Malam sudah larut ketika Yosep Anggi Noen menutup halaman terakhir novel Laut Bercerita. Di ruang kerjanya yang sederhana, hanya ditemani cahaya lampu meja, ia terdiam cukup lama. Suara Biru Laut—pemuda aktivis yang menjadi jantung kisah karya Leila S. Chudori—masih terngiang di kepalanya, seolah menolak untuk pergi. Dari keheningan itulah sebuah perjalanan panjang dimulai: mengisahkan ulang novel yang begitu menyentuh hati ribuan pembaca itu ke layar lebar.
Adaptasi sastra ke film tidak pernah mudah, apalagi ketika bahan yang dihadapi adalah karya yang telah menjadi bagian dari kenangan literasi banyak orang. Yosep mengaku harus berjuang menemukan bahasa sinema yang setara dengan kekuatan tulisan Leila. Baginya, film bukanlah salinan, melainkan wujud penghormatan yang baru atas sebuah kisah.
“Saya ingat betul perasaan saya saat menyelesaikan novel ini. Ada sesuatu yang bergetar, seperti dipanggil oleh suara dari laut. Sejak saat itu saya tahu, kisah ini harus hidup kembali dalam bentuk lain.”
Dari Halaman Menuju Layar
Pertemuan pertama Yosep dengan dunia Biru Laut meninggalkan kesan yang sulit dilupakan. Ia menghabiskan berhari-hari membaca ulang novel itu, menandai halaman-halaman yang paling mengharukan, lalu mencatatnya dalam buku catatan tebal yang kini penuh coretan. Bersama Leila S. Chudori, ia duduk berjam-jam dalam diskusi panjang—mengurai motivasi tokoh, menggali detail kecil yang mungkin luput dari perhatian, hingga berdebat hangat soal adegan mana yang wajib hadir di layar.
Bagi Yosep, proses tersebut ibarat menelusuri rumah yang sudah dikenalnya, namun harus dipasangi lampu-lampu baru agar setiap sudutnya terlihat berbeda. “Leila memberi saya kebebasan, tapi juga tanggung jawab besar. Novel ini punya jutaan pembaca yang menyayangi Biru Laut. Saya tidak boleh mengkhianati mereka,” katanya.
Menerjemahkan Bisik Batin ke Bahasa Gambar
Tantangan terbesar, menurutnya, terletak pada cara novel itu ditulis. Narasi orang pertama membuat pembaca diajak masuk jauh ke alam bawah sadar Biru Laut—ketakutannya, kerinduannya pada keluarga, hingga doa-doa kecilnya di ruang yang sempit. Di layar, semua itu tidak bisa sekadar dibacakan. Semua harus dirasakan.
“Bagaimana membuat penonton ikut merasakan detak jantung Biru Laut tanpa ia harus bicara panjang lebar? Itu pekerjaan yang menguras tenaga, tapi justru di situlah letak serunya.”
Di balik layar, Yosep memilih pendekatan yang intim dan manusiawi. Alih-alih mengandalkan dialog panjang, ia menitikberatkan ekspresi, keheningan, dan detail-detail kecil yang sarat makna—sebuah gelas teh yang sudah dingin, surat yang belum selesai ditulis, atau tatapan seorang adik yang menunggu kakaknya pulang. Momen-momen sederhana itulah, kata dia, yang paling mampu menggugah air mata.
Laut yang Diam-Diam Menyimpan Cerita
Ada alasan kuat mengapa judul “Laut Bercerita” terasa begitu tepat. Inspirasi kisah ini lahir dari peristiwa nyata di negeri sendiri—momen kelam ketika sejumlah anak muda menghilang tanpa jejak, meninggalkan keluarga yang terus menunggu jawaban. Laut dalam cerita ini bukan sekadar latar, melainkan saksi bisu yang menyimpan kenangan mereka yang tak pernah kembali.
Karena itu, bagi Yosep, film ini bukan sekadar proyek seni. Ia adalah amanah. “Cerita ini bukan hanya tentang masa lalu. Ini tentang para ibu, ayah, dan adik-adik yang sampai hari ini masih menunggu. Kalau film kami bisa membuat satu orang saja ikut mendengarkan, itu sudah lebih dari cukup,” ujarnya dengan suara pelan namun mantap.
Perjalanan menghadirkan Laut Bercerita ke layar lebar masih terus berjalan, dan Yosep menyadari jalan di depan tidak selalu mulus. Namun setiap kali merasa lelah, ia kembali pada momen pertama membaca novel itu—momen ketika ia menutup buku dengan mata berkaca-kaca, lalu bangkit dengan satu mimpi yang sama: agar kisah Biru Laut terus bercerita, dari generasi ke generasi, dari halaman menuju layar, dari hati ke hati.
Comments (0)