Pagi itu, cahaya matahari menembus kaca-kaca tinggi ASTHA District 8, lalu jatuh perlahan di atas sehelai kain tenun yang digantung dengan penuh kehati-hatian. Wilsen Willim berdiri mematung di hadapannya. Jemarinya menyentuh ujung kain itu sebentar, sebelum ia tersenyum kecil—seolah sedang menyapa kawan lama yang baru saja pulang dari perjalanan panjang. "Setiap benang punya cerita. Tugas saya cuma satu: membuat orang mau mendengarkannya," ujarnya pelan, hampir seperti berbisik.
Momen sederhana itulah yang menjadi pembuka pameran "Heritage Reimagined", persembahan kolaborasi Wilsen Willim X ASTHA District 8 yang akan berlangsung pada 6 hingga 30 Agustus 2026. Lebih dari sekadar pameran, ia adalah sebuah perjalanan pulang—tentang warisan yang hampir dilupakan, tangan-tangan yang tak pernah lelah, dan mimpi seorang perancang untuk mempertemukan masa lalu dengan masa kini.
Perjalanan yang Berawal dari Rumah
Wilsen mengisahkan, kecintaannya pada warisan budaya tidak lahir di sekolah mode atau di panggung peragaan yang gemerlap. Ia justru menemukannya di rumah, di antara tumpukan kain lama milik sang ibu yang disimpan bertahun-tahun di dalam lemari kayu. Setiap kali lemari itu dibuka, ada aroma khas yang keluar—aroma waktu, kenangan, dan ketekunan.
"Ibu saya selalu bilang, kain itu bukan sekadar kain. Ada doa yang ditenun di dalamnya. Dulu saya tidak paham. Sekarang, kalimat itulah yang membuat saya bertahan," kenang Wilsen dengan mata berkaca-kaca.
Perjalanan itu tidak selalu mulus. Ada masa ketika karyanya dianggap terlalu tradisional untuk pasar modern, terlalu sunyi untuk dunia yang serba cepat. Namun ia memilih berjuang, meyakini bahwa warisan bukanlah beban yang memberatkan langkah, melainkan akar yang membuatnya berdiri tegak. Dari keyakinan sederhana itu, perlahan karyanya menemukan jalannya—hingga akhirnya tiba di jantung Jakarta, di Distrik 8.
Di Balik Layar: Tangan-Tangan yang Tak Pernah Lelah
Di balik setiap helai karya yang dipamerkan, ada kisah mengharukan tentang para perajin dari berbagai daerah. Mereka adalah para penenun yang bekerja di ruang-ruang kecil, dengan alat sederhana, mewarisi keterampilan dari orang tua dan kakek nenek mereka. Sebagian bahkan harus berjuang melawan waktu, karena regenerasi di kalangan perajin kian menipis.
Wilsen menuturkan, ada satu momen yang tak pernah bisa ia lupakan: ketika seorang penenun tua menitikkan air mata saat melihat kain buatannya tampil dalam balutan karya modern. "Beliau memegang kain itu seperti memegang anaknya sendiri," katanya.
"Beliau bilang, 'Saya kira kain ini akan berhenti di saya. Ternyata dia bisa berjalan lebih jauh.' Saat itu saya sadar, pameran ini bukan tentang saya. Ini tentang mereka yang bangkit dan bertahan dalam diam."
Sebuah Undangan untuk Pulang
"Heritage Reimagined" menata warisan dengan bahasa yang dekat dengan generasi muda. Ruang pamer dirancang hangat dan terbuka, mengajak pengunjung tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan—menyentuh tekstur, membaca kisah di balik setiap karya, dan memahami bahwa tradisi bisa hidup berdampingan dengan gaya hidup modern.
Bagi ASTHA District 8, kolaborasi ini adalah cara merawat ruang publik agar tidak sekadar menjadi tempat berlalu-lalang, melainkan rumah bagi cerita-cerita yang menyentuh. Bagi Wilsen, ini adalah mimpi yang menemukan panggungnya—sekaligus titik awal untuk mimpi-mimpi berikutnya.
"Warisan itu bukan sesuatu yang kita simpan di museum lalu kita kunjungi setahun sekali. Warisan itu sesuatu yang kita pakai, kita rayakan, kita teruskan. Kalau anak muda bisa bangga memakainya, di situlah dia hidup," tutur Wilsen.
Ketika lampu-lampu galeri mulai dinyalakan sore itu, Wilsen kembali berdiri di depan kain tenun yang sama. Kali ini, di sekelilingnya, pengunjung mulai berdatangan—ada pasangan muda, ada ibu yang menggandeng anaknya, ada perajin yang datang jauh-jauh dari kampung halaman. Dan di wajah mereka tersirat hal yang sama: bahwa warisan, betapa pun tuanya, selalu punya cara untuk kembali—menyentuh, menghangatkan, dan mengingatkan kita dari mana kita berasal.
Comments (0)