tapi tetap terasa seperti pulang."
Rahasia Lembut di Balik Cetakan Besi
Ada yang membedakan kue pancong pandan dari versi aslinya selain warna hijau yang memikat. Menurut Marni, penggunaan santan segar yang dimasak terlebih dahulu adalah kunci kelembutan tekstur. Banyak pembuat kue pancong langsung mencampurkan santan mentah ke adonan, namun Marni memilih merebusnya hingga mendidih bersama selembar daun pandan dan sedikit garam. Proses ini, katanya, membuat rasa gurih kelapa lebih keluar dan adonan lebih stabil saat dipanggang.
Proses pemanggangan juga tidak bisa terburu-buru. Cetakan besi tradisional yang sudah berusia puluhan tahun—warisan dari ibunya—masih menjadi andalan. Cetakan modern antilengket memang lebih praktis, tetapi Marni bersikeras bahwa panas dari besi tuang memberikan aroma smokey yang khas dan kerak renyah di bagian luar yang tak bisa ditiru oleh peralatan modern. Setiap cetakan harus dipanaskan dengan api kecil selama lima belas menit sebelum adonan pertama dituang.
Tak kalah penting adalah kelapa parut muda yang menjadi isian. Marni hanya menggunakan kelapa yang baru diparut, maksimal tiga jam sebelum digunakan. Kelapa yang terlalu lama tersimpan akan mengeluarkan minyak dan membuat tekstur kue menjadi berminyak. Ia rela bangun pukul empat pagi setiap hari demi mendapatkan kelapa segar dari pasar tradisional terdekat.
Satu tips yang sering ia bagikan kepada pelanggan yang ingin mencoba membuat sendiri adalah soal takaran air pandan. "Jangan terlalu pekat, nanti pahit. Cukup lima lembar daun pandan untuk satu gelas air, blender, lalu saring. Warna hijaunya alami, aromanya juga pas, tidak menutupi rasa kelapanya," ujar Marni suatu siang sambil membalik cetakan berisi adonan yang mulai kecokelatan.
Napas Baru Kuliner Tradisional di Tengah Gempuran Modern
Fenomena kue pancong pandan sebenarnya bukan cerita tunggal. Di berbagai daerah, camilan-camilan lawas mulai mendapatkan interpretasi baru oleh generasi muda yang kreatif. Kue putu dengan warna-warni alami dari buah bit dan bunga telang, serabi dengan topping keju dan cokelat, atau klepon isi cokelat dan matcha. Semuanya menjawab kebutuhan pasar yang haus akan kebaruan tanpa kehilangan akar.
Yang menarik, para pembuat kue tradisional seperti Marni tidak merasa tersaingi oleh kehadiran dessert modern dari luar negeri. Justru sebaliknya, mereka melihat peluang kolaborasi dan adaptasi. Ketika banyak kafe menyajikan croissant dan cheese cake, justru di situlah letak keunikan kue-kue lokal. Tamu asing yang berkunjung ke kafe-kafe di Jakarta lebih tertarik mencicip sesuatu yang tidak mereka temukan di negara asal.
Bagi Marni sendiri, perjalanan dari kue pancong putih ke kue pancong pandan bukan semata soal warna atau tren. Ada makna lebih dalam yang ia pegang: bahwa tradisi tidak harus kaku untuk bisa bertahan. Tradisi bisa lentur, bisa berdialog dengan zaman, tanpa kehilangan jati dirinya. Setiap gigitan kue pancong pandannya tetap menghadirkan rasa kelapa dan tekstur legit yang sama seperti yang dulu dibuat oleh ibunya puluhan tahun silam. Hanya kini, ada tambahan cerita tentang keberanian mencoba dan ketidaksengajaan yang membawa berkah.
Ketika senja mulai turun dan dagangan hari itu habis terjual, Marni duduk di teras rumahnya sambil memandangi cetakan besi tuanya. Ia tersenyum. Dari benda itulah dimulai sebuah perubahan yang tak pernah ia rencanakan, namun kini menjadi sumber kehidupan bagi keluarganya dan dua tetangga yang bekerja bersamanya. Sebuah bukti bahwa inovasi terkecil sekalipun, jika berangkat dari ketulusan, bisa menciptakan gelombang yang jauh lebih besar dari yang dibayangkan.
Comments (0)