Aug 25, 2026
entertainment

Zahra DA7 dan Eby Rizta: Dua Mimpi dalam Satu Nada

Ruang latihan berukuran 4x5 meter itu mendadak hening ketika Eby Rizta melangkah masuk. Di sudut ruangan, Zahra, gadis berusia 19 tahun yang baru saja mencuri perhatian publik lewat panggung D'Academy...

Zahra DA7 dan Eby Rizta: Dua Mimpi dalam Satu Nada

Ruang latihan berukuran 4x5 meter itu mendadak hening ketika Eby Rizta melangkah masuk. Di sudut ruangan, Zahra, gadis berusia 19 tahun yang baru saja mencuri perhatian publik lewat panggung D'Academy 7, menunduk, menekan dada yang berdebar tak karuan. Ia sudah lama mengagumi suara khas Eby, tetapi bertemu langsung, di ruangan sempit dengan satu kipas angin yang berputar pelan, terasa seperti mimpi yang tiba-tiba menjadi nyata. “Saya sempat tidak percaya. Ini orang yang suaranya saya dengarkan setiap malam, dan sekarang dia berdiri di depan saya,” ujar Zahra dengan mata berkaca-kaca. Sebuah kisah yang mengisahkan pertemuan dua penyanyi dari generasi berbeda, yang saling menemukan di tengah perjalanan mereka masing-masing.

Perjalanan Panjang dari Desa Kecil

Kisah Zahra tidak dimulai dari panggung megah, melainkan dari sebuah warung kecil tempat ia membantu ibunya berjualan setiap pagi. Di sela mencuci piring dan melayani pembeli, ia menyanyikan lagu-lagu dangdut untuk dirinya sendiri. Suaranya terdengar sederhana, tetapi siapa pun yang lewat berhenti sejenak untuk mendengarkan. “Banyak pelanggan bilang suara saya bagus, tapi saya hanya tertawa. Buat saya, itu cuma cara menghibur diri,” kenangnya sambil tersenyum.

Perjalanannya menuju panggung D'Academy 7 penuh air mata. Keluarganya awalnya tidak mampu membiayai perjalanan ke ibu kota. Zahra sempat hampir menyerah, tetapi sang ibu menjual perhiasan satu-satunya yang ia miliki demi mimpi sang anak. Momen itu, kata Zahra, tidak akan pernah bisa ia lupakan. “Ibu bilang, kalau bukan sekarang, kapan lagi? Saya menangis sepanjang jalan ke stasiun. Saya berjanji dalam hati, apa pun hasilnya, saya harus bangkit dan membuat ibu bangga,” tuturnya.

Eby Rizta, Senior yang Menyapa dengan Lembut

Eby Rizta mengakui, ia jatuh hati pada warna suara Zahra sejak pertama kali menonton penampilannya. Bagi pelantun tembang populer yang namanya melesat di industri musik dangdut itu, Zahra mengingatkannya pada dirinya sendiri di masa-masa sulit: seorang anak muda yang berjuang mati-matian membuktikan bahwa mimpi tidak pernah salah alamat. Kehadiran Eby pun menjadi inspirasi besar bagi gadis yang selama ini hanya berlatih di kamar sempitnya itu.

Kolaborasi keduanya lahir dari pertemuan sederhana itu. “Saya tidak sedang mencari artis. Saya sedang melihat anak yang serius dengan musiknya. Ketika dia menyanyikan lagu saya di depan saya, saya merinding. Itu momen yang menyentuh,” kata Eby. Di balik layar, ia memberikan banyak pelajaran: mulai dari teknik pernapasan, penghayatan, hingga keberanian untuk tampil apa adanya. “Zahra tidak perlu menjadi orang lain. Cukup jadi dirinya, dan biarkan suaranya berbicara,” pesan Eby.

Momen Mengharukan di Balik Layar

Salah satu momen paling mengharukan terjadi di sela sesi rekaman. Saat mendengar Zahra menyanyikan bagian paling emosional dari lagu mereka, Eby tiba-tiba berhenti, menurunkan earphone, dan bertepuk tangan perlahan. “Saya kira dia hanya akan menyanyikannya dengan bagus, ternyata dia menyanyikannya dengan perasaan. Sampai saya lupa bahwa saya sedang bekerja. Saya hanya ingin mendengarkan,” kenang Eby.

Zahra sendiri mengaku hampir tidak bisa menyelesaikan lagu itu karena menangis. “Liriknya seperti menceritakan hidup saya sendiri. Semua perjuangan, semua air mata yang saya simpan, tiba-tiba keluar lewat lagu itu. Saya tidak bisa menghentikannya,” katanya dengan suara bergetar. Di ruangan itu, kata orang-orang yang hadir, tidak ada satu pun yang bisa menahan haru.

Harapan yang Kini Bersemi

Kini, setelah perjalanan panjang yang penuh liku, Zahra berdiri sedikit lebih tegak. Ia tidak lagi hanya gadis di warung kecil yang bernyanyi untuk dirinya sendiri. Ia belajar bahwa keberanian untuk bermimpi, ditambah kerja keras yang sederhana dan tekun, bisa membawanya jauh. “Saya tidak tahu seberapa jauh langkah saya, tetapi saya tahu saya sudah mulai berjalan,” ujarnya.

Bagi Eby, kebahagiaan terbesar bukan pada angka atau tangga lagu, melainkan pada melihat generasi baru tumbuh. “Ketika saya melihat Zahra tumbuh, saya seperti melihat masa depan musik kita. Saya hanya berharap dia selalu ingat untuk tetap rendah hati, karena itu yang membuat sebuah bakat bertahan lama,” pesannya.

Dari ruang latihan kecil itu, sebuah kisah baru mulai ditulis. Dua orang dari jalan hidup yang berbeda bertemu dalam satu nada, dan mengingatkan kita bahwa mimpi, sekecil apa pun, selalu layak untuk diperjuangkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User