Aug 25, 2026
entertainment

Yukie PAS Band Berjuang Pulih Usai Kecelakaan, Semangat Musisi Tak Padam

Di sudut ruang rawat berwarna putih yang bercahaya redup, seorang pria berambut gondrong terbaring tenang. Tangan kirinya terhubung dengan selang infus tipis, sementara di meja samping tempat tidur, s...

Yukie PAS Band Berjuang Pulih Usai Kecelakaan, Semangat Musisi Tak Padam

Di sudut ruang rawat berwarna putih yang bercahaya redup, seorang pria berambut gondrong terbaring tenang. Tangan kirinya terhubung dengan selang infus tipis, sementara di meja samping tempat tidur, sebuah bass elektrik berwarna hitam tua tergeletak tak berdaya—seolah ikut meratapi nasib sang pemilik. Yukie, sang bassist yang selama lebih dari tiga dekade menggebrak panggung bersama PAS Band, kini harus beristirahat dari rutinitasnya yang selalu dikejar waktu. Kecelakaan yang menimpanya beberapa waktu lalu tak hanya menghentikan langkah kakinya untuk sementara, tetapi juga membuka lembaran baru tentang arti perjuangan seorang musisi di balik gemerlap panggung.

Kisah ini bukan sekadar tentang tabrakan dan luka. Ini adalah cerita tentang bagaimana seorang pria sederhana yang tumbuh dari komunitas musik jalanan Bandung harus kembali belajar menerima keterbatasan tubuhnya. Di ranjang rumah sakit yang berukuran sempit, Yukie tak banyak berkata. Namun dari matanya yang sayu, terbaca ribuan kata tentang kerinduan untuk kembali memetik senar bass di depan ribuan penonton yang bersorak.

Momen Mengharukan di Balik Dinding Rumah Sakit

Ruangan berukuran 3x4 meter itu menjadi saksi bisu dari perjuangan yang tak pernah dilihat penggemar. Di balik layar konser-konser megah dan album-album legendaris, ternyata hidup seorang musisi rock juga rapuh. Sandy, rekan sebandnya yang telah bersamanya sejak masa-masa sulit di awal karier, kerap datang membawa secangkir kopi hangat dan senyum yang mencoba menenangkan. Mereka tak banyak membahas setlist atau jadwal manggung. Yang ada hanya obrolan sederhana tentang kondisi jalanan Bandung, tentang anak-anak, dan tentang harapan.

"Lihat bass gue yang di samping meja? Gue masih bisa denger bunyi dentingannya di kepala. Itu tandanya, mimpi gue belum selesai," ujar Yukie dengan suara parau yang diiringi senyum getir.

Kutipan itu menyentuh hati setiap orang yang hadir. Ada air mata yang tertahan di pelupuk mata sang istri ketika mendengar suami itu berbicara tentang passion yang tak pernah padam meski tubuhnya terbaring lemah. Momen mengharukan itu mengingatkan kita semua bahwa di balik persona keras seorang rocker, tersimpan hati seorang pria rumahan yang hanya ingin kembali pulih demi keluarga dan penggemar setianya.

Perjalanan Panjang yang Tak Selalu Indah

Yukie bukan nama yang tiba-tiba muncul dari ketiadaan. Perjalanannya di dunia musik Indonesia adalah buah dari kerja keras tanpa jeda. Sejak bergabung dengan PAS Band pada era 1990-an, ia menyaksikan sendiri bagaimana industri musik bangkit dan terpuruk bergantian. Dari manggung di panggung sederhana dengan sound system seadanya, hingga meraih penghargaan bergengsi, semua dilalui dengan tekad yang menggigit.

Namun kecelakaan ini adalah pengingat bahwa tubuh manusia punya batas. Setelah bertahun-tahun berjuang mengejar mimpi, kini ia harus berjuang untuk sekadar berjalan normal kembali. Fisioterapi yang menyakitkan, obat-obatan yang pahit, dan rasa frustrasi ketika tangan tak kunjung kuat seperti dulu, adalah medan perang baru yang harus ia taklukkan. Di titik inilah inspirasi sesungguhnya lahir—bukan dari panggung yang gemerlap, tetapi dari keberanian menghadapi hari-hari kelabu di rumah sakit.

"Gue pernah main bass sambil berdiri tujuh jam nonstop di atas panggung. Sekarang, berdiri tujuh menit aja rasanya kayak naik gunung. Tapi gue inget, dulu gue juga mulai dari nol," tuturnya sambil menatap jendela yang memperlihatkan pepohonan rindang di halaman rumah sakit. Kata-katanya sederhana, namun di dalamnya tersimpan kekuatan luar biasa tentang proses bangkit dari titik terendah.

Bangkit dengan Cinta dan Dukungan

Tak ada yang lebih menyentuh selain melihat solidaritas sesama insan. Para personel PAS Band yang biasanya sibuk dengan proyek masing-masing, kini bergantian menjaga di rumah sakit. Fans dari berbagai penjuru Tanah Air mengirimkan doa dan bunga melalui pesan daring. Semua itu menjadi energi bagi Yukie untuk segera pulih. Ia menyadari bahwa musik yang selama ini ia ciptakan bukan hanya miliknya, tetapi juga milik ribuan jiwa yang terobati oleh setiap nadanya.

"Setiap pesan yang masuk itu kayak senar bass yang terus memanggil gue untuk bangkit. Gue nggak bisa ninggalin mereka begitu saja," katanya dengan mata berkaca-kaca.

Dalam kondisi yang rapuh, justru terlihat jelas sosok pejuang sejati. Yukie tidak bermuram durja atau menyerah pada takdir. Ia memilih untuk melihat kecelakaan ini sebagai babak baru dalam hidupnya—sebuah babak yang mengisahkan tentang kekuatan keluarga, persahabatan, dan cinta pada musik yang tak kenal lelah. Dari tempat tidur rumah sakit, ia kembali menemukan makna sederhana dari hidup: bahwa kesehatan, kehadiran orang-orang tercinta, dan kesempatan untuk bermimpi lagi adalah anugerah terbesar.

Meski masih harus menjalani serangkaian perawatan intensif, tekadnya untuk kembali ke panggung tak pernah surut. Bass-nya masih menunggu di sudut ruangan, dan Yukie percaya, suatu hari nanti ia akan kembali membawanya—bukan untuk membuktikan sesuatu pada dunia, tetapi untuk memenuhi janji pada dirinya sendiri bahwa setiap mimpi yang diperjuangkan dengan tulus akan menemukan jalannya kembali. Dan hingga saat itu tiba, ia akan terus berjuang, satu nafas demi satu nafas, menuju hari di mana dentuman bass kembali menggema.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User