Di sebuah ruangan yang dipenuhi deretan kursi lipat dan mikrofon berbalut logo, Andovi Da Lopez duduk dengan tenang. Sorot lampu kamera mengarah ke wajahnya, tetapi tatapan matanya justru menerawang jauh, seolah sedang memanggil kembali ingatan-ingatan yang tak pernah benar-benar pergi. Selasa sore itu, di Jakarta, ia hadir bukan sebagai komedian yang biasa mengocok perut penonton, melainkan sebagai seorang aktor yang tengah menanggung beban cerita.
Film Bapak Paling Jujur menjadi jalan baru bagi Andovi. Ia mengisahkan bahwa peran ini bukan sekadar pekerjaan yang selesai saat sutradara berteriak "cut". Ada lapisan emosi yang harus ia bongkar dari dalam diri sendiri, sesuatu yang ia sebut sebagai "perjalanan pulang" menuju pemahaman tentang sosok ayah.
"Aku nggak pernah membayangkan bisa jatuh cinta pada sebuah karakter sedalam ini," ujarnya lirih, hampir berbisik. Ada getar kecil di ujung kalimatnya. "Setiap hari syuting, aku pulang dengan hati yang penuh."
Di Balik Pintu Kamar Syuting
Bagi Andovi, tantangan terbesar bukanlah menghafal dialog yang panjang atau mengatur blocking di depan kamera. Justru hal-hal kecil yang menyentuh, seperti bagaimana seorang ayah menatap anaknya tanpa banyak bicara, yang membuatnya berkali-kali harus menahan air mata di lokasi syuting.
Ia mengenang satu momen ketika ia harus memerankan adegan perpisahan. Kamera merekam dari jarak dekat, dan ia diminta tidak mengucapkan apa pun. Hanya diam. Hanya menatap. Namun justru dalam keheningan itulah ia merasa hancur.
"Aku menangis bukan karena akting. Aku menangis karena aku sadar, mungkin aku pernah jadi anak yang kurang mendengar bapakku sendiri."
Kalimat itu keluar tanpa direncanakan. Beberapa awak media yang hadir tampak terdiam. Ruangan yang tadinya ramai oleh suara kamera dan notifikasi ponsel berubah hening, seakan memberi ruang bagi Andovi untuk bernapas sejenak.
Kisah yang Mengubah Cara Pandang
Andovi mengisahkan bahwa naskah Bapak Paling Jujur pertama kali sampai di tangannya saat ia sedang berada di titik lelah dengan dunia hiburan. Ia merasa haus akan cerita yang tidak hanya menghibur, tetapi juga jujur. Ketika membaca skenario itu, ia merasa seperti sedang membaca halaman diary yang belum sempat ditulis.
"Aku tertawa, aku diam, lalu aku menangis. Semua dalam satu malam. Waktu itu aku tahu, ini bukan proyek biasa," ujarnya mengenang.
Proses pembacaan naskah yang mendalam membuat Andovi rela menghabiskan waktu berjam-jam berdiskusi dengan sutradara dan penulis. Ia ingin memastikan bahwa setiap emosi yang ia tampilkan bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, melainkan sesuatu yang berakar pada kenyataan hidup banyak orang.
Baginya, sosok bapak dalam film ini bukanlah pahlawan tanpa cela. Ia manusia biasa yang bisa salah, bisa rapuh, tetapi tetap berjuang dalam kesunyian. Justru kejujuran itulah yang membuat Andovi merasa terhubung.
"Banyak orang mengira bapak itu harus kuat terus. Padahal di balik layar, mereka juga butuh didengar."
Mimpi yang Ingin Ia Titipkan
Di penghujung pertemuan, Andovi mengaku tidak menaruh ekspektasi berlebihan pada angka atau penghargaan. Yang ia inginkan sederhana: agar penonton pulang dari bioskop dengan keinginan untuk memeluk ayah mereka, atau setidaknya menelepon dan bertanya kabar.
Ia berharap film ini menjadi cermin, bukan sekadar tontonan. "Kalau ada satu orang saja yang tergerak menelepon bapaknya setelah nonton, itu sudah cukup buat aku," ujarnya dengan senyum tipis yang menyimpan banyak cerita.
Ada momen mengharukan ketika ia menyebut ibunya. Andovi mengatakan bahwa ibunya adalah orang pertama yang ia hubungi setelah membaca naskah. Ibunya hanya mendengarkan, lalu berkata bahwa ia percaya Andovi bisa membawa cerita ini dengan jujur.
Hingga kini, kalimat itu ia simpan rapi di dalam hati, menjadi bahan bakar ketika rasa ragu datang di tengah proses kreatif yang panjang. Andovi Da Lopez memang tidak sedang berusaha menjadi sempurna. Ia hanya ingin menjadi jujur, sama seperti judul film yang ia perjuangkan.
Dari sebuah ruangan kecil penuh mikrofon di Jakarta, ia menitipkan satu pesan yang menyentuh: bahwa di balik setiap cerita tentang bapak, selalu ada anak yang merindukan pelukan, dan selalu ada cinta yang tak pernah selesai dibicarakan.
Comments (0)